Pagi itu, Max berhadapan dengan mamanya. Wanita itu bertanya padanya tentang keseriusannya menikahi gadis biasa semacam gadis yang dibawanya ke rumah. “Kenapa sih musti nikah sama gadis itu? Nggak ada pilihan lain atau kamu sedikit kurang jelas melihat wajah cantik dan tidaknya?” “Namanya Isabella, Mah. Panggilannya Bella, apa aku harus perkenalkan lagi ke hadapan mamah?” Mamanya mencubit perutnya. “Jawab saja pertanyaan mamah, tak perlu ngeles,” Max tertawa, ia bersikap santai namun menghormati mamanya yang telah peduli dengan rencananya. Meski ia harus sabar menghadapi keseriusannya tentang menantu yang berasal dari kalangan biasa ini. “Aku cuma mau menikah, itu cukup sederhana, Mah. Permintaanku tidak muluk-muluk,” ucap Max. Ia merasa gerah jika harus dibandingkan dengan yang lain

