"Genta, apa kamu sudah gila?!" teriak Gempita begitu jelas di telinga Genta. Perempuan itu langsung lemas seketika mendapati apa yang di luar dugaan. Bahkan, dia hampir menangis dibuatnya.
Bagaimana tidak, Genta sangatlah aneh. Dia mengirimkan pesan ke nomor kekasihnya yang sudah meninggal. Tentu saja membuat Gempita terkejut.
Gempita bak tersambar petir mengetahui kondisi Genta yang ternyata di luar dugaan. Benar-benar tidak terpikirkan sebelumnya bahwasanya Genta akan berbuat seperti itu. Gempita sangat khawatir dengan lelaki yang rupanya jiwanya benar-benar terguncang hingga akhirnya hal bodoh dilakukannya.
Hai, Tamara, aku merindukanmu....
Aku akan datang menemuimu besok, tunggu aku ya....
Tamara aku rindu, datanglah ke mimpiku...
Tamara, kamu sangat cantik....
Kembalilah untukku....
Hari ini pekerjaanku sangat banyak, nanti sore datanglah ke rumah dan pijat tubuhku. Aku merindukan pijatanmu....
Tamara, ayo pergi ke streetfood. Aku akan mentraktirmu makan, hari ini aku gajian dan bonusku banyak....
I Love you Tamara....
Selamat malam....
Selamat pagi....
Selamat siang....
Begitulah beberapa pesan yang Genta kirimkan kepada nomor yang sudah lama tidak aktif karena pemiliknya telah tiada. Tertera jelas nama Tamara di sana, orang yang memang sudah tiada—pergi menghadap Tuhan. Tentu tidak akan ada balasan untuk Genta, tapi lelaki itu tiada hentinya mengirimkan pesan. Semacam orang bodoh saja. Ini tidak bisa dibiarkan supaya tidak berlanjut.
Genta terdiam ketika Gempita merampas ponselnya. Genta tidak marah atau apa pada Gempita. Dia terduduk lemas dengan tatapan sayu. Tidak sanggup lagi, dirinya benar-benar tidak bisa melupakan Tamara.
Sementara Gempita malah terlihat takut menatap Genta. Dia tidak menyangka bahwa Genta seperti itu. Gempita sangat kasihan padanya.
"Genta... Dia sudah meninggal...." Gempita berkata getir. Dia benar-benar terkejut mendapati kelakuan Genta yang sangat memprihatinkan ini. Dia bahkan sampai menitikkan air matanya. Ah, ini sangatlah menyedihkan.
"Dia belum meninggal, dia tetap bersamaku..." sahut Genta dengan tatapan yang masih sayu.
Gempita jadi terisak pilu, dia larut dengan kesedihan Genta. Dia bingung harus bagaimana memberitahu Genta supaya sadar sepenuhnya bahwa kelakuannya itu benar-benar salah.
Dia kemudian memeluk lelaki yang duduk itu—berusaha memberinya ketenangan. Dan yang ada Genta malah semakin menjadi-jadi. Dia terisak pilu. Pun dengan Gempita yang masih tidak menyangka dengan Genta.
Siang itu terasa sendu. Dua orang yang biasanya berkutat dengan pekerjaan, melupakan rutinitas sejenak. Mereka larut dengan suasana yang semakin sendu. Keduanya masih membiarkan suasana asing itu memenuhi siang mereka. Suasana seperti biasa sulit tercipta lagi.
Genta terisak dalam dekapan Gempita yang juga masih terisak. Gempita takut jika Genta semakin menjadi-jadi, dia harus menghentikannya supaya jiwa Genta tidak semakin terganggu.
"Aku merindukan Tamara. Aku tidak bisa melupakannya...."
"Aku menginginkan dia kembali!"
Sangat menyedihkan. Ini benar-benar di luar dugaan. Kondisi mental Genta ternyata terancam. Gempita harus segera membantunya supaya Genta tak lagi seperti itu. Tapi dia tidak tahu harus bagaimana. Nampaknya Genta terlalu jauh jatuh dalam kesedihannya hingga sulit mengabaikan hal memilukan itu. Akan sulit mengembalikan Genta ke sedia kala. Tapi Gempita yakin bahwa Genta akan tetap bisa kembali.
"Genta, kamu tidak perlu melupakannya. Cukup simpan dia dalam hatimu. Jika kalian dipisahkan di dunia ini, mungkin Tuhan akan mempertemukan di akhirat nanti," seru Gempita. Dia mengulang kembali perkataan yang sebenarnya telah dikatakannya pada pertama kali dirinya melihat Genta terpuruk rapuh. Hanya itu yang mampu dikatakan Gempita, karena pada dasarnya Genta sangat memerlukan pukulan dengan kata-kata.
"Kalau begitu bunuh aku! Biar aku bisa segera bertemu dengan Tamara!" Genta berteriak memegang kedua bahu Gempita dan mengguncangnya. Dia sudah kehabisan akal lagi jika sudah menyangkut kekasihnya yang telah tiada.
Genta seolah ingin segera mengakhiri kehidupannya. Dia tak sanggup lagi meskipun dirinya juga tahu bahwa masih ada orang sekitar yang juga teramat menyayangi dirinya. Namun tetap saja, dia hanya menginginkan kekasihnya yang telah tiada. Cinta mati benar-benar membutakan Genta. Lelaki itu sungguh mencintai kekasihnya hingga sulit melupakan segalanya.
"Genta.... Genta dengarkan aku... Jangan bertingkah konyol dan gila seperti ini. Berhenti mengirimkan pesan kepadanya, ayo kembalilah menjadi Genta yang kukenal. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua."
Gempita menangkup wajah Genta, dia pun seraya mengusap air mata yang membasahi wajah tampan yang biasanya hanya menyiratkan kesan dingin saja. Namun kali ini Genta benar-benar lain, wajahnya merah dan penuh air mata kesedihan.
"Aku tidak bisa, Gempita... Tidak bisa...." Isakan Genta semakin terdengar keras. Lelaki itu mencengkeram kepalanya dan sesekali membenturkannya ke tembok. Entah sulit sekali untuk kembali ke dirinya yang dulu. Bahkan mungkin tidak akan terjadi.
"Genta, aku akan membantumu. Jangan seperti ini!"
Perempuan itu kembali memeluk Genta dan berusaha menenangkannya supaya tidak mengamuk. Dia mengusap kepala Genta dengan pelan. Dan akhirnya lambat laun Genta terdiam dari isakannya. Dia pun membalas pelukan Gempita yang cukup nyaman baginya.
Genta sesekali terisak dalam pelukan Gempita. Dia kembali rapuh. Namun, dia juga menyadari bahwa dirinya terlalu jauh dalam kesedihannya sampai hal tidak masuk akal dilakukannya.
Cukup lama Gempita membiarkan Genta memeluk dirinya dan menumpahkan segala tangisnya. Gempita hanya ingin Genta tidak terpuruk lagi. Dia ingin Genta lekas sadar. Gempita kembali memberikan nasihat untuk Genta.
"Tamara justru akan sedih jika melihatmu seperti ini. Harusnya kamu bisa mengikhlaskannya pergi." Gempita berkata demikian dengan harapan Genta kali ini mendengarnya dan memahaminya dengan baik.
Genta sudah mulai tenang. Dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Gempita. Dia diam dan mencoba memahaminya dengan baik. Gempita selalu menamparnya dengan untaian kalimat yang tersusun dari kata-kata pilihan.
Ya, benar. Tamara akan sedih jika melihat dirinya rapuh terus menerus. Dia harus bisa membuat dirinya kuat meskipun tanpa Tamara. Genta mengikhlaskan kepergian Tamara. Insyaallah ikhlas. Genta masih harus menjalani hidupnya meskipun tidak sama seperti dulu. Genta tetap harus semangat dan kuat. Dia tidak boleh lagi terpuruk dengan keadaan yang memilukan ini.
Genta mulai menanamkan keihklasan pada dirinya. Dia harus benar-benar bisa melupakan kesedihannya. Dia harus menyadari bahwa dia layak untuk keluar dari zona memilukan itu.
"Genta... Kita harus bisa mengikhlaskan kepergian seseorang. Kita harus tetap kuat dan semangat menjalani kehidupan ini."
"Aku ikhlas...." Genta tersenyum getir berkata seperti itu kepada Gempita. Dia menatap Gempita dengan penuh kesungguhan. Entah kenapa rasanya dirinya begitu percaya sepenuhnya dengan perkataan Gempita, dia seolah terhipnotis dan akan mendengar serta menjalankan semua petuah dari perempuan itu.
Genta memandang Gempita yang matanya juga merah, perempuan itu menangisi dirinya. Genta jadi malu karena kesedihannya merambah ke orang lain. Orang terdekatnya benar-benar sedih ketika dirinya sedih.
"Jangan nangis lagi, Genta. Masa iya arsitek hebat sepertimu menangis," ledek Gempita. Dia lalu mengusap air mata yang masih membasahi pipi Genta, dan karena gemas dia pun mencubitnya. Gempita tersenyum, dia berusaha mengajak Genta tersenyum pula. Namun, tidak bisa, Genta masih kesulitan untuk tersenyum karena apa yang telah terjadi. Gempita memaklumi. Toh, selama ini Genta sendiri juga jarang tersenyum.
"Baiklah, kalau tidak mau dikatakan jelek maka jangan menangis lagi! Okay?" Gempita berkata seperti itu karena sepertinya Genta tidak terima dibilang jelek. Ah, Genta memang tidak jelek sebenarnya. Gempita hanya berusaha menenangkannya.
"Terima kasih...."
Genta mengambil ponselnya. Pesan kepada nomor Tamara diarsipkan. Genta tak akan mengirimkan pesan konyol lagi kepada nomor itu. Dia juga berjanji tidak akan mengingat semuanya, karena itu hanya akan membuatnya sakit. Cukup simpan dalam memorinya, tak perlu diotak-atik lagi.
Sama seperti yang Gempita katakan, melupakan memang sulit. Genta tidak perlu melupakan, dia hanya perlu untuk menyimpannya.
"Biarkan aku memelukmu lagi," ujar Genta kepada perempuan yang masih duduk di sampingnya.
Tentu saja hal itu membuat Gempita melotot, tidak disangka Genta akan berkata demikian. Tidak mungkin juga menolaknya, Gempita langsung mengangguk meski dirinya sendiri masih agak kebingungan.
Genta langsung memeluk perempuan itu. Sangat erat membuat Gempita kembali terhenyak. Beberapa saat kemudian Gempita membalas pelukan Genta. Dia sembari mengusap kepala Genta dengan lembut. Gempita sangat senang dengan kelakuan Genta kali ini.
Lelaki itu nampaknya semakin merasa tenang. Dia terlelap di pelukan Gempita yang baginya memang sangat nyaman. Selain itu usai menangis juga memang membuatnya mudah terlelap.
"Kamu tidur, Genta?" Gempita terkikik gemas karena hembusan napas Genta teratur dan lembut pertanda lelaki itu memang tertidur dalam dekapannya.
Gempita mencoba memastikan, ternyata benar bahwasanya Genta memang tidur. Perempuan itu memposisikan Genta supaya lebih nyaman lagi tidurnya. Dia menjadikan pahanya sebagai bantal Genta.
Dengan begitu Gempita jadi leluasa memandangi wajah Genta dari jarak dekat pula. Dia meraba dan mengabsen seluruh bagian wajah Genta yang hampir sempurna. Genta memang tampan. Hanya saja sikapnya dingin. Tapi itu merupakan hal yang wajar.
"Genta... Sepertinya aku memang jatuh hati padamu...." lirih Gempita. Tangannya masih mengusap kepala Genta bermaksud semakin memberikannya ketenangan supaya lebih nyenyak pula tidurnya.
"Tapi aku harus menguburnya karena aku sadar diri bahwa hatimu memang masih tertutup. Tidak apa, biarkan saja rasa ini. Tidak perlu khawatir, aku pandai memendamnya..." ujar Gempita lagi.
Dia tersenyum sendu. Lambat laun matanya pun terpejam karena rasa kantuk. Dia tertidur. Sama seperti Genta yang terlebih dahulu mengarungi mimpi. Tidak peduli lagi dengan pekerjaan. Gempita dan Genta nampaknya ingin bersantai untuk hari ini setelah apa yang terjadi memang sudah cukup membuat lelah.
Namun ternyata Genta belum benar-benar tertidur. Dia baru memejamkan matanya. Dengan demikian seluruh perkataan Gempita tadi didengar dengan jelas olehnya. Genta jadi bingung harus bagaimana menyikapinya. Ini juga di luar dugaannya.
Genta lantas melirik ke atas wajah perempuan yang tertidur pulas meski posisinya kurang nyaman— duduk di sofa dengan paha yang dijadikan bantal oleh Genta. Meski tahu perempuan itu pasti tidak nyaman, Genta tetap tidak ingin berpindah. Dia masih ingin berbaring dengan beralaskan paha perempuan yang terlihat tenang ketika tidur.
Tangan Gempita yang tadi mengusap kepala Genta terhenti, belum berpindah dari tempatnya. Genta tidak ingin menjauhkan tangan Gempita darinya. Dia malah mengubah posisinya. Tangan Gempita diletakkan di atas dadanya. Dia usap tangan itu lembut. Dan Genta tersenyum.
"Tidak perlu menghilangkan rasamu padaku, Gempita. Biarkan saja bersemi. Aku akan berusaha membuka hati lagi, dan kupastikan kamu yang menjadi pengisinya."
Antara senang dan sedih Genta saat ini. Dia merasa senang karena ternyata ada yang mencintainya. Namun, dia juga merasa sedih karena kesulitan membalas perasaan itu. Genta akan berusaha membalas perasaan yang tulus dari perempuan yang selalu dekat dengannya.
"Terima kasih. Tunggulah sejenak, aku akan berusaha membalas perasaanmu padaku...."
Tangan Gempita yang masih berada di dadanya dia usap kembali. Tenang sekali rasanya. Yang dibutuhkan Genta saat dirinya terpuruk rapuh memang hanya pelukan dan perhatian dari orang sekitarnya. Dan kali ini dia kembali mendapatkannya dari Gempita. Perempuan yang tiba-tiba saja hadir dalam hidupnya. Dan tiba-tiba pula memiliki rasa padanya.
Tak lama kemudian Genta benar-benar tertidur. Dia tidur cukup lama, namun terlebih dahulu bangun dibanding Gempita. Dia kemudian melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul empat sore.
Genta akhirnya bangun. Dia jadi kasihan dengan Gempita yang pasti kelelahan. Genta kemudian berencana untuk membaringkan tubuh perempuan itu di sofa. Namun, baru saja memposisikan kaki Gempita, perempuan itu langsung membuka matanya.
"Genta, kamu mau ngapain aku?" teriak Gempita. Dia panik saat Genta memegang kakinya. Gempita langsung bangun dan duduk, takut jika Genta berbuat buruk padanya.
"Mau membaringkanmu biar lebih nyaman lagi tidurnya," jawab Genta ketus. Dia kemudian keluar dari ruangannya hendak ke kamar mandi membasuh wajahnya. Dia juga salah tingkah karena ketahuan menaruh perhatian pada Gempita.
Gempita terhenyak. Ternyata Genta hanya ingin berbuat baik padanya. Huft, dia harusnya tidak berpikiran buruk. Gempita kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi juga. Dia melirik Genta yang ternyata membasuh wajahnya. Gempita langsung masuk ke kamar mandi perempuan. Selain hendak membasuh muka, dia juga ingin buang air kecil.
Genta dan Gempita selesai bersamaan. Mereka berpapasan di depan kamar mandi. Mereka memasang wajah canggung. Nampaknya keduanya menyadari atas apa yang terjadi tadi.
"Jangan beritahu siapa-siapa kalau aku menangis tadi," bisik Genta seraya menyenggol bahu Gempita. Dia berkata malu-malu membuat Gempita gemas dan terkikik geli. Genta seperti anak kecil.
"Kenapa memangnya? Bukankah menangis itu wajar? Menangis bisa terjadi oleh siapa saja, termasuk seorang arsitek yang terkenal dingin," sahut Gempita menahan tawanya menyaksikan wajah Genta yang memerah. Merah bukan karena menahan marah, tetapi malu. Ya, Gempita tahu bagaimana Genta.
"Awas saja kalau sampai yang lain tahu. Aku tidak akan memberi ampun padamu!"
"Wahhh, aku jadi takut," goda Gempita.
Genta mempercepat langkahnya karena tidak mau lagi menjadi bahan ledekan Gempita, meskipun dirinya sendiri juga sebenarnya tahu bahwa Gempita hanya menggoda.
Gempita semakin gemas, dia mempercepat langkahnya ingin menggoda Genta lagi. Dia menyejajarkan langkahnya dengan langkah Genta.
"Genta... Bagaimana kalau aku membuat status di media sosial? Biar yang lain juga tahu kalau laki-laki dingin sepertimu bisa menangis," ucap Gempita menggoda. Dia segera mengambil ponselnya supaya Genta semakin cemas padanya.
Dan benar saja, Genta langsung mengambil ponsel Gempita. Dia menyimpan ponsel Gempita di sakunya lalu berkata, "Aku bisa saja memecatmu jika kamu berani padaku. Biarkan saja kamu kesulitan mencari pekerjaan. Aku tidak peduli!"
Genta kemudian pergi usai mengatakannya. Tawa Gempita pun kembali memecah. Dia mengikuti Genta lagi. Lelaki itu benar-benar menggemaskan ketika memberikannya ancaman apa yang menjadi kelemahan Gempita.