Telepon ini langsung kututup begitu tersambung pada tujuan. Bukan apa-apa, aku merasa tak enak hati begitu mendengar nama ‘Vanya’ disebut. Kenapa harus dihubung-hubungkan dengan Rasya? “Dia ... tidak menjawab, Bu,” bohongku yang langsung mematikan ponsel sendiri. Biar aku disebut jahat dan tidak mau membantu. Memangnya, istri mana yang mau menjembatani agar suaminya bertemu perempuan lain? “Maaf, saya harus ke tempat Bu Yuni,” pamitku saat itu juga. “Aduh, bagaimana ini?” Bu Laura dan perempuan paruh baya yang menjadi tamunya itu tampak panik. Lalu keduanya segera masuk mobil dan meninggalkan tempat ini. Apa aku salah? Ah, segera kubuang jauh-jauh pemikiran itu. Aku tidak salah, aku hanya melakukan pencegahan saja. Kucoba untuk menarik napas dan mengembusnya secara perlahan, kuc

