Bab 3. Hancur

1056 Words
Austin melangkah menuju bar pribadi di samping dapur, tempat ia menyimpan berbagai koleksi alkohol yang biasa ia andalkan untuk mengusir kegelisahan. Tangannya terulur mengambil sebotol vodka yang tak lagi tertutup rapi, sisa dari malam-malam sebelumnya. Tanpa menuang ke gelas, ia menenggak langsung dari mulut botol, merasakan cairan panas itu mengalir di tenggorokannya, membakar setiap inci tubuhnya. "Ah ...," gumamnya di antara embusan napas yang mulai berat. Pikiran-pikirannya seolah terjerat, bergelayut di antara kebingungan dan kekesalan yang tak jelas asal-muasalnya. Detik waktu bergulir, alkohol di botol pertama tandas, tapi Austin tak merasa cukup. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil botol kedua, membuka tutupnya dan kembali menenggak hingga cairan itu habis setengahnya. Jam dinding terus berdetak, tapi Austin tak peduli. Satu tegukan, lalu satu lagi, hingga isi botol kedua nyaris tandas. Tubuhnya kini mulai tak seimbang, sempoyongan seakan dunia berputar terlalu cepat. Matanya menggelap, langkahnya terhuyung ketika ia memutuskan untuk meninggalkan bar dan menuju kamar. Namun, di tengah langkah yang tersendat-sendat itu, ia melihat sosok gadis berambut panjang keluar dari kamar putrinya. Austin memicingkan mata, mencoba fokus pada sosok itu, tetapi yang ia tangkap hanyalah senyum lembut Daisy yang samar di balik pandangannya yang mulai kabur. "Daisy ...." Bibirnya bergumam pelan, menyebut nama itu dengan nada serak. Tanpa berpikir panjang, Austin melangkah mendekat dan dalam keadaan mabuk yang menguasai, ia meraih lengan Daisy, menariknya dengan paksa ke kamar tamu yang terletak tepat di sebelah kamar Lily. Gerakan itu begitu cepat dan kasar, membuat Daisy terpekik kaget. Ia mencoba menahan tarikan Austin, tapi genggaman pria itu terlalu kuat, mendesak setiap langkahnya hingga masuk ke dalam kamar yang kini tertutup rapat. "Daisy ...." Suaranya rendah, aroma alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya, membuat Daisy semakin bergidik ketakutan. "Kenapa kau di sini, hm? Kenapa kau datang lagi ... ke dalam hidupku?" "P-pak Austin ... tolong, lepaskan saya. Bapak mabuk!" pekik Daisy, mencoba berkata sehalus mungkin agar pria di hadapannya tersadar. Namun, Austin tidak mengindahkan, wajahnya mendekat dengan pandangan tajam dan kilatan amarah di manik legam itu. Lalu, sebelum Daisy sempat bergerak menjauh, ia meraih wajah gadis itu dan mencium bibirnya dengan kasar, menekan seolah seluruh gairahnya tersalurkan dalam ciuman itu. Daisy tersentak, tubuhnya memberontak sekuat tenaga. Ia mencoba melepaskan diri, menangkis genggaman Austin, tetapi sia-sia. Tangan pria itu terlalu kuat, menahan setiap gerakan kecil yang ia buat. "Pak ... cukup, jangan ...!" Teriakan Daisy teredam di sela tarikan napas berat Austin, sementara ia tetap berusaha melawan meski tubuhnya terkunci di antara dinding dan pria itu. Austin tetap tak mengindahkan kata-katanya, seperti terbuai dalam kepungan alkohol dan gelora yang tak terkendali, membuatnya terus memperkuat genggamannya. "Kau ... kau tak tahu bagaimana hancurnya aku saat cintaku tak bisa memilikimu. Aku pernah mencintaimu, tapi mungkin kau lupa semuanya. Sekarang ... dengan lancangnya kau datang ke hadapanku, membawa tanggung jawab agar aku melindungimu. Kau memang iblis cantik yang selalu kupuja, Daisy ...," racau pria itu, tanpa sadar. "Bapak ngomong apa ..?! Sadar, Pak!" Gadis itu terus berteriak, ia hanya bisa menahan tangis yang mulai menggenang, mencoba terus menatap Austin dengan sisa-sisa keberaniannya yang nyaris habis. Austin yang pikirannya tak lagi jernih, perlahan memaksakan kehendaknya, tak memberi ruang bagi Daisy untuk menghindar. Malam itu, dengan setiap helaan napas yang berat dan mata yang setengah terpejam, Austin melanggar batas yang tak seharusnya dilewati. Daisy hanya bisa terisak, tangisnya terdengar lirih di sela suara angin malam yang menyusup dari jendela. Hatinya merintih, tubuhnya bergetar dalam ketakutan dan kepasrahan yang kian mengiris. Setiap detik terasa lambat, setiap sentuhan bagaikan sembilu yang menorehkan luka mendalam dalam sanubarinya. Beberapa waktu berlalu hingga akhirnya Austin limbung, tertidur di sisi Daisy dengan napas yang teratur dan masih menyisakan aroma alkohol. Dalam senyap, Daisy merapatkan selimut ke tubuh polosnya, mencoba menutupi dirinya dari luka yang kini tak lagi kasat mata. Ia memeluk selimut itu erat-erat, seakan menjadi satu-satunya perlindungan dalam gelapnya malam ini. Tatapannya kosong, memandangi langit-langit kamar dengan mata yang masih berkaca-kaca. Ingin rasanya ia pergi, lari sejauh mungkin dari dari mansion yang menjadi saksi luka terbesarnya. Namun, rasa sakit itu membebani langkahnya bahkan sebelum ia sempat berdiri. Daisy perlahan-lahan turun dari ranjang, setiap langkahnya terasa berat, menahan rasa panas dan nyeri yang menyengat di pangkal pahanya. Mengambil napas dalam-dalam, ia memaksa diri untuk bergerak menuju kamar mandi. Begitu sampai di dalam, ia membiarkan pintu tertutup rapat, seolah memisahkan dirinya dari dunia luar yang penuh dengan kenangan menyakitkan. Ia membuka keran shower, membiarkan air mengalir deras, menyiram tubuhnya yang lelah dan penuh luka. Air hangat mulai membasuhnya, tetapi tak bisa menghapus rasa getir yang menyelubungi jiwanya. Daisy terisak, mengeluarkan semua kesedihan yang terpendam. Setiap butir air yang mengalir seolah menjadi saksi bisu atas kehormatan yang hancur. Ia meraba lembut kulit putihnya yang kini dipenuhi jejak kemerahan akibat ulah Austin, jejak yang akan selalu mengingatkannya pada malam kelam ini. “Kenapa ...?” gumamnya, suaranya tercekat oleh isak tangis yang tak kunjung reda. “Kenapa kau harus merusak segalanya, Pak? Semua yang aku jaga selama dua puluh empat tahun, direnggut tanpa belas kasihan!” Kepalanya terasa berat, pikirannya terbayang ketika Austin mengoyak mahkotanya. Ia terjebak dalam rasa sakit yang tak terucapkan, sementara di ranjang sana, suara napas Austin yang teratur terdengar seperti ejekan, seolah ia tak merasakan apa pun. “Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup setelah ini?” Dalam keheningan itu, ia merasa nyaris gila, terperosok dalam ketidakberdayaan yang melanda hatinya. “Ini tidak adil,” keluhnya, suara lirihnya teredam oleh gemuruh air yang mengalir. “Kenapa takdirku harus seperti ini? Aku dihancurkan luar dalam, dirusak dan kesucianku dirampas!” Hatinya terasa hancur berkeping-keping saat menatap bayangannya di cermin kabut yang dibentuk oleh air, ia merasakan betapa hancurnya kepercayaan dirinya. "Namaku melambangkan bunga Daisy, bunga putih nan suci yang tumbuh indah. Namun, kini, seiring tangan lancang yang menyentuh setiap inci tubuhku, aku merasa tak lagi pantas menyandang namaku. Bunga itu layu, dan kelopaknya tak lagi bisa mewangi. Dulu, aku bagaikan kelopak yang merekah. Bersinar dalam kesucian, tapi gara-gara pria itu ... aku hanyalah seonggok bunga layu yang tak punya harga diri!" batinnya, pilu. Daisy mengusap kasar air matanya yang bercampur air shower, kemudian berkata dengan suara gemetar. "Setiap tetes air mata akan menuntut karmanya, Pak Austin! Aku datang baik-baik sebagai ibu s**u putrimu, aku tidak mengemis, bahkan kau sendiri yang membawaku tinggal di sini. Tapi ... kau perlakukan aku layaknya binatang! Mulai detik ini ... aku akan pastikan hidup b******n sepertimu tak akan bisa damai!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD