"Kamu bilang tidak akan menyukainya! Tapi apa ini? Kenapa kamu diam-diam mengajaknya kencan!"
Satu pukulan lagi mengenai rahang Genta. Pukulan yang sangat keras, membuat Genta yang tadinya hendak berdiri kembali tersungkur ke tanah. Sedangkan Gempita sangat panik, dia hendak melerai tapi tak bisa.
Pertikaian senja itu menjadikan pusat perhatian orang yang berada di sana. Ingin melerai tapi si penyerang sangatlah kuat. Banyak yang berkumpul menyaksikan Genta yang diserang Kale.
Ya, Kale yang datang. Kale tidak sengaja melewati kawasan street food dan melihat dua orang yang sangat dikenalnya sedang bersama. Lelaki itu nampaknya cemburu melihat Genta bersama Gempita. Dan lelaki itu seolah kesetanan hingga memukul Genta— ingin memberi pelajaran karena telah berani mengajak berkencan perempuan yang diinginkannya.
Bukannya tidak memiliki keberanian untuk membalas pukulan Kale, tapi Genta memang tidak akan memukul saudaranya sendiri sekalipun perbuatan Kale memang salah. Genta tidak tega jika harus memukul Kale. Genta terlalu baik. Dia membiarkan tubuhnya dipukul Kale meski belum tahu apa penyebabnya.
"Kale cukup!" teriak Gempita. Dia memberanikan diri untuk memeluk Genta ketika Kale hendak memukulnya lagi. Gempita ingin melindungi Genta supaya tidak dihajar Kale lagi. Sudah cukup semuanya, Genta tidak boleh terluka parah. Gempita yakin jika dia memeluk Genta, maka Kale tidak berani menghajar Genta lagi karena hanya akan melukai dirinya juga.
Dan yang ada Kale malah menarik Gempita supaya tak lagi memeluk Genta. Dia pun akhirnya bisa memukul Genta lagi. Kale masih ingin menghabisi Genta. Sementara Genta, berusaha kuat menahan emosinya. Dia masih merelakan tubuhnya dihajar Kale.
"Aku tidak menyukainya! Kami hanya mencari makanan saja tadi, tidak lebih!" seru Genta. Lambat laun dia tahu apa yang membuat saudaranya itu marah dengannya. Apalagi jika bukan karena Gempita. Ah, Genta yakin jika Kale berpikiran yang tidak-tidak padanya juga pada Gempita.
"b*****t kau!" gertak Kale sembari menendang perut Genta untuk terakhir kalinya. Dia kemudian menyeret Gempita dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Kale...." Gempita enggan pergi, tapi Kale tetap mengajaknya pergi.
Orang-orang yang menatap mereka dari jauh pun segera berhambur ke aktivitas masing-masing. Kegaduhan telah selesai. Kegaduhan yang tiba-tiba merusak suasana senja.
Dibantu dengan beberapa orang di sana, Genta pun akhirnya bisa berdiri setelah merasa lemas akibat pukulan dan tendangan yang sangat dahsyat dari Kale. Dia hanya bisa menyaksikan Kale yang memaksa Gempita untuk naik motor. Padahal perempuan itu terus saja memberontak dan tak mau ikut dengannya. Kesabaran Genta hampir habis. Kale memang patut diberi pelajaran nantinya.
Gempita duduk melingkarkan tangannya di perut Kale. Sebenarnya dia masih takut dengan Kale yang marah dengan Genta tadi tanpa tahu alasan yang jelas. Tapi dia jauh lebih takut jika jatuh dari motor apabila tidak berpegangan dengan Kale.
Perempuan itu juga masih menebak apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya dirinya juga ada sangkut pautnya dengan pertikaian senja tadi. Dia berusaha memahami perkataan Genta tadi di sela Kale menghajarnya. Juga perkataan dari Kale.
Jika dirunut dari perkataan tadi, dengan jelas bisa diketahui bahwa Genta memberitahu bahwa tidak menyukai Gempita, mereka berdua karena sedang mencari makanan. Dengan begitu Gempita juga tahu bahwa Kale pasti marah karena mengira bahwa Genta menyukai Gempita, padahal Kale terlebih dahulu menyukainya. Mungkin itu permasalahan utamanya. Kale tidak terima jika Gempita bersama Genta.
"Jangan takut. Aku tidak akan jahat kepadamu," teriak Kale ketika merasakan tangan Gempita yang dingin. Kale tahu pasti Gempita takut dengannya setelah apa yang terjadi tadi. Dia berusaha membuat Gempita tidak takut.
"Iya, aku tahu. Tapi sebenarnya apa salah Genta sampai kamu memukulinya?" tanya Gempita. Dia pun berusaha menatap wajah Kale dari spion bundar itu. Gempita ingin tahu dengan pasti permasalahan utama yang sudah diyakini menyangkut dirinya.
"Dia mencoba mendekatimu, aku tidak suka. Bukan hanya Genta saja, aku tidak suka jika kamu berdekatan dengan lelaki lain selain diriku. Jangan dekat-dekat lagi dengan siapa pun. Dan ingat, kamu dan Genta hanya sebatas rekan kerja saja, tidak lebih!"
Lelaki yang fokus mengendarai motor itu berkata dengan sungguh-sungguh dan dipenuhi dengan peringatan.
"Memangnya kamu siapaku? Kenapa melarangku? Bukankah mau dekat dengan siapa saja itu hak ku?"
Gempita jadi kesal, dia tak habis pikir dengan Kale yang entah bagaimana bisa berkata seperti tadi. Padahal Kale tidak seharusnya berkata seperti tadi. Kale tidak boleh mengatur dan mencampuri kehidupannya.
"Ya iya... Tapi... Ah, sudahlah!" Kale tak mampu menjawabnya. Dia memang bukan siapa-siapanya Gempita, dan tidak berhak pula melarangnya untuk berdekatan dengan siapa pun. Dia hanya tidak suka jika Gempita nanti memilih lelaki lain daripada dirinya. Gempita hanya akan menjadi miliknya, begitulah pikir Kale yang sangat egois.
Suasana kembali hening. Pikiran perempuan itu melayang kepada Genta yang entah bagaimana keadaannya sekarang. Harusnya dia tetap di sana membantu Genta dan mengobati luka lebam di wajahnya.
"Kale...."
"Iyaaaa?"
"Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi. Pokoknya kamu harus minta maaf sama Genta."
Tak dijawab. Enggan sekali mengiyakan perkataan Gempita itu. Jika Genta membuatnya marah lagi tentu saja dia akan kembali melakukannya, bahkan bisa lebih parah dari itu. Untuk minta maaf? Mungkin tidak akan dilakukan lagi, karena menurutnya dia tidak salah. Kale hanya melindungi perempuan yang dia inginkan supaya tidak diambil Genta, saudaranya sendiri.
Di sisi lain, Genta menuju ke ruang makan untuk menyantap makan malam. Dia berpapasan dengan Kale yang baru saja pulang.
Dua pasang mata itu bertatapan. Saling menghujam, dan mengisyaratkan permusuhan. Genta kesal dengan Kale yang kelakuannya tidak masuk akal. Sedangkan Kale juga kesal dengan Genta yang sepertinya hendak merebut Gempita darinya.
"Kalian kenapa?" tanya Pak Binar ketika melihat anaknya saling beradu pandang. Dia juga terkejut melihat wajah Genta yang ternyata memar dan ada bercak darah. "Kenapa wajahmu, Genta? Habis berkelahi dengan siapa kamu?"
"Dipukulin orang bodoh yang tidak punya otak meskipun hanya secuil saja!" jawab Genta dan masih menatap tidak suka ke arah Kale.
"Iya, Pah. Dia baru saja dipukuli oleh orang yang tidak punya otak. Dia kesal karena orang yang dia pukul itu tidak sesuai dengan perkataannya. Dulu dia bilang tidak akan suka dengan Gempita. Tapi nyatanya sekarang dia malah mencoba mendekatinya!" tutur Kale panjang lebar.
Pak Binar dibuat bingung dengan anak kembarnya karena benar-benar tidak paham dengan maksudnya. Namun, dia jadi tahu bahwasanya Kale yang telah membuat wajah Genta penuh lebam.
"Aku memang tidak menyukai Gempita! Kita hanya mencari makanan saja tadi, dan dia ingin aku traktir. Tidak lebih! Kalau kamu memang menginginkan dirinya cepat ikat, supaya dia benar-benar menjadi milikmu seutuhnya dan supaya tidak ada yang berusaha merebutnya darimu!" gertak Genta. Dia kemudian pergi meninggalkan Kale dan papanya. Genta jadi tidak nafsu dalam segala hal.
"Jadi, kalian berantem karena memperebutkan Gempita?" tanya Bu Lili yang ternyata sedari tadi mendengar perdebatan anak-anaknya. Begitu yang dia tangkap dari kedua anaknya. Bu Lili cukup khawatir, namun ini merupakan hal biasa yang mana dua orang pemuda sedang memperebutkan perempuan.
"Tidak memperebutkan! Dia saja yang berlebihan. Memang dasar Kale tidak punya otak!" sahut Genta sembari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Dia tidak jadi makan malam karena semakin tidak nafsu, apalagi saat melihat Kale yang tanpa merasa bersalah padanya sedikit pun. Perasaan bersalah saja tidak ada apalagi meminta maaf.
"Aku hanya ingin melindungi Gempita, Mah, Pah. Aku tidak mau Gempita bersama orang yang salah," ujar Kale membela dirinya. Dia takut jika kedua orang tuanya membela Genta dibanding dirinya.
"Papa setuju dengan Genta tadi. Jika kamu benar-benar menginginkan perempuan itu segera ikat dan jadikan milikmu seutuhnya. Dan Kale, jika ada masalah bukankah harusnya berbicara baik-baik dulu? Jangan asal memukuli orang," ucap Pak Binar yang mampu membuat Kale terhenyak. Pak Binar sudah berulang kali memberi nasihat untuk tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan.
Lelaki yang diberi nasehat itu masih terhenyak. Terus terang saja, Kale belum begitu yakin dengan rasanya. Lelaki itu hanya terobsesi dengan Gempita hingga rasa untuk memilikinya pun semakin besar. Kalau ditanya mencintai atau tidak, jawabannya Kale belum tahu. Bahkan, sampai saat ini dia belum tahu mencintai selain mencintai keluarga itu bagaimana. Dia hanya tahu jika dirinya mencintai papa, mama, dan keluarga yang lain, tidak dengan orang luar.
Kembali dengan lelaki yang tadi tidak jadi makan malam. Dia kemudian duduk menghadap cermin hendak mengobati lukanya dengan obat yang telah disiapkan Mamanya sebelumnya.
Langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering. Nomor tanpa nama, tapi Genta tahu milik siapakah itu. Siapa lagi jika bukan milik Gempita. Genta sebenarnya menyimpan nomor Gempita, tapi tidak menamainya dengan benar. Oleh karenanya di kontak tersimpan nomor ponselnya saja. Meski demikian hal itu tidak menyulitkan Genta. Lelaki itu sangat hapal pemilik nomornya.
"Genta! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gempita antusias. Dia melakukan panggilan video, namun tak melihat wajah Genta di layar ponselnya karena ternyata Genta menutup kamera ponselnya. Dan hal itulah yang membuat Gempita semakin khawatir dengan kondisi Genta tadi.
"Hmm...."
"Genta, maafkan aku. Harusnya tadi aku tetap di sana menolongmu."
"Hmm...."
"Genta, lekas obati lukamu supaya tidak semakin parah."
"Hmm...."
"Genta, jangan cuma berdehem saja. Lakukan perintahku, dan perlihatkan wajahmu aku ingin melihatnya."
"Hmm...."
"GENTA PERLIHATKAN WAJAHMU!"
Genta sontak saja terkejut mendengarnya. Dia jadi menjatuhkan cotton bud yang dia gunakan untuk mengoleskan obat di lukanya. Gempita sangatlah menyebalkan. Dia lalu mengarahkan ponsel ke wajahnya supaya perempuan itu puas karena bisa menatapnya. Supaya jantungnya juga aman karena tidak perlu mendengar teriakan Gempita lagi.
"Hiks... Ternyata banyak sekali memarnya. Tapi kamu tetep tampan kok meskipun bonyok!"
"Kamu juga tetap cantik jika bonyok! Kemarilah akan kupukul wajahmu biar sama sepertiku!" sahut Genta membuat Gempita langsung mematikan panggilannya karena ketakutan. Dan Genta malah terkekeh karena berhasil menggodanya.
"Senang melihatmu tertawa, Genta," ujar Gempita. Dia jarang sekali melihat Genta tertawa, dan kali ini dia melihatnya. Gempita sangat senang.
Genta tetap mengarahkan ponselnya menyorot wajahnya. Namun, dia menyandarkannya di tumpukan buku sebelahnya. Dia kemudian segera mengobati lukanya membiarkan Gempita begitu saja.
"Genta, sudut matamu yang kiri jangan lupa diobati," ujar Gempita. Dia sedari tadi memperhatikan Genta, dan lelaki itu melewatkan sudut mata kirinya yang juga lebam.
Lelaki itu lalu menuruti perkataan Gempita. Benar juga ternyata di sudut mata kirinya belum terjamah obat.
"Genta, Sayang? Apa sudah kamu obati lukanya? Kalau belum biar Mama mengobatinya," seru Bu Lili tiba-tiba saja datang memasuki kamar Genta. Dia juga tidak lupa membawakan makan malam untuk anaknya.
Tentu saja Genta terkejut, apalagi dia lupa mengunci pintu kamarnya hingga akhirnya Mamanya bisa masuk. Genta langsung menutupi ponselnya yang sedang memaparkan video call bersama Gempita.
"Sudah, Mah. Baru saja selesai, tidak perlu khawatir," jawab Genta.
Bu Lili mengecek dengan benar wajah anaknya yang ternyata memang sudah diobati. Dia merasa sedih mendapati anaknya seperti itu. Lebih sedih lagi karena kedua anaknya sulit akur.
"Maafkan Kale, ya? Dia memang emosional orangnya, kita harus memahami. Kalau misalkan Kale memukuli kamu lagi, balas saja. Tidak perlu kasihan, anak itu sekali-kali juga harus mendapat balasan," tutur Bu Lili dengan lembut sembari mengusap d**a Genta bermaksud supaya Genta bisa melapangkan dadanya menghadapi saudara kembarnya. Bu Lili tahu Genta paling tidak bisa membalas orang yang telah jahat padanya, apalagi saudaranya sendiri.
"Iya, Mah. Tidak perlu khawatir...."
Bu Lili memeluk Genta yang masih duduk di tempat awal. Dia juga tak segan-segan memberikan kecupan di kening anaknya. Tentu hatinya sedih melihat anaknya yang bertengkar dan berkelahi.
"Genta...."
Suara itu membuat Bu Lili bertanya-tanya dan langsung mencari sumber suaranya. Dia terkejut mendengar suara perempuan yang tidak asing baginya.
"Siapa, Genta? Dari mana asalnya? Kamu menyembunyikan perempuan di kamarmu?" tanya Bu Lili.
"Tidak, Mah. Jangan berpikiran buruk pada Genta...."
Genta kemudian memperlihatkan ponselnya yang masih terpaut panggilan video bersama Gempita. Tentu saja Bu Lili antusias sekali melihatnya. Dia langsung merebut ponsel Genta.
"Hai, Tante Lili...." sapa Gempita tersenyum riang mendapati layarnya yang menampakkan perempuan yang dikenal dan mengenalnya pula.
"Gempita... Apa kabar? Kamu cantik sekali," sapa Bu Lili sembari memberikan pujian pada Gempita yang kala itu memakai bando lucu.
"Tante juga cantik. Ah, Gempita jadi ingin bertemu Tante Lili...."
"Ah, kamu bisa aja. Ehm, kapan-kapan kita ketemu, ya? Tante pengen ngobrolin banyak hal sama kamu."
"Mah... Tutup saja panggilannya," ujar Genta. Dia mengantisipasi hal buruk terjadi.
"Genta, diam saja. Makan saja makanan yang Mama bawa itu. Jangan mengganggu Mama dan Gempita!"
Bu Lili menyuruh Genta untuk segera makan makanan yang dibawanya tadi dan diletakkan di meja kamar. Dia tidak mau menutup panggilannya sesuai dengan perintah anaknya. Bu Lili masih mau mengobrol dengan Gempita yang memang satu frekuensi dengannya. Selalu nyambung apa yang dibicarakan.
Sementara Genta menghela napasnya mendapati Mamanya yang akrab sekali dengan Gempita, padahal belum lama mereka kenal. Genta jadi dilupakan. Namun, lelaki itu tetap mengawasi Bu Lili. Genta takut jika Bu Lili keluar dari kamarnya dan Kale jadi tahu bahwasanya sedang berteleponan dengan Gempita. Maka sudah dipastikan bahwa Kale akan berprasangka buruk lagi pada Genta.
Makanan yang dibawakan Mamanya tadi disantap. Dia sesekali juga menanggapi obrolan dua perempuan yang cerewet sekali itu. Ya, benar-benar cerewet. Apa saja diobrolkan, bahkan hal tidak penting sekalipun.