Mobil milik Heru berhenti tepat di depan rumah kontrakan sederhana milik Vania. Dengan dibantu pria paruh baya itu, Vania turun dari mobil milik Heru. Suasana di sekitar kontrakan tampak sepi karena masih siang. Kebanyakan yang tinggal adalah para pekerja pabrik yang akan kembali saat petang.
"D-Di luar saja ya, Om." ujar Vania tak enak membawa masuk seorang pria ke dalam kontrakannya.
Heru menangkap raut wajah tidak nyaman dari Vania. Pria itu mengangguk, mengiyakan ucapan Vania. Heru memilih duduk di kursi kayu panjang yang ada di teras. Sedangkan Vania langsung mengambil tempat, duduk di sebelah pria itu.
Dengan hati-hati Heru mulai mengobati luka yang ada di siku Vania. Heru sangat fokus dan telaten. Sampai tidak menyadari jika Vania sejak tadi menatapnya dengan intens.
Vania merasa kagum dengan paras tampan Heru di usianya yang hampir setengah abad. Ketampanannya tak lekang oleh waktu. Bahkan pria itu terlihat tidak menua karena masih bugar dan wajahnya tidak ada kerutan.
"Ada apa, Van?" Heru menangkap basah Vania yang kedapatan menatap dirinya terus.
Vania gelagapan, terlihat kikuk dengan gesture salah tingkah."E-Enggak ada apa-apa kok, Om." jawabnya.
Heru tak menanggapinya lagi dan kembali melanjutkan kegiatannya mengobati luka Vania. Sesekali terdengar ringisan dari gadis itu. Heru jadi merasa bersalah karena sudah menyebabkan Vania terluka.
"Punggung kamu sepertinya juga terluka. Em, nanti coba kamu bisa obati sendiri ya." Heru tentu tidak mungkin membantu Vania mengobati luka di punggungnya. Sejak tadi saja dia menahan diri untuk tidak berlama-lama menatap Vania.
Vania memiliki paras yang sangat cantik. Usianya terlihat masih muda, mungkin baru di awal dua puluhan. Bentuk tubuhnya tampak aduhai di balik blouse lengan pendek dan rok sebatas lutut yang dikenakanannya.
Vania menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Heru. Entah kenapa dia justru ingin pria itu sekalian mengobati luka di punggungnya. Gila memang, tapi inilah Vania yang sebenarnya. Dia memang memiliki ketertarikan lebih pada seorang pria yang usianya jauh di atasnya. Dan sejak tadi sebenarnya dia berusaha menahan sikapnya agar tidak membuat Heru merasa tidak nyaman.
"A-Apa Om Heru bisa ngobatin luka di punggung aku sekalian? Aku nggak mungkin bisa jangkau lukanya." suara Vania terdengar lirih.
Heru mengerling terkejut mendengar permintaan Vania. Siapa yang menyangka jika gadis itu akan berani memintanya mengobati luka yang ada di punggungnya? Apalagi mereka hanyalah dua orang asing yang baru saja bertemu karena kecelakaan kecil beberapa waktu lalu.
"K-Kamu yakin?" tanya Heru terbata. Degup jantungnya mulai tidak teratur.
Dengan menampilkan raut polos, Vania mengangguk sebagai jawaban. Wajah gadis itu tampak memerah, entah karena rasa malu atau sesuatu yang mendesak di dalam dirinya.
"Iya, Om. Di sini nggak ada yang bisa bantuin aku selain Om Heru." ujarnya dengan raut memelas.
Alasan yang Vania buat terdengar masuk akal. Suasana di sekitar kontrakannya memang sangat sepi. Semua pintu tertutup rapat menandakan rumah-rumah itu tidak berpenghuni.
"D-Di sini?" tanya Heru belum mengiyakan. Tapi dari pertanyaannya, sepertinya pria itu setuju.
Vania mengulum bibirnya,"Di dalam, Om." katanya berbisik.
Heru belum sempat bereaksi ketika Vania sudah lebih dulu menarik lengannya untuk bangun. Dengan lembut gadis itu menuntunnya masuk ke dalam rumah kontrakannya yang sepi.
Vania membawa Heru untuk duduk di ruang tamunya. Dengan langkah gemulai gadis itu berjalan keluar, mengambil obat dan salep yang sempat mereka beli tadi. Lalu kembali masuk ke dalam rumahnya sembari menutup pintu.
"A-Apa tidak sebaiknya kita-"
Ucapan Heru seketika terhenti ketika melihat Vania mulai menanggalkan blouse yang tersampir di bahunya. Degup jantung Heru kian berdetak cepat. Seiring dengan pandangannya yang menyapu bersih punggung mulus Vania yang terpampang nyata di depannya.
"Om Heru bisa ngobatin punggung aku sekarang." ujar Vania menoleh ke arah Heru dengan pipi merona. Gadis itu menjadikan blouse-nya sebagai penutup tubuh bagian depannya.
Pikiran Heru mulai runyam begitu melihat tali ketat yang melingkari punggung Vania. Tanpa perlu bertanya, dia sudah mengetahui nama benda itu.
"Se-Sebenarnya kamu tidak perlu sampai seperti ini, Vania." mulut boleh mengatakan hal itu, tapi dalam hati Heru sebenarnya menikmati pemandangan indah yang Vania sajikan.
Vania kembali menoleh, menatap tepat ke arah manik jelaga Heru."Om ngerasa nggak nyaman, ya? Kalau gitu-"
"Eh, tidak. Tidak papa, sudah terlanjur." Heru menyela ucapan Vania cepat ketika gadis itu hendak memasang kembali blouse-nya.
Vania menunduk, sembari mengulum senyum. Dia memang sudah gila karena bisa-bisanya berpenampilan terbuka di depan pria asing yang baru ditemuinya. Tapi entah kenapa dia sama sekali tidak merasa takut pada Heru. Yang ada justru dia merasa tertarik ingin mengetahui sejauh mana pria itu akan kuat menghadapinya.
Dengan tangan gemetar Heru mulai mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Hembusan napas pria itu terasa menerpa punggung dan tengkuknya. Membuat Vania tanpa sadar meremas blouse yang menutupi bagian dadanya. Menahan gejolak aneh yang hadir saat berdekatan dengan pria itu.
"Ini gila. Aku baru bertemu dengan gadis ini, tapi bagaimana bisa kami sudah sejauh ini." gumam Heru dalam hati. Rasanya benar-benar tidak masuk akal. Tapi inilah yang terjadi di antara dua orang asing yang diam-diam saling tertarik.
"Awshh.."
Ringisan yang terdengar dari bibir Vania entah kenapa terdengar seperti suara desahan di telinga Heru. Pria itu merapatkan bibirnya dengan rahang mengetat. Berusaha mengenyahkan pikiran kotor yanga ada di otaknya.
Tapi punggung mulus Vania benar-benar membuat Heru gagal fokus. Apalagi tali tipis yang melingkari punggungnya. Ingin sekali Heru melepaskannya dari jeratan punggung Vania.
"Ahh.. Om, pelan-pelan." suara lirih Vania membuat Heru tersentak. Pria paruh baya itu tadinya melamun sampai tak sadar menekan luka di punggung Vania terlalu kuat.
Namun yang menjadi permasalahannya, suara Vania tadi benar-benar mengusik ketenangan batin Heru. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana. Dengan bagian selatannya yang mulai sesak di balik celana yang dia kenakan.
"Ma-Maaf, Van. Saya tidak sengaja." ujar Heru dengan suara serak.
Vania mengangguk tanpa berani menatap ke arah Heru. Gadis itu masih setia menatap ke depan. Tak menyadari ada serigala lapar yang berada di belakangnya.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Heru berusaha memecah kecanggungan di antara mereka.
"A-Aku mau cari kerja, Om." balas Vania yang kali ini akhirnya menoleh ke arah Heru. Raut wajahnya setengah memelas dengan tatapan sayu.
Gadis itu tanpa diminta mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sudah hampir satu minggu Vania mencari kerja kesana kemari. Sebelumnya dia bekerja di sebuah minimarket yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tapi Vania merasa tidak nyaman karena sering mendapat gangguan dari para pengunjung dan rekan kerja prianya.
Heru yang sejak tadi menyimak tampak manggut-manggut. Dia merasa tidak heran karena Vania memiliki paras yang sangat cantik dan tubuh aduhai. Jangankan mereka, dirinya saja tidak dapat menampik pesona dari Vania.
Tanpa pikir panjang, Heru akhirnya menawarkan pekerjaan untuk Vania. Kebetulan dia memang sedang membutuhkan sekretaris karena sekretaris lamanya baru saja resign.
"Tapi aku nggak punya pengalaman kerja di bagian itu, Om." kata Vania jujur.
Heru tersenyum merasa terkesan dengan kejujuran Vania."Kalau soal itu kamu tidak perlu khawatir. Di bawah bimbingan saya, pelan-pelan kamu pasti akan terbiasa." jawabnya percaya diri.
Vania tentu merasa senang sekaligus tersanjung. Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan pekerjaan semudah ini dengan jabatan yang tidak main-main. Apalagi pemiliknya langsung yang menawarkan padanya.
"Kalau gitu aku mau, Om." seru Vania cepat tampak bersemangat. Saking semangatnya gadis itu sampai berbalik tanpa aba-aba dan memeluk Heru yang langsung mematung karena mendapatkan pelukan tiba-tiba tersebut.
"Ah, sial. Gadis ini benar-benar berbahaya." umpat Heru dalam hatinya.
***