3. Sebuah Skandal

811 Words
Malam ini, Max memutuskan tidak pulang ke penthouse nya. Ia memilih menginap di apartemen rahasia yang ia miliki, salah satu tempat yang selama ini menjadi pelarian dari sorotan publik dan wanita-wanita yang silih berganti. Ia duduk di kegelapan, memegang gelas berisi vodka di tangannya, pikiran yang kalut. Berusaha penuh agar sedikit tenang dengan minuman ini dan membuat tubuhnya sedikit hangat. Surat kaleng yang datang tergeletak di meja, kerutan bekas genggamannya masih jelas terlihat. Ancaman itu terasa begitu nyata, begitu mengerikan. Ada yang membencinya sebegitu rupa. Dan ada yang tahu begitu banyak tentang kehidupan pribadinya. Max tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia harus menemukan dalangnya, ia harus menghentikan mereka, sebelum karirnya dan segala yang telah ia bangun hancur berkeping-keping. Dan ia bersumpah, ia akan membuat mereka membayar mahal untuk setiap ketegangan dan pikiran buruk yang kini tengah menggerogoti jiwanya. Pertarungan ini akan menjadi yang terberat dalam hidupnya, di mana ia tidak hanya melawan musuh, tetapi juga bayang-bayang masa lalunya sendiri. ** Isabella menghela napas, tatapannya terpaku pada layar laptop yang menampilkan lowongan kerja. Sudah beberapa malam ia menghabiskan waktu dengan menelusuri situs-situs rekrutmen dan lowongan kerja yang bisa ia masuki lamarannya. Jari-jarinya menari di atas keyboard, mengetikkan kata kunci yang sama, “dibutuhkan lowongan dengan gaji lebih tinggi," ada juga "jenjang karir," atau "kesempatan berkembang." Isabella merasa pusing saat membaca banyaknya lowongan yang tidak sesuai dengan kriterianya. Karena tidak kuliah, membuatnya sedikit kesulitan untuk mencari kerja yang gajinya lumayan. Ia menghela napas. Berat rasanya menjadi orang yang tak memiliki banyak uang, tak sedikit yang harus ia lakukan untuk bisa mendapatkan uang tambahan agar bisa memberikan orang tuanya uang lebih. Gajinya saat ini, meskipun cukup untuk hidup, terasa semakin mencekik. Uang listrik naik, harga kebutuhan pokok melonjak, dan ia harus menerima kenyataan kalau Ayahnya mulai sakit-sakitan. "Aku butuh lebih," bisiknya pada diri sendiri, memejamkan mata sejenak, membayangkan tumpukan tagihan yang menunggunya di akhir bulan. Ia ingat percakapan dengan teman lamanya, Siska, yang baru saja pindah ke perusahaan multinasional dengan gaji dua kali lipat. "Bel, kamu punya potensi! Jangan cuma di zona nyaman," kata Siska kala itu. Kata-kata itu terus terngiang, membakar semangatnya. Malam itu, ia kembali menyusun ulang surat lamarannya. Ia menonjolkan setiap kemampuan yang dimilikinya, setiap pelatihan yang ia ikuti, setiap kelebihan yang ia miliki. Ia merasa seolah sedang merangkai ulang dirinya, menjadi sosok yang lebih kompeten, lebih berharga. Beberapa kali ia merasa putus asa. Penolakan demi penolakan berdatangan, atau bahkan tidak ada respons sama sekali. Namun, setiap kali ia ingin menyerah, bayangan senyum bangga ibunya saat ia diterima bekerja di perpustakaan, membuatnya sedikit iba karena ibunya ternyata mengharap banyak darinya. "Ini bukan hanya tentang aku," gumamnya, "ini tentang kami." Telepon di meja informasi berdering nyaring, memecah keheningan yang nyaman di perpustakaan. Dengan sigap ia mengangkatnya, menjawab pertanyaan tentang jam buka dan ketersediaan buku dengan suara profesionalnya. Sejak pagi, ia sudah sibuk merapikan rak buku, membantu pengunjung mencari referensi, dan sesekali menegur anak-anak yang berlarian di lorong. Pustakawan adalah pekerjaan yang ia nikmati, tetapi gajinya memang jauh dari harapan. Saat ia sedang menyusun kembali tumpukan buku sejarah, sebuah suara menyapanya dari belakang. "Sibuk sekali, Bel?" Ia menoleh. Senyumnya langsung mengembang melihat Joy, pemuda yang sering berkunjung ke perpustakaan belakangan ini. Joy adalah seorang mahasiswa arsitektur yang sering mencari referensi desain, dan entah sejak kapan, kunjungannya jadi lebih sering, bukan hanya untuk buku, melainkan juga untuk mengajaknya mengobrol. "Seperti biasa, Joy," jawabnya, menunjuk tumpukan buku di depannya. "Ini belum seberapa." Pemuda tampan itu tertawa kecil, melangkah mendekat. "Kalau begitu, apa aku mengganggu?" Isabella menggeleng. "Tidak juga. Kebetulan ini sudah hampir jam makan siang." "Baguslah," kata Joy, matanya berbinar. "Aku bawa kopi s**u kesukaanmu. Dan beberapa camilan. Untuk menemanimu lembur mencari pekerjaan baru itu." Ia meletakkan dua cangkir kopi dan sekantong roti di meja informasi. Isabella tertegun. Joy selalu perhatian, selalu mengingat hal-hal kecil tentangnya. "Kamu tahu saja aku butuh asupan energi," kata Isabella, sedikit tersipu. "Terima kasih, Joy." "Tentu saja," balas Joy, bersandar di meja. "Bagaimana pencarian kerjamu? Sudah ada kabar baik?" Isabella menghela napas. "Belum ada yang benar-benar cocok. Banyak yang menawarkan gaji yang sama, atau bahkan lebih rendah." Joy mengangguk, sorot matanya menunjukkan pengertian. "Mencari pekerjaan memang melelahkan. Tapi aku yakin kamu pasti menemukan yang terbaik, Bella. Kamu pekerja keras, dan kamu pintar." Pujian Joy selalu berhasil membuatnya semangat. Pria itu selalu membawanya ke alam yang penuh dengan banyak tantangan di setiap obrolannya. ** Max mabuk berat, ia mendapat banyak teror belakangan dan skandalnya terbongkar. Ia membuang gelas yang masih berisi setengah yang seharusnya ia teguk. Vodka itu begitu dingin di tenggorokan dan membuatnya lupa dengan masalahnya. "Sialan! Mereka membuatku lemah dengan skandal itu," racau nya. Ia mengusap layar ponselnya dan melihat pesan dari sekretarisnya. Ia geram, dan merasa diintimidasi. Dengan sekali bicara, ia minta orang suruhannya untuk mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Pikirannya kacau dan mengingat masa indah bersama gadis-gadis bayarannya. Ternyata beberapa dari mereka menjebaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD