Mereka masih berada disana, di dalam tempat persembunyiannya. Max masih terengah, jantungnya berpacu seiring napas Isabella yang juga memburu di sampingnya.
Ruangan itu begitu sempit di balik tumpukan barang bekas dan terasa menyesakkan, namun juga anehnya… aman, bahkan sangat aman.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Max yang dikejar orang-orang yang menyeramkan dan tidak dikenalnya membuatnya merasa sedikit lega.
Ia sedikit lega meskipun ancaman di luar sana masih mengintai. Beberapa menit kemudian, Max melongok sedikit dari celah, memastikan dua pria berbadan besar itu sudah benar-benar pergi.
Ketika dirasa aman, Max pun berbalik, menatap gadis yang telah menariknya ke tempat persembunyian ini. Cahaya senja yang temaram menyusup dari celah di atas, menyoroti siluet gadis yang bersamanya.
Sedangkan Isabella, ia tidak menyadari jika kebersamaan ini membuat seorang CEO terlihat kagum padanya. Isabella semata-mata melakukan ini agar bisa membantu saja dan tidak lebih.
Dan bagi seorang Max, yang terbiasa dengan wanita-wanita berparas boneka dengan riasan tebal, terkesima.
Gadis yang bersamanya bukan tipe wanita yang sering ia temui. Rambutnya yang hitam legam, lebat dan lurus, seolah belum pernah tersentuh cat atau alat pengeriting rambut.
Rambut itu benar-benar masih alami bahkan sangat bagus bentuknya. Max melihat sisi kesederhanaan dari makhluk yang disebut wanita itu.
Dan saat ia tanpa sengaja menyentuh rambutnya, helaian rambutnya sangat halus dan benar-benar lembut seperti terawat di salon kecantikan.
Tapi sayang, rambut itu kini sedikit berantakan akibat tarikan Max yang terburu-buru, namun beberapa helainya menempel di dahi dan pipinya yang halus.
Max terus menatap saat ia tanpa sengaja melihat wajah itu begitu mungil, tanpa polesan make-up berlebihan, hanya sedikit lipstik berwarna nude yang mempertegas bibirnya yang tipis dan manis.
Matanya… mata gadis itu adalah hal pertama yang menarik perhatiannya. Max merasa bahwa bentuknya yang bulat sempurna, hitam pekat seperti malam tanpa bintang, namun memancarkan keteduhan dan kepolosan yang cukup mempesona.
Max begitu terpesona ketika melihat secercah kebaikan yang tulus. Selama ini dia selalu melihat beberapa wanita yang bersamanya, selalu merawat bagian tubuhnya sehingga kadang-kadang seperti sangat bening hingga ia bosan melihatnya.
Tapi, kali ini dia lagi-lagi harus terus memandangi sesuatu yang benar-benar alami.
Kulitnya, kulit gadis itu saat akhirnya Max menyadarinya, tidak seputih pualam seperti kebanyakan wanita yang ia kenal. Kulitnya cenderung sawo matang, eksotis, dengan semburat emas yang enak dilihat, menunjukkan bahwa ia sering terpapar sinar matahari.
Gadis itu mengenakan kaos lengan panjang yang sangat sederhana berwarna merah muda dan rok panjang berwarna hitam, pakaian yang jauh dari kesan glamor, namun entah mengapa, gadis itu, dengan pakaian yang dikenakannya terlihat begitu pas dan menawan.
Ada sedikit rasa malu karena ternyata kehidupan di luar rumah dan kehidupannya sendiri ternyata ada orang yang begitu sederhana jauh dari kata kaya dan sok kaya.
Sebuah tas kain lusuh tersampir di bahunya, dan buku yang hampir terjatuh tadi kini digenggam erat di tangan kanannya.
Hal itu menambah kesan bahwa penampilannya tidak sepenting apa isi otaknya. Ia tahu cerdasnya pikiran gadis itu pasti telah membawanya pada sebuah kepercayaan diri yang cukup tinggi dan penuh pesona serta angan-angan yang cukup tinggi.
"Tuan tidak apa-apa?" suara Isabella kembali memecah lamunan Max yang sedang memperhatikan penampilan Isabella.
Suaranya yang lembut dan penuh perhatian menunjukkan ada nada kekhawatiran yang tulus di sana.
Max mengangguk pelan, masih menatap Isabella, seolah mencoba mengukir setiap detailnya di ingatannya.
“Hallo, Tuan, apa kamu mendengarku?”
Isabella mengayunkan tangannya dan membuat Max tertegun sejenak.
"Oh, ya… aku baik-baik saja, tidak apa-apa. Terima kasih, atas perhatianmu," jawabnya, suaranya sedikit serak. Ia merasakan detak jantungnya belum kembali normal, bukan hanya karena adrenalin, tapi juga karena pesona mendadak yang merayap di dalam dirinya.
Max menjadi aneh sekarang, padahal ia tidak pernah merasa canggung jika berhadapan dengan seorang wanita.
Isabella sendiri, dia bertanya-tanya kenapa ada orang yang mengejar-ngejar pria tampan ini.
"Siapa mereka, apa Tuan mengenal mereka?" tanya Isabella, menatap ke arah gang tempat para pengejar tadi menghilang.
Raut wajah Isabella menunjukkan rasa ingin tahu yang cukup dalam karena ia belum pernah melihat ada orang-orang dikejar kawanan penjahat sampai ia sendiri juga ketakutan.
Sementara Max tampak ragu sejenak. Ia tidak bisa menceritakan masalahnya kepada gadis ini. Ia tidak percaya siapapun meski kelihatannya gadis ini tidak akan berbuat macam-macam.
"Tidak, aku tidak mengenal mereka. Mereka mungkin hanya… ehm salah paham dan salah orang saja," elaknya, berusaha tersenyum tipis, meskipun ia tahu senyumannya pasti terlihat canggung.
“Tuan yakin, tidak mengenal mereka, dari cara mereka mengejar tadi sepertinya mengenal Tuan dengan baik.” ucap Isabella.
Max menggelengkan kepalanya. Tapi sekalipun pengakuan pria itu sepertinya meyakinkan Isabella tidak sepenuhnya percaya, namun ia tidak akan mendesak.
Max menatap gadis itu dan merasa ia tidak dipercaya meski berkata jujur, ia hanya bisa menghela napas.
“Aku baru datang dan tadi langsung lari begitu tahu ada yang akan berbuat jahat padaku,” sambung Max sedikit meyakinkan agar tidak dicurigai karena ini bukan wilayahnya.
Isabella menelisik wajah pria yang bersamanya, ia tidak mau asal percaya karena tidak mengenalnya dengan baik.
Sementara mereka sedang saling memahami satu sama lain, di luar sana, orang-orang yang bertampang sangar sedang kebingungan mencari-cari keberadaan Max.