4. Secercah Harapan di Gang Sempit

804 Words
Sore itu, Isabella baru saja pulang kerja. Tas kain berisi novel terbaru yang ia pinjam digenggam erat. Ia menyusuri gang sempit yang menjadi jalan pintas menuju rumahnya. Gang itu selalu ramai di sore hari, dengan anak-anak bermain kelereng dan ibu-ibu yang asyik berkumpul dan bercengkrama. Aroma gorengan dan masakan rumahan berbaur di udara, menciptakan suasana hangat yang sangat ia kenali. Tiba-tiba, saat ia tengah berjalan, suara langkah kaki terburu-buru dan deru mobil yang berhenti mendadak memecah ketenangan gang. Isabella menoleh, dan matanya membulat melihat seorang pria yang mengenakan setelan jas mewah, wajahnya terlihat kusut dan sedikit panik, berlari ke arahnya. Pria itu tampak familiar, seperti sering muncul di televisi atau majalah bisnis. Ya, itu adalah Max Anderson, sang CEO terkenal. Max, yang semalam memilih bersembunyi di apartemen rahasianya, merasa selalu diliputi rasa kecemasan yang menggerogoti setiap detiknya. Pagi harinya, saat ia memutuskan untuk mengambil beberapa berkas penting dari kantor, ia merasakan ada yang mengikutinya. Sebuah mobil hitam dengan kaca gelap terus membuntutinya sejak ia keluar dari apartemen. Merasa terancam, Max pun memutuskan untuk memarkir mobilnya di jalan utama dan berlari masuk ke dalam lorong gang-gang sempit yang ia tahu bisa menjadi tempat persembunyian terbaik. Ia tak menyadari bahwa di balik setiap sudut gang, ada mata yang terus mengawasinya. Saat ia berbelok ke gang dimana Isabella sedang berjalan, ia mendengar langkah kaki yang semakin mendekat di belakangnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ia tidak bisa lagi bermain-main. Max benar-benar khawatir. "Minggir!" desis Max dengan suara serak saat ia hampir menabrak Isabella. Gadis itu terkesiap, hampir menjatuhkan bukunya. Ia menatap Max yang kini berdiri di depannya, terengah-engah. Wajah pria itu dipenuhi keringat dingin, matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah Isabella lihat di wajah seorang CEO. Tepat di belakang Max, dua sosok berbadan besar muncul dari tikungan gang, mata mereka menyorot tajam ke arah Max. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan terlihat sangat mengancam. Isabella yang polos seketika merasakan adrenalin memompa dalam tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Isabella meraih tangan Max. "Cepat, lewat sini!" serunya, menarik Max masuk ke dalam celah sempit di antara dua rumah, yang sebenarnya adalah jalan buntu menuju tumpukan barang bekas. Itu adalah tempat persembunyian rahasianya saat ia masih kecil. Max, yang terkejut dengan tindakan tak terduga dari gadis asing ini, mengikuti dorongan Isabella. Mereka berdua akhirnya sama-sama bersembunyi, serta berdesakan di balik tumpukan kardus dan kayu. Keduanya tersembunyi dari pandangan kedua pria yang mengejar. Jantung Max bergemuruh, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena kedekatan yang tiba-tiba dengan gadis ini. Aroma sampo murahan dan sedikit bau tanah yang melekat pada Isabella begitu kontras dengan parfum mahal dan gairah yang selalu mengelilinginya. Namun, entah mengapa, aroma sederhana itu terasa begitu menenangkan di tengah kekacauan hidupnya. Kedua pria itu melintas di depan mereka, menatap ke sekeliling dengan mata tajam. "Sial! Hilang lagi dia!" salah satu dari mereka menggerutu. Max melirik ke arah gadis asing yang menolongnya. Isabella sedang diam tapi wajah cantiknya tak bisa membuat Max berpaling untuk terus menatapnya. Setelah suara langkah kaki menjauh, Isabella menarik napas lega. Ia berbalik menatap Max, matanya yang polos bertemu dengan mata tajam sang CEO. "Tuan tidak apa-apa?" tanyanya lembut, ada sedikit kekhawatiran yang tulus dalam nada suaranya. Max menatap gadis di hadapannya. Selama ini, ia hanya mengenal wanita-wanita yang mencari keuntungan darinya, atau wanita yang haus kemewahan. Namun, gadis di depannya ini, dengan pakaian sederhananya, memiliki aura kejujuran yang menawan. Di tengah ancaman dan pengkhianatan yang ia alami, secercah harapan mulai tumbuh di hatinya, sesuatu yang ia tak tahu mengapa terasa begitu berharga. Ia merasa, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang melihatnya bukan sebagai Max Anderson sang CEO, melainkan sebagai Max, seorang pria yang sedang dalam kesulitan. Tapi, Max mengerutkan keningnya saat melihat wajah gadis yang benar-benar jauh dari kata mewah itu. Ia menelisik wajah alami itu dan berpikir bahwa mungkin saja gadis ini bukan gadis yang membantu dirinya dengan ketampanan dan kekayaannya. Gadis itu terlihat tidak terawat, masih terlalu alami. Banyak gadis sekarang yang merubah wajahnya, memoles sedemikian rupa supaya bisa menarik lawan jenis. Tapi, kali ini Max, melihat seorang gadis, seorang manusia biasa yang baginya malah begitu menarik. Ia bukannya merasa dia sedang jatuh cinta tapi ia tertarik saat melihatnya. Gadis itu benar-benar eksotik. Sangat menawan tanpa tersentuh, ya ... dia seorang Casanova sejati, jadi paham mana yang biasa disentuh dan sama sekali belum. Matanya merasa sangat indah, meski mata mereka tak saling bersirobok tapi ia tahu bola mata itu adalah bola mata terindah yang pernah ia lihat sebelumnya. "Tuan, kenapa kamu malah melamun?" Suaranya mengagetkan dirinya yang sedang memikirkan setiap inci bagian dari tubuh gadis itu. Ia adalah Max yang berpengalaman dalam menangani banyak gadis. Walaupun terlihat tak terawat, tapi ia merasa ada yang berbeda, sangat jauh dari kebanyakan gadis yang dikenalnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tapi ia membiarkan saja, untung langsung ia getarkan, kalau tidak pasti gadis ini akan langsung menyuruhnya mengangkat panggilan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD