Part 2. Berusaha Pulih Kembali

1298 Words
“Apa ini surga? Ternyata di surga juga ada lampu,” batin Selly dengan mengejap. “Kau sudah sadar?” tanya Frans sembari mengelus kepala Selly. “Apa ini? Kenapa dia bisa sehangat ini? Apa ini mimpi?” batin Selly. “Kalau aku tahu ini adalah saat terakhir, aku ingin mengatakan bahwa aku menyukainya,” batin Selly. “Apa kau sulit berbicara?” “Apa ini rumah sakit?” batin Selly. “Apa kau ingat kejadian? Saat kau tertabrak.” “Aku mengingatnya. Kalau di drama, di saat seperti ini pasti akan bilang. Kalau aku tidak ingat, dengan begitu. Bukankah jadi bisa menunda perceraian?” batin Selly. “Apa kau mengenalku?” “Tidak mau berpisah dengan pria ini,” batin Selly menatap Frans. “Si-siapa?” suara Selly keluar. Frans tampak terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Selly. Kebohongan yang keluar begitu saja. “Tidak kukira akan menjadi awal mula, dari sebuah sandiwara,” batin Selly “Walau begitu, syukurlah dia sudah sadar,” ucap Nyonya Naira, ibu dari Selly. “Istri saya tidak mengingat saya,” ucap Frans pada kedua orang tua Selly. “Sepertinya hanya ingat beberapa tahun terakhir yang hilang. Jadi pasti akan segera pulih lagi. Dia akan segera bisa mengingat lagi,” ucap Nyonya Naira memberi pengertian pada Frans. “Iya.” Frans terasa pasrah melihat keadaan Selly yang sekarang. “Kata dokter, tak ada keanehan pada otaknya. Jadi jangan terlalu khawatir.” “Malam ini kami akan menjaganya. Selama dua hari ini, kau pasti tidak bisa tidur dan makan dengan baik,” ucap Tuan Nick, ayah dari Selly. “Tidak, saya harus disini agar merasa tenang.” “Baiklah, kalau begitu. Terima kasih sudah bekerja keras, Frans.” “Iya, ayah dan ibu hati-hati di jalan.” Setelah mengantar pergi kedua orang tua Selly. Frans masuk ke dalam lift menuju ke lantai atas. Di dalam lift, Frans kembali mengingat kejadian Selly yang tertabrak dan membuatnya merasa bersalah. “Bahkan jika aku tidak melepaskan tangannya. Seharusnya aku tidak membicarakan tentang perceraian saat mengantarnya pergi,” batin Frans sambil memijat keningnya. “Ting..,” suara pintu lift terbuka. Frans keluar dari dalam lift dan pergi menuju ke ruangan kamar inap Selly. “Nenek..,” ucap Frans melihat neneknya sudah berada diruangan Selly. “Dia tidak mengingatku,” ucap Nyonya Viona. “Ayo, kita bicara di luar.” Frans memaksa neneknya untuk keluar. Neneknya pun berjalan keluar dengan sendirinya. “Plakk…,” suara tamparan terdengar di luar ruangan. “Kau ini, tidak bisakah kau menjaganya dengan benar? Kepalanya jadi seperti itu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Nyonya Viona setelah menampar cucunya itu. “Apa maksud nenek?” “Dia harus segera punya anak. Tetapi lihat, bagaimana kondisinya sekarang?” ucap Nyonya Viona sembari menggelengkan kepalanya. “Apa nenek juga bilang seperti itu padanya?” “Kau bisa melakukannya berkali-kali. Seharusnya kau terus berusaha, agar tahun ini bisa memiliki..” “Nenek..,” teriak Frans yang kesal. “Cepat kembalikan ingatannya. Dengan begitu, dia akan bisa cepat punya anak.” “Tolong hentikan ku mohon. Jangan bicara soal ini dengan Selly,” pinta Frans meninggalkan neneknya begitu saja. “Ck.., kau harus punya anak untuk mewarisi keluarga ini,” teriak Nyonya Viona. * * * 10 hari kemudian. “Katamu 2 tahun lalu. Kita bertemu di kencan buta kan?” tanya Selly, setelah mereka berada di dalam mobil karena sudah pulang dari rumah sakit. “Iya, saat itu aku langsung melamarmu.” “Oh..” “Ada pertanyaan lain?” tanya Frans tersenyum senang. “Tidak, tidak ada.” “Aku ingin mengatakan, kalau aku mengingatnya tapi aku jadi tidak bisa mengatakannya. Karena kau sekarang berbicara dengan lembut selama di rumah sakit,” batin Selly. “Kalau aku mengatakan dengan jujur, bahwa ini adalah kebohongan. Dia pasti akan menyerahkan formulir perceraian lagi,” batin Selly sembari menatap kaca luar mobil. Sepanjang perjalanan pulang, sesekali Frans melirik ke arah Selly. “Kenapa dia terus menatapku? Apa dia curiga padaku?” batin Selly pun hanya berani menatap ke arah luar jendela mobil. Sesampainya di parkiran rumah, Frans memarkirkan mobil dan membukakan pintu samping Selly. “Ada apa dengannya?” batin Selly canggung dengan sikap Frans yang membantu dirinya keluar dari dalam mobil. Hingga tak sengaja dirinya justru menarik tubuhnya menjauh dari Frans. “Maaf membuatmu tak nyaman.” “Ah.., maafkan aku. Aku hanya merasa canggung dan asing, walaupun kita sudah menikah,” ucap Selly. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah. Bibi pelayan menyambut kedatangan mereka berdua. “Nyonya.., akhirnya anda pulang.” “Bibi..,” batin Selly. “Tangan istriku terluka. Jadi sepertinya tidak bisa dipeluk.” “Ah.. saya senang bisa bertemu lagi setelah sekian lama. Apa bagian yang terluka masih sakit, nyonya?” “Sudah tidak apa-apa. Aku sudah mendengar dari suamiku, bahwa anda orang yang bertanggungjawab mengurus rumah.” “Istriku masih belum bisa mengingat.” “Ya ampun, saya tidak menyangka nyonya akan terluka hingga hilang ingatan,” ucap bibi yang terlihat sedih. “Kamar saya dimana ya?” tanya Selly. “Saya akan menunjukkan kamar anda.” “Bibi, tolong antarkan istriku ke kamarku,” pinta Frans. “APA?!!” bibi tampak terkejut begitu. Selly pun terperangah dengan perkataan Frans. “Bibi, tolong wakilkan aku untuk menanyakan sebenarnya apa yang ada dipikirannya,” batin Selly melirik ke arah bibi pelayan. Bibi pelayan justru malah diam menatap Frans. “Tolong cepat antarkan istriku, bi. Dia pasti sudah lelah.” “Baik, tuan. Ayo nyonya, ikut saya ke arah sini.” “Iya.” Selly harap-harap cemas melihat perubahan sikap Frans yang berubah drastis. “Karena sudah di rumah. Haruskah aku bilang, kalau aku sudah ingat semuanya,” ucap Selly melirik ke arah Frans. Bibi pelayan pun membuka pintu kamar Frans. Ceklek..!! “Silahkan masuk, nyonya.” “Ini pertama kalinya, aku masuk ke kamarnya,” batin Selly. “Silahkan mandi dulu. Saya akan menyiapkan makanan,” ucap bibi pelayan. “Baik, bibi. Terima kasih.” Bibi pelayan pun langsung keluar kamar. “Tidak mungkin dia memintaku untuk tidur bersama disini kan?” Selly melihat sekeliling kamar Frans yang tak pernah dirinya masuki. “Kamarnya sangat mencerminkan pemilik kamar.” Tanpa sadar Selly terlalu serius memperhatikan kamar Frans, hingga tak sadar Frans masuk ke dalam kamar. “Kau masih belum mandi?” tanya Frans yang membuat Selly terkejut. “Sekarang baru mau mandi.” “Kalau begitu, kita mandi bareng.” “Apa?! Ma-mandi bareng?” ucap Selly terkejut dengan perkataan Frans. “Iya, kita kan sudah pernah melakukannya beberapa kali,” ucap Frans dengan wajah datar. “Be-beberapa kali? Apa dia gila? Kita kan tidak pernah melakukan itu,” batin Selly. “Tu-tunggu dulu. A-ku bisa mandi sendiri.” * * Flashback on. Frans tengah berada di dapur untuk mengambil minum. “Tuan, maaf karena terburu-buru saya hanya membawakan pakaian yang sekiranya nyonya butuhkan sekarang.” “Tidak apa-apa, bi. Terima kasih sudah membantu. Menurut bibi, istriku bagaimana?” “Nyonya?!!” tanya bibi yang bingung. “Maksudku apa ada yang berubah dari sebelum dia terluka?” “Oh.., kalau soal itu, perilaku nyonya agak sedikit berubah. Tapi saya juga tidak begitu yakin.” “Tolong beritahu saya, kalau nanti ada yang tidak biasa menurut bibi.” “Ya ampun, apa otak nyonya terluka parah?” “Tidak parah, hanya karena saya khawatir saja.” “Syukurlah kalau begitu. Sekarang saya akan menyiapkan makan malam dulu.” “Tolong siapkan pelan-pelan saja. Tidak usah terlalu terburu-buru. Saya mau ke dalam dulu, dia pasti butuh waktu lama untuk mandi karena tangannya terluka.” “Tapi apa bisa mandi sendiri dengan tangan terluka seperti itu, tuan? Bukankah tuan seharusnya membantu?” Mendengar perkataan bibi, Frans terhenti dan berbalik berjalan menuju kamarnya. Padahal tadi dia berniat ke ruang kerjanya. Flashback off.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD