Suara langkah kaki bergema pelan di malam yang nyaris sunyi. Xiao Yu menunduk dalam saat Shen Lian membuka pintu kamarnya.
“Di mana dia?” tanya Shen Lian cepat.
“Di taman belakang, di balik paviliun batu. Ia mengenakan pakaian gelap dan menolak menyebutkan nama…”
Shen Lian langsung mengambil jubah luarnya dan melangkah cepat. Angin malam menggigit kulit, tapi pikirannya terlalu sibuk untuk merasakannya. Siapa pun orang itu, ia tak bisa mengabaikan jika menyangkut Jenderal Leng.
Sampai di taman belakang, ia menemukan sosok berjubah hitam berdiri membelakangi kolam. Lentera kecil yang digantung di bawah atap batu hanya menyoroti sebagian wajahnya.
“Putri Shen?” Suaranya pelan tapi jelas.
“Siapa kau?”
Orang itu menoleh perlahan. Wajahnya muda, mungkin tak lebih tua dari Leng Yunting. Matanya tajam, mulutnya terkatup rapat, dan sorotnya seperti pembaca rahasia.
“Namaku Lin Zhao. Aku pernah berada di bawah komando Jenderal Leng di barat laut.”
Shen Lian tetap menjaga jarak. “Dan kau datang malam-malam untuk bicara soal komandanmu?”
Lin Zhao mengangguk. “Saya mendengar dari jaringan dalam istana bahwa nama Jenderal Leng disebut dalam sebuah daftar yang sedang disebarkan secara rahasia… sebagai pengkhianat.”
Shen Lian menahan napas. “Bagaimana kau tahu?”
“Seseorang yang Anda temui dua malam lalu Wei Jing shu adalah salah satu orang yang sedang bermain dua sisi.”
Shen Lian menatap tajam. “Lalu, menurutmu… apakah Leng Yunting memang terlibat?”
Lin Zhao tampak ragu, namun akhirnya berkata, “Tidak. Jika saya boleh jujur, Jenderal Leng mungkin dingin, tapi ia setia pada takhta. Tapi…”
“Tapi?”
“Kesetiaan itu diuji saat seseorang kehilangan kepercayaan pada penguasa yang mempekerjakan mereka.”
Shen Lian mengerutkan kening.
Lin Zhao menarik napas dalam-dalam. “Saya tidak tahu motif sebenarnya. Tapi saya tahu Jenderal Leng sedang menyelidiki pengkhianatan dari dalam. Bisa jadi, nama dalam gulungan itu adalah jebakan untuk memancing siapa yang akan bereaksi.”
Shen Lian mengingat kembali tatapan Leng Yunting kemarin dingin, tajam, namun ada sesuatu yang disembunyikan di baliknya. Ia bukan pria yang sembarangan bertindak. Tapi juga bukan orang yang mudah percaya.
“Jadi ini permainan bayangan,” gumamnya.
Lin Zhao mengangguk. “Dan Anda sekarang sudah masuk ke dalamnya.”
Pagi berikutnya, Shen Lian memutuskan untuk menghadiri undangan latihan uji tabib wanita yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Kekaisaran. Ia tahu ia harus mulai menunjukkan siapa dirinya sekarang. Dunia ini tidak memberi tempat bagi orang yang hanya diam.
Hanfu putih bersulam biru langit membalut tubuhnya dengan sederhana, namun elegan. Rambutnya disanggul setengah, dan wajahnya hanya dibubuhi bedak ringan. Tapi matanya tajam, penuh tekad.
Di halaman depan istana dalam, sepuluh wanita muda berdiri rapi. Beberapa dari mereka adalah anak menteri, beberapa lagi dari keluarga dokter terkemuka. Semuanya memandang Shen Lian dengan campuran rasa ingin tahu dan cemoohan.
“Itu Putri Shen?”
“Yang terkenal karena mengejar Jenderal Leng?”
“Katanya ia pingsan dan berubah setelah bangun. Mungkin hanya akal-akalan agar tidak dinikahkan paksa.”
Shen Lian tidak menggubris bisik-bisik itu. Ia menatap lurus ke arah panggung ujian, tempat empat orang tabib senior dan satu inspektur istana duduk mengamati.
“Peserta akan diuji dalam dua tahap,” ucap salah satu tabib tua. “Pertama, diagnosis dari denyut nadi pasien tanpa bertanya. Kedua, meracik ramuan untuk pasien tersebut.”
Shen Lian maju saat gilirannya tiba. Di hadapannya duduk seorang wanita tua dengan wajah pucat dan napas yang tidak teratur. Tangan wanita itu gemetar pelan.
Ia meraih pergelangan tangan wanita itu dan menutup matanya sejenak. Jantungnya berdetak stabil, tapi iramanya melambat setiap menit. Lidahnya tampak berwarna kebiruan.
“Pasien ini mengalami keracunan lambat dari logam berat. Kemungkinan berasal dari peralatan makan yang terbuat dari timah hitam,” ucap Shen Lian mantap.
Salah satu tabib senior terkejut. “Bagaimana kau tahu?”
“Pewarna ungu dalam makanan perjamuan bangsawan baru-baru ini menggunakan campuran logam untuk menjaga warna. Jika dimakan rutin dalam waktu lama, itu bisa menumpuk di ginjal dan melemahkan fungsi jantung,” jelasnya.
Semua orang terdiam. Bahkan para peserta lainnya mulai saling melirik.
“Ramuanmu?” tanya sang inspektur.
Shen Lian mulai meracik daun huang qin, akar peony putih, biji goji, dan sedikit daun mingtong sebuah kombinasi detoksifikasi yang dalam dunia modern dikenal mampu mengikat logam berat dan membuangnya perlahan lewat sistem urin.
Setelah menyerahkan ramuan, ia mundur.
Beberapa tabib senior berdiskusi pelan. Salah satu dari mereka, yang berpakaian biru tua, berkata pelan, “Gadis ini… bukan sekadar cantik.”
Sore itu, saat Shen Lian kembali ke paviliun, ia disambut oleh surat undangan dari istana undangan pribadi dari Putri Mahkota.
“Aku belum pernah bertemu dia sebelumnya,” gumamnya.
Xiao Yu menatap surat itu khawatir. “Putri Mahkota dikenal sangat selektif pada tamu wanita…”
Shen Lian menimbang-nimbang. Jika ia ingin tahu kebenaran di balik daftar pemberontakan, istana dalam adalah tempat pertama yang harus ia masuki.
“Siapkan pakaian terbaikku. Aku akan pergi.”
Saat matahari mulai tenggelam, Shen Lian tiba di taman pribadi milik Putri Mahkota. Suasana penuh keanggunan namun mencekam. Para pelayan berdiri tegak seperti patung, dan bunga-bunga harum semerbak tanpa membuat suasana jadi hangat.
Putri Mahkota duduk di bawah paviliun, mengenakan pakaian keemasan dengan hiasan mutiara di rambutnya. Wajahnya cantik, tapi tajam.
“Putri Shen,” ucapnya dingin. “Akhirnya aku bisa melihat seperti apa gadis yang membuat Kaisar kita penasaran.”
Shen Lian menunduk sopan. “Terima kasih atas kehormatannya, Putri.”
“Katanya kau berubah?”
“Aku tidak berubah. Aku hanya menjadi diriku sendiri.”
Putri Mahkota tertawa pelan, tapi sorot matanya mengeras. “Jenderal Leng juga berubah sejak kembali ke ibu kota. Lebih pendiam dari biasanya. Lebih hati-hati.”
Shen Lian tak menjawab.
“Kau tahu, banyak yang ingin menjatuhkan Perdana Menteri Shen. Tapi mereka terlalu pengecut untuk melakukannya secara langsung. Mereka akan memulai dari putrinya.”
Shen Lian menatapnya. “Kalau begitu, saya harus jadi orang yang sulit dijatuhkan.”
Putri Mahkota menyipitkan mata. “Aku akan menilai sendiri.”
Ia mengangkat tangannya. Seorang pelayan membawa nampan berisi kalung giok berukir simbol phoenix.
“Kalung ini milik ibuku, Permaisuri terdahulu. Aku ingin kau memakainya di jamuan Kaisar nanti.”
Shen Lian memandangnya curiga. “Sebuah kehormatan, atau perangkap?”
Putri Mahkota tersenyum samar. “Tergantung bagaimana kau memakainya.”
Malam itu, saat Shen Lian melepas perhiasan dan duduk di depan cermin, pikirannya penuh tanya. Apa maksud dari kalung itu? Apa itu tanda kepercayaan atau tanda pengawasan?
Dan di luar jendela, kabut mulai turun perlahan, menelan halaman istana dalam ke dalam sunyi.
Tapi di balik kabut itu, bayangan seorang pria berdiri di atap. Leng Yunting menatap paviliun Shen Lian dari jauh sorot matanya tajam, dingin, dan seolah menyimpan luka yang belum sembuh.
Ia berbisik pelan…
“Maafkan aku… jika kau harus ikut terbakar dalam perang ini.”