Bab 2 – Bayangan di Balik Gulungan

1000 Words
Suara pintu paviliun tertutup pelan, namun dentumannya masih bergema di d**a Shen Lian. Leng Yunting. Nama itu tertera jelas di daftar para pemberontak istana yang diserahkan oleh Wei Jingshu. Tangannya menggenggam erat gulungan bersegel merah itu. Kertasnya bergetar, bukan karena angin malam, tapi karena perasaan yang bergolak dalam dirinya. Ia menatap langit malam yang diselimuti kabut tipis. Bulan tampak pucat, seperti menyaksikan dari kejauhan segala rahasia yang tersembunyi di balik kedamaian istana. “Kenapa namamu ada di sini, Jenderal?” gumamnya. Ia tahu, mempercayai sepenuhnya isi gulungan itu sama saja dengan menjatuhkan diri ke dalam jurang. Tapi mengabaikannya juga bukan pilihan bijak. Dunia kuno ini penuh jebakan. Bahkan sebuah kertas bisa jadi perangkap. Xiao Yu datang membawa jubah malam. “Putri, angin malam semakin dingin. Anda bisa masuk ke dalam…” Shen Lian menoleh, lalu mengangguk. Ia menyelipkan gulungan itu di balik lengan bajunya, lalu berjalan masuk tanpa berkata apa-apa. Di dalam, ia duduk di depan meja dan menyalakan lentera kecil. Sorot api menari di permukaan kayu, seolah meniru kegelisahan dalam hatinya. “Xiao Yu,” katanya pelan. “Ya, Putri?” “Apakah kau tahu hubungan Ayahku dengan Jenderal Leng?” Pelayan muda itu tampak gugup. “Yang hamba tahu… Ayah Anda sangat menginginkan pernikahan antara Anda dan Jenderal Leng. Beliau berharap perjodohan itu bisa memperkuat posisi politik keluarga Shen di istana. Tapi…” “Tapi Jenderal Leng menolak,” sambung Shen Lian. Xiao Yu menunduk dalam. “Ya, Putri.” Shen Lian tersenyum pahit. Ia tidak membenci penolakan itu tidak sekarang. Ia mengerti mengapa pria seperti Leng Yunting tidak ingin dikaitkan dengan gadis manja dan sembrono. Tapi jika benar ia sekarang jadi target pengkhianatan… apa semua penolakan itu adalah bagian dari rencana yang lebih besar? Atau… justru sebaliknya? Keesokan paginya, Shen Lian bangun lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan hanfu polos berwarna krem dan menyanggul rambutnya sederhana. Tak ada perhiasan mencolok, tak ada riasan tebal. Hari ini, ia ingin mengunjungi istana. Dengan alasan mengembalikan gulungan kepada ayahnya, ia meminta diantar ke kediaman utama. Namun setibanya di sana, ia mendapati pintu aula tertutup rapat. “Perdana Menteri sedang rapat pribadi dengan utusan istana,” kata penjaga. “Putri diminta menunggu.” Shen Lian tidak menunggu. Ia melangkah pelan ke taman di sisi barat, tempat yang dulu ia tahu sering dijadikan tempat menyendiri oleh ibunya. Tapi kini, tempat itu kosong. Hanya ada pepohonan dan kolam kecil yang airnya memantulkan langit biru yang tenang tenang namun penuh rahasia. Ia membuka kembali gulungan itu. Ada lima nama di dalamnya, semuanya pejabat tinggi dan panglima militer. Dan di antara mereka Leng Yunting. Nama yang tertulis dengan tinta paling gelap, seolah disengaja untuk menjadi pusat perhatian. Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Shen Lian buru-buru menyembunyikan gulungan itu di balik ikat pinggangnya. “Putri Shen.” Suara dingin itu langsung dikenalnya. Leng Yunting berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengenakan jubah dinas militer berwarna kelabu gelap. Di bawah sinar matahari pagi, wajahnya terlihat semakin tegas, seperti diukir dari batu keras. “Kau terlihat gelisah,” ucapnya tanpa basa-basi. Shen Lian menghadapnya perlahan. “Dan Anda selalu muncul di saat yang tidak terduga.” “Aku mendapat undangan dari Perdana Menteri. Tapi sepertinya dia sedang sibuk.” Shen Lian menatapnya, mencoba membaca ekspresi di balik wajah datarnya. Ia ingin sekali bertanya: Apakah benar kau pengkhianat? Tapi lidahnya kelu. “Jadi kau menyelidiki sesuatu?” Leng Yunting bertanya tiba-tiba. Shen Lian mengerutkan kening. “Kenapa Anda berpikir seperti itu?” “Matamu. Cara berjalanmu. Bahkan pilihan pakaianmu. Semua terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru pulih dari sakit berat.” Shen Lian tersenyum miring. “Mungkin aku hanya sadar bahwa selama ini aku hidup dengan cara yang salah.” Leng Yunting mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. Angin berhembus pelan, membawa aroma rempah dari taman, dan juga ketegangan yang tak terucap. “Kau berubah terlalu cepat. Dunia ini tidak menyukai wanita yang berubah terlalu cepat,” ucapnya rendah. Shen Lian menatap langsung ke matanya. “Aku tidak berniat disukai. Aku hanya ingin bertahan.” Tatapan mereka bertaut lama. Tapi sebelum Leng Yunting bisa menjawab, seorang pelayan dari aula utama datang berlari. “Putri! Perdana Menteri memanggil Anda sekarang!” Shen Lian melangkah cepat, namun sempat menoleh sebentar ke arah Jenderal itu. “Jika suatu saat aku tahu ada yang menyembunyikan sesuatu… aku tidak akan diam.” Leng Yunting tak menjawab. Tapi sorot matanya membeku. Di dalam aula, Perdana Menteri Shen duduk di kursi utama dengan wajah gelap. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya berwajah penuh senyum palsu—Utusan Istana dari pihak Permaisuri. “Putri Shen,” sapa utusan itu. “Baginda Kaisar mendengar bahwa Anda telah menunjukkan perubahan luar biasa. Beliau ingin Anda hadir dalam jamuan pribadi minggu depan di Istana Dalam.” Perdana Menteri melirik putrinya cepat, namun tidak menentang. Shen Lian menunduk. “Saya akan hadir.” “Dan satu hal lagi,” kata sang utusan sambil menyerahkan sebuah gulungan kecil. “Ini adalah undangan untuk mengikuti seleksi tabib wanita kerajaan. Baginda percaya, jika Anda benar-benar telah berubah, maka membuktikannya di bidang ilmu akan lebih berarti dari sekadar rumor.” Shen Lian menerima gulungan itu perlahan. Matanya menajam. “Terima kasih atas kepercayaan Baginda.” Setelah sang utusan pergi, Perdana Menteri menatapnya tajam. “Kau tidak perlu menerima itu. Cukup diam, dan semua ini akan berlalu.” “Tapi aku tidak ingin bersembunyi lagi, Ayah,” jawab Shen Lian. “Kalau aku memang putrimu, biarkan aku membuktikan bahwa aku pantas menyandang nama keluarga ini.” Perdana Menteri menatapnya lama. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia melambaikan tangan menyuruhnya pergi. Malam itu, di dalam paviliun, Shen Lian membuka dua gulungan sekaligus gulungan ancaman dari Wei Jing shu, dan undangan dari Istana. Dunia ini benar-benar tidak memberinya waktu untuk bernapas. Dan di saat pikirannya penuh pertanyaan, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. “Putri,” bisik Xiao Yu dari luar. “Ada seseorang… yang ingin bertemu Anda. Tapi ia tidak meninggalkan nama.” Shen Lian menoleh dengan cepat. “Dia berkata, ini tentang… Jenderal Leng.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD