Part 6. Terlanjur Kecewa

1309 Words
Pagi hari, Frans sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Saat dia berjalan keluar kamar, Frans melihat Selly tengah membuat sarapan. “Bukankah aku sudah bilang, kalau tak perlu bikin sarapan kan?” Selly yang mendengar suara Frans berbicara, dirinya menoleh ke arah belakang. “Aku tahu itu, karena kau bilang tidak sarapan. Jadi aku menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri.” “Oh iya sepertinya begitu,” ucap Frans sambil duduk di kursi makan. “Tunggu setelah dipikir-pikir sepertinya porsinya terlalu banyak. Kalau kau tidak memakannya, ini harus dibuang,” ucap Selly yang berniat mengambil piring tersebut. Namun tangan Frans menahannya. “Aku akan memakannya.” “Oh iya, minggu depan aku akan mulai bekerja lagi.” “Bukankah itu terlalu cepat?” “Kalau aku bekerja, mungkin saja ingatanku akan kembali mengingat sedikit demi sedikit.” Sekilas Frans menatap ke arah tangan Selly yang masih dibalut dengan perban. “Aku hanya khawatir tulangnya tidak bisa pulih dengan cepat,” batin Frans. Frans pun beranjak berdiri dan berniat untuk berangkat bekerja. “Aku sudah selesai sarapan.” Selly yang mendengar suara Frans yang berbicara langsung ikutan berdiri juga. Frans berjalan, dan Selly terus mengikutinya. Hingga Frans bingung dan menoleh ke arah belakang. “Apa ada yang ingin kau katakan?” “Hm.. aku hanya mengingat perkataanmu. Kau bilang, aku selalu mengantarmu jadi aku sedang berusaha mengantarmu keluar rumah.” “Sebaliknya, apa ada yang mau kau katakan padaku?” tanya Selly melihat wajah Frans yang terlihat kebingungan. “Aku akan pulang jam 7 bukan jam 9. Kita makan malam bersama di rumah.” “Baiklah.” Selly menatap Frans yang seperti terpaku menatap dirinya. “Apa ada lagi yang ingin kau katakan?” “Aku masih belum mendapatkan morning kiss.” “I-itu.., sepertinya lebih baik aku lakukan, setelah ingatanku kembali,” ucap Selly dengan wajah yang merona malu. “Tidak perlu di bibir seperti waktu itu.” “Waktu itu kan aku tidak sengaja. Itu juga karena tindakanmu.” Wajah Selly tampak merah merona dan sangat malu karena mengingat kejadian itu. “Tindakanku?!” “Iya, karena kau tiba-tiba menoleh. Bibir kita jadi bersentuhan.” “Itu karena kau meletakkan, tanganmu di bahuku jadi aku kira kau memanggilku. Aku tidak bermaksud untuk memaksamu,” ucap Frans. Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Frans berjalan membuka pintu. “Selamat pagi tuan, nyonya,” ucap Gavi. “Ayo pergi.” Frans dan sekretarisnya pun pergi meninggalkan rumah dan berjalan menuju mobil. Selly tampak tak enak hati melihat Frans yang terlihat kecewa. Selly buru-buru berlari keluar dan langsung memeluk Frans. “Tunggu.., a-aku akan mengganti dengan ini,” ucap Selly memeluk Frans dengan tangan gemetar. “Deg..!!” “Apa dia terpaksa melakukannya untuk menyesuaikan dengan suasana hatiku?” suara Frans dalam hati. “Sampai ingatanku kembali.” “Baiklah, sampai ingatanmu kembali.” “Kalau begitu sampai jumpa nanti malam,” ucap Selly yang kemudian melepas pelukan dan berlari kembali masuk ke dalam rumah. Frans pun menatap ke arah Selly dan kemudian dia masuk ke dalam mobil. “Tuan, anda terlihat senang. Sekarang kalian terlihat seperti pasangan suami istri,” puji Gavi. Gavi pun melajukan kendaraannya. “Tuan, saya sudah memundurkan waktu rapat menjadi 30 menit.” “Bagus.” “Aku tahu kau mengelabuiku. Tetapi kenapa aku malah ingin dikelabui,” batin Frans sambil tersenyum memandang jalan raya. Beberapa menit kemudian, dia teringat tujuannya. “Entah kenapa karena melihat kau yang sudah berada dalam jangkauanku, aku jadi ingin serakah. Sampai aku lupa, kalau aku bertekad untuk bercerai. Rasanya tekadku jadi goyah,” batin Frans. * * * Di dalam rumah, Selly tengah mengambil minum. Setelah itu Selly langsung meminumnya. “Hah..!! Rasanya malu sekali atas sikapku itu. Tetapi kenapa aku bisa seberani itu?” batin Selly dengan wajah memerah. “Nyonya sudah bangun?” “Iya, bi. Selamat pagi.” “Tangan anda pasti tidak nyaman, tapi anda malah menyiapkan sarapan sendiri. Harusnya anda menunggu sampai saya datang saja.” “Tidak apa-apa, bi. Aku sudah mulai terbiasa melakukannya dengan tangan kiriku.” Bibi pun mulai melakukan pekerjaannya, sedangkan Selly duduk di kursi meja bar yang ada di dapur. Selly memikirkan sikap Frans yang berubah, seakan ingin memperbaiki hubungan mereka berdua. “Kenapa dia tiba-tiba ingin memperbaiki hubungan kami ya? Sampai-sampai bertindak seperti pasangan suami istri sungguhan,” ucap Selly dalam hati. Bibi pelayan sekilas melirik ke arah Selly yang tengah melamun. “Nyonya, apa ada yang ingin anda katakan?” “Hmm..!! Menurut bibi, suamiku bagaimana?” Bibi pelayan mengelap tangan dan menghadap ke arah Selly setelah selesai mencuci piring. “Bagaimana apanya, nyonya? Dari sisi apa?” “Setelah aku kecelakaan, tidak terjadi hal apapun kan? Mungkin dia terluka atau..” “Memangnya kenapa nyonya? Apa tuan sakit?” tanya bibi pelayan. Selly menjawab dengan gelengan kepala. “Untuk hubungan suami istri yang sudah 2 tahun, hubungan kami terlalu baik.” “Ah, hahaha…!! Apa anda khawatir karena tuan memperlakukan anda dengan baik?” “Setelah anda kecelakaan, tuan ikut tinggal di rumah sakit. Jadi bagaimana bisa terjadi sesuatu. Setelah saya pikir-pikir, tuan juga pernah menanyakan hal yang sama.” “Apa yang dia katakan?” “Apa ada yang berubah dari nyonya? Kalau nanti ada yang janggal tuan meminta saya untuk memberitahunya.” “Sebenarnya apa yang membuatnya janggal?” batin Selly. * * * Malam harinya, Selly tengah memilih pakaian untuk dirinya kenakan saat makan malam bersama Frans. “Aku pakai yang mana ya?! Karena bibi bilang warna pink lebih bagus dari warna hijau.” “Tok.. tok..,” suara pintu diketuk. “Nyonya..!! Ini sudah waktunya tuan pulang,” teriak bibi pelayan. “Oh iya, bi. Tunggu sebentar.” “Ceklek..!!” pintu pun terbuka. “Bibi, kancingnya tidak terkait dengan benar. Bisa tolong aku?” “Ya ampun, seharusnya nyonya bilang saja dari tadi.” “Sekarang jam berapa?” “Sudah jam 7,” ucap bibi pelayan. Di kantor. Frans tampak tengah mengendorkan dasinya karena sudah merasa sesak. “Tuan, kebakaran di pabrik D sudah berhasil dipadamkan.” “Bagus kalau begitu.” “Lalu soal pertemuan dengan Tuan Arven dibatalkan. “Apa alasannya?” “Dia bilang tidak berminat bekerja sama lagi karena dia tengah mempersiapkan pekerjaan yang lain. Sekarang dia juga tidak mengangkat telepon.” “Bilang ke bagian perencanaan untuk mencari orang lain.” “Apa? Tapi anda sudah bekerja keras selama tiga bulan ini.” “Siapkan saja untuk perjalanan dinas ke kota D besok.” “Baik, saya mengerti.” “Sudah jam segini saja,” ucap Frans menatap jam tangannya. Sedangkan ditempat lain, Selly tengah menunggu Frans di meja makan dengan wajah yang sudah lesu. Dari jam 7, Selly sudah siap. Namun, Frans belum juga sampai di rumah. Hingga jam menunjukkan pukul 9 malam. Frans baru mengirimkan pesan ke Selly. Selly pun membuka pesan itu, “Kau makan malam duluan saja.” tulis pesan Frans. “Haa..!! Betapa sering aku dikesampingkan oleh dirinya. * * Sekitar pukul 11 malam, suara mobil terparkir di halaman rumah. “Ceklek..!!” suara pintu dibuka. Seketika Selly terbangun dari tidurnya di sofa. “Ini sudah larut. Kenapa tidak tidur? dan masih disini,” ucap Frans yang melihat Selly tengah terduduk di sofa. “Entahlah, kenapa aku tidak tidur dan masih disini meski sudah jam 11 lewat,” ucap Selly yang terlihat cuek dan enggan menatap Frans. “Apa kau marah?” “Tidak sama sekali. Aku tidak marah. Aku berterima kasih padamu karena sudah menghubungiku meski terlambat,” ucap Selly sambil menoleh ke arah Frans. “Maaf, seharusnya aku menghubungimu terlebih dahulu meski sesibuk apapun.” “Hah..!! Ini belum ada apa-apanya. Aku bahkan pernah diabaikan lebih dari ini. Jadi tidak mungkin aku mengeluh hanya karena ini,” ucap Selly dalam hati. “Kau pasti lelah. Lebih baik mandi dulu sebelum tidur.” Kemudian Selly beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Frans.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD