Bab 4 –Jamuan yang Membuka Tirai

912 Words
Langkah-langkah halus para pelayan bergema di koridor panjang Istana Dalam. Harum dupa, bunyi kecapi yang lembut, dan lantunan puisi dari para penari istana mengisi udara malam yang mewah namun menekan. Shen Lian berjalan perlahan melewati pilar-pilar merah menyala menuju ruang jamuan pribadi Kaisar. Hanfu putih keperakan yang ia kenakan tampak mencolok dalam lautan warna cerah yang dikenakan selir dan putri bangsawan lainnya. Kalung giok warisan Permaisuri lama tergantung di lehernya, dingin menyentuh kulit. Semua mata tertuju padanya beberapa memandang dengan kagum, sebagian besar dengan curiga, bahkan ada yang diam-diam mencibir. “Putri Shen... kelihatannya benar-benar berubah, ya.” “Kalung itu? Bukankah itu milik keluarga Kekaisaran?” “Apakah ini artinya dia... sudah berada di sisi Putri Mahkota?” Shen Lian menahan napas panjang. Setiap langkahnya seperti menapaki papan catur penuh ranjau. Tapi ia tidak akan gentar. Dunia ini hanya menunduk pada mereka yang berani berdiri tegak. Di singgasana utama ruangan jamuan, Kaisar duduk dengan tenang. Wajahnya tidak menunjukkan emosi, tapi sorot matanya tajam seperti pedang yang menembus keramaian. Di sampingnya, duduk Permaisuri yang menatap Shen Lian dengan pandangan sulit dibaca. Putri Mahkota berdiri dan mempersilakannya ke barisan tamu utama. “Putri Shen, silakan duduk.” Shen Lian menunduk dalam dan duduk anggun di sisi kiri, dekat para bangsawan wanita. Tapi belum sempat ia menyesuaikan diri, suara langkah berat menarik perhatian semua orang. Leng Yunting. Ia masuk dengan pakaian militer berwarna gelap, tanpa banyak hiasan, tapi sorotan semua tamu langsung terarah padanya. Sosoknya menjulang tenang, tak ada senyum, tak ada kerutan panik. Namun saat matanya bertemu dengan Shen Lian ia terhenti sejenak. Sekilas. Singkat. Tapi dalam. Seakan mengirim pesan diam yang hanya mereka berdua yang tahu. “Jamuan ini,” ujar Kaisar pelan, “bukan sekadar perayaan musim semi. Ini juga seleksi bagi mereka yang akan menjadi bagian dari lingkaran dalam istana.” Semua tamu segera memperhatikan. Suara musik menghilang, digantikan keheningan yang menegang. “Shen Lian,” lanjut Kaisar, “aku mendengar kau menguasai ilmu pengobatan. Dan hari ini, aku ingin melihat sendiri apa kau layak untuk dipercaya.” Seorang pelayan membawa masuk seorang anak kecil dengan kulit pucat dan tangan gemetar. “Putra pejabat dalam istana. Sudah sakit sejak tiga hari lalu. Para tabib belum menemukan penyebab pastinya.” Beberapa tamu berseru pelan. Shen Lian bangkit, sedikit terkejut. Tapi ia tahu, ini adalah ujian terbuka. Ia maju dengan langkah pasti, berlutut perlahan di depan anak itu. Ia memegang pergelangan tangan si anak, mengamati warna lidah, dan melihat matanya yang menguning. “Gejala keracunan ringan. Tapi ini bukan dari makanan.” Ia menoleh ke arah pelayan yang mendampingi. “Kapan terakhir kali ia bermain di taman istana?” “Dua hari lalu, Putri. Ia bermain dekat kolam.” Shen Lian mengangguk pelan. “Kolam istana kadang digunakan untuk mencuci kain upacara. Airnya mengandung residu pewarna alami yang bisa beracun bagi anak kecil.” Ia segera memerintahkan ramuan sederhana dengan akar licorice, mint, dan rebusan daun bidara. Dalam waktu singkat, ramuan disiapkan, dan sang anak meminumnya di hadapan semua orang. Kaisar menatapnya lama. “Tidak hanya tenang, tapi juga tajam. Putri Shen, kau mengejutkanku malam ini.” Shen Lian menunduk. “Terima kasih atas kehormatan Baginda.” Namun di antara pujian, ia menyadari sesuatu. Seorang wanita berpakaian ungu duduk di sudut aula, nyaris tak bersuara sejak awal. Sorot matanya menusuk, dan ia terus menatap Shen Lian bukan dengan rasa ingin tahu, tapi seolah sedang menilai ancaman. “Siapa dia?” Shen Lian berbisik ke Xiao Yu yang berdiri di belakangnya. “Itu... Selir Ning. Salah satu wanita favorit Baginda... dan dikenal sangat dekat dengan beberapa menteri konservatif.” Shen Lian merasa bulu kuduknya meremang. Selir itu tidak berbicara, tapi aura yang ia pancarkan... seperti bayangan yang menanti momen tepat untuk menusuk dari belakang. Setelah jamuan usai, para tamu perlahan meninggalkan aula. Tapi sebelum Shen Lian melangkah keluar, suara berat menghentikannya. “Putri Shen.” Leng Yunting berdiri di sisi lorong batu. Bayang-bayang lentera membuat wajahnya separuh tersembunyi. “Jenderal Leng,” balas Shen Lian tenang. “Aku ingin bicara. Sekarang.” Ia mengikuti langkah Jenderal itu ke sisi koridor belakang, tempat para pelayan tidak diperbolehkan masuk. Suasana menjadi hening dan dingin. “Aku tahu kau menerima sesuatu dari Wei Jingshu,” ucap Leng Yunting langsung, tatapannya tajam. Shen Lian tidak membantah. “Kau juga tahu nama siapa yang tertulis di dalamnya.” “Ya. Namaku.” “Kau ingin aku percaya bahwa kau tidak terlibat?” tanya Shen Lian perlahan. Leng Yunting terdiam, lalu menjawab, “Kalau aku ingin mengkhianati Kekaisaran, aku tidak akan berada di sini malam ini.” Shen Lian menahan napas. “Tapi jika namamu dipakai sebagai umpan, itu artinya... ada yang ingin menjatuhkanmu. Dan mereka ingin aku jadi alatnya.” Leng Yunting menatapnya lama. “Dan kau akan membiarkan dirimu dimanfaatkan?” Shen Lian menatap balik. “Aku belum memutuskan. Tapi satu hal yang kutahu... aku tidak ingin berada di pihak yang salah.” Leng Yunting menarik napas dalam. Ia melangkah maju, hingga jarak mereka hanya satu lengan. “Simpan gulungan itu. Jangan serahkan pada siapa pun, termasuk ayahmu. Jika kau ingin tahu kebenaran... ikuti jejaknya. Tapi jangan percaya siapa pun, bahkan aku.” Shen Lian membeku. “Bahkan kau?” Leng Yunting menatapnya dalam. “Karena aku juga sedang berpura-pura.” Sebelum Shen Lian sempat bertanya, suara langkah tergesa datang dari arah lorong lain. Seorang pelayan berlari dengan wajah pucat. “Putri Shen! Tuan Muda Wei jatuh sakit mendadak. Ia meminta Anda segera ke kediaman utara!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD