DAM | Prolog
Brak
Seorang gadis terpental cukup kuat menghantam aspal setelah sebuah mobil tiba-tiba saja menabrak tubuhnya. Gadis itu meringis merasakan nyeri pada punggung dan sikunya.
"Awshh.. " gadis itu mencoba duduk, dan memegang sikunya yang terluka.
Tap tap tap
Suara langkah kaki yang terdengar buru-buru menghampiri gadis itu. Seorang pria paruh baya berpakaian jas mahal tampak berdiri di depannya. Lantas setengah berjongkok dengan raut wajah yang menyiratkan kekhawatiran sekaligus penyesalan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara berat.
Gadis bernama Vania Larasati itu seketika mendongak. Netra jernihnya bertemu pandang dengan netra jelaga milik pria itu.
Sebelum Vania bereaksi, pria itu lebih dulu berseru dengan tegang.
"Sikumu berdarah. Lebih baik kita segera ke rumah sakit agar kamu bisa ditangani." pria itu terlihat panik.
Vania dengan cepat menggeleng begitu mendengar satu nama tempat terlarang itu. Wajahnya menyiratkan keengganan, sekaligus ketakutan yang tidak dapat dia sembuyikan.
"Ja-Jangan, Om. Saya tidak apa-apa. Lebih baik saya pulang saja, rumah saya tidak jauh dari sini." tolak Vania dengan ekspresi tegang.
Pria paruh baya itu ingin menolak. Namun saat melihat wajah tegang gadis di depannya dia akhirnya menurut. Tanpa diminta, dia membantu Vania untuk berdiri. Dan kembali tersentak saat mendengar rintihan gadis itu ketika telapak tangannya menyentuh punggungnya.
"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Sepertinya punggung kamu juga terluka." pria itu kembali menawarkan bantuan.
Vania menggeleng tegas, masih kukuh dengan keputusannya di awal. Dia benar-benar tidak ingin pergi ke rumah sakit. Terlalu banyak luka dan ketakutan hanya dengan mendengar nama tempat itu.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau pergi ke sana, biarkan saya membantu mengobati luka kamu." putus pria itu tak kalah tegas. Seolah tak ingin gadis di depannya membantah.
Vania akhirnya mengangguk pasrah dan membiarkan pria paruh baya yang belum dia ketahui namanya itu membopongnya ke mobil.
"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah menabrak kamu. Saya sedang menerima telfon tadi." ujar pria itu.
Vania tersenyum tipis,"Nggak papa, Om. Em, lain kali jangan nyetir sambil telfonan ya, Om-"
"Heru. Nama saya Heru." pria itu akhirnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan sebelah tangannya.
Vania menyambutnya dengan ramah,"Saya Vania, Om."
Dan dari situlah awal mula Vania dan juga Heru bertemu. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka menjadi lebih dekat.
***