Bab 4. Pergi

1058 Words
"Ah ... Badanku pegal sekali!" Pria itu mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang menyusup masuk melalui celah-celah tirai, tetapi pikirannya tetap terombang-ambing. Mengapa ia berada di kamar tamu? Apa yang terjadi semalam? Hatinya berdegup kencang, serasa ada sesuatu yang menekan di d**a, menunggu untuk dicerna. Dengan susah payah, Austin berusaha bangkit dari tempat tidur, tetapi kepala yang berat membuatnya kembali terjatuh, seakan dunia berputar lebih cepat. Akhirnya, ingatan semalam datang, berkelebat seperti bayangan menakutkan. Daisy. Rasa bersalah mulai melanda saat dia mengingat setiap detik yang berlalu di antara mereka semalam, setiap detik yang menorehkan luka di hati gadis itu, seakan mengoyak lapisan kehormatan yang telah dijaga dengan susah payah. Jantungnya berdegup semakin kencang, berpacu dengan kebingungan yang menggerogoti pikirannya. Tanpa memedulikan rasa pusing yang masih membekas, ia memaksa bangun dan melangkah keluar kamar, berusaha mencari Daisy di seluruh penjuru mansion. Langkahnya terburu-buru, matanya mencari-cari sosok gadis itu, tetapi ia tak menemukannya di ruang tamu, di dapur, bahkan di koridor yang biasanya ramai. “Daisy!” teriaknya, suaranya memecah keheningan pagi, tetapi tak ada jawaban. Kegelisahan mulai merayap ke dalam dirinya, mencengkeram hatinya dengan ketakutan yang semakin mendalam. "Dia ke mana?!" Hingga akhirnya, langkahnya terhenti di depan kamar putrinya. Dengan penuh harap, ia membuka pintu perlahan. Di dalam, bayi mungil itu tampak tertidur pulas, wajahnya tenang. Austin mendekat, mengelus lembut rambut halus yang menutupi dahi sang putri. Saat matanya melirik ke samping, ia menangkap secarik kertas tergeletak di dekat anaknya. Dengan ragu, ia meraihnya, membaca setiap kalimat yang tertulis. Saat Bapak bangun, saya ingin Bapak tahu, bahwa pagi ini, saya pergi. Keputusan ini teramat pahit untuk diambil, tetapi setelah apa yang terjadi semalam, saya tak lagi bisa tinggal di mansion. Kesucian yang selama ini saya pertahankan, direnggut dalam sekejap. Mental dan fisik saya dihancurkan, tak ada lagi alasan untuk tetap berada di sini setelah kehilangan harga diri. Semalam, ketika dunia kita berputar dalam gelapnya kesalahan, saya merasa hancur berkeping. Dengan kesadaran penuh, saya putuskan untuk mengakhiri kontrak sebagai ibu s**u Lily. Saya tidak bisa lagi menjadi ibu s**u dari anak seorang pria yang telah merampas dunia saya. Semoga mengerti, Pak Austin. Semoga Anda menemukan kebahagiaan, meskipun Anda telah menghancurkan diri saya. Jaga Lily baik-baik, suatu saat nanti tolong sampaikan cinta dan sayang saya padanya. Selamat tinggal, semoga kita tidak pernah bertemu lagi dalam kebetulan apapun. "Dia ... dia pergi?!" Hatinya tercekat saat membaca kalimat demi kalimat, terbayang jelas bagaimana Daisy merasa terpuruk setelah kejadian semalam. Marah dan terkejut, Austin meremas kertas itu hingga hampir sobek, matanya melotot tajam penuh kemarahan. "Dasar tak tahu diri! Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Daisy!" geramnya dalam hati, kebencian dan frustrasi bercampur menjadi satu. "Bagaimana kau bisa meninggalkan semuanya? Kau tidak bisa pergi begitu saja!" Kemarahan menyala dalam dirinya, membuatnya merasa terhina dengan tindakan Daisy. "Gadis sialan ...!" pekiknya dalam hati. Membaca setiap huruf dalam surat itu sekali lagi, dengan d**a bergetar amarah yang menggerogoti, ia bertekad untuk mencari Daisy, sebelum semuanya terlambat. Austin segera keluar kamar Lily dan menuju ruang kerjanya, lantas menekan tombol interkom di meja kerjanya. “Toby! Datang ke ruang kerjaku sekarang juga!” teriaknya, mengabaikan rasa pusing yang masih menyengat. Tak lama, Toby muncul di ambang pintu, wajahnya terkejut melihat atasan dalam keadaan demikian. “Ya, Pak Austin? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, berusaha menjaga ketenangan di tengah kekacauan yang melanda. “Daisy hilang!” suara Austin terdengar lebih tegas, meskipun ada nada cemas yang tak bisa ditutupi. “Segera cari dia! Kirimkan foto-fotonya ke semua bodyguard. Susuri seluruh kota, jangan biarkan satu sudut pun terlewat!” Toby mengangguk cepat, tangannya segera mengeluarkan ponsel untuk menyebarkan foto Daisy. “Baik, Pak. Kami akan mencarinya,” jawabnya. "Bawa semua bodyguard dan cari sampai dapat! Awas kalau kalian tidak becus!" teriaknya geram. Austin berdiri dengan gelisah, kakinya melangkah cepat menuju kamar di lantai atas. Melenggang melewati Toby begitu saja. Pria itu langsung menuju kamar mandi, membiarkan air hangat membasuh tubuhnya. Napasnya berat, seolah setiap tetes air yang mengalir adalah beban yang harus dipikulnya. “Daisy, ke mana kau?” gumamnya dalam hati, mengingat wajah gadis itu. Setelah mandi, ia bergegas mengenakan pakaian, mengabaikan semua rasa lelah dan pusing. Begitu siap, Austin berlari ke garasi, segera menaiki mobilnya, melajukan dengan kecepatan tinggi di jalanan yang mulai ramai. Setiap detik terasa berharga, dan harapannya semakin tipis seiring waktu yang berlalu. "Kalau sampai aku bisa menemukanmu, maka bersiaplah untuk hukuman berat!" Tanpa terasa, matahari sudah sepenuhnya tenggelam di ujung barat ketika Austin tiba kembali di mansion, dengan kegundahan yang semakin meningkat. Ia tidak menemukan apa-apa di jalanan. Merasa frustrasi, ia langsung mengumpulkan semua bodyguard di depan rumah. “Di mana dia?!” teriaknya, suaranya bak hantaman yang menusuk gendang telinga. “Kalian seharusnya bisa melakukan lebih baik dari ini! Kita sudah mencari di seluruh kota, dan dia masih belum ditemukan?!” Toby yang berada di depan, berusaha menenangkan. “Kami sudah melakukan pencarian dan berpencar ke setiap tempat, Pak. Bahkan, memeriksa semua hotel dan tempat umum.” Austin tidak mau mendengarkan, keringatnya masih mengaliri pelipis, menandakan betapa kerasnya ia mencari meski belum ada hasil. Ia menatap Toby dengan tatapan tajam, matanya seolah menyala. “Dan itu tidak cukup! Kau seharusnya mencari sampai ke pelosok-pelosok! Apa kau tidak mengerti betapa pentingnya ini?!” “Kami akan terus mencarinya. Saya janji kami tidak akan berhenti!” Austin memejamkan mata, berusaha menahan kemarahan yang ingin meluap. Mengambil napas dalam-dalam, mengingat kembali wajah Daisy. “Baiklah. Lanjutkan pencarian. Aku ingin mendengar kabar terbaru, sesegera mungkin.” Tiba-tiba, angannya melayang ke suatu tempat yang sering ia dan Daisy kunjungi di masa lalu. Tempat yang belasan tahun tak pernah ia datangi lagi, karena hanya akan menimbulkan trauma. Tanpa menunggu lagi, Austin segera beranjak menuju mobil, membawa kendaraan beroda empat itu melaju kencang menembus jalanan malam. "Semoga kau ada di sana," gumamnya, sambil terus menambah kecepatan. Perjalanan panjang berlalu, mobil mewah itu tiba di sebuah taman batas kota yang telah sepi pengunjung di jam hampir larut malam ini. Austin segera keluar mobil dan membawa langkah masuk, menembus dinginnya malam menuju tengah taman. Bibirnya menyeringai saat mata elangnya menatap punggung mungil yang tengah duduk sendirian di bangku panjang, di sebelahnya ada tas besar dan tak ada siapapun di sini selain ia dan gadis itu. "Sudah kubilang, kan? Aku tetap bisa menemukanmu, Daisy. Kau tidak mengharapkan pertemuan kita, tapi sejak dulu aku selalu bisa mengendus jejakmu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD