Sudah hampir dua bulan Vania bekerja menjadi sekretaris di perusahaan milik Heru. Dan selama itu Vania bekerja dengan sangat baik di mata Heru. Tidak salah Heru menawarkan pekerjaan tersebut pada Vania. Vania belajar dengan cepat dan bekerja dengan baik.
Tugas Vania tidak hanya seputar tentang mengatur jadwal Heru saja. Gadis itu juga bertugas menyiapkan kopi dan kebutuhan lainnya. Semua itu atas permintaan dari Heru sendiri.
Seperti pagi ini, Vania baru saja meletakkan segelas kopi hitam tanpa gula kesukaan Heru di atas meja kerjanya. Gadis itu hendak beranjak ketika pintu ruangan atasannya tersebut terbuka dari luar.
"Oh, ternyata kamu sudah lebih dulu datang, Vania." sapa Heru tersenyum ramah.
Vania menunduk dengan semburat merah samar menghiasi pipinya. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman manis.
"Pagi, Pak Heru." sapanya balik.
Heru mendengus kecil, lantas berjalan mendekati Vania yang masih berdiri di sisi meja kerjanya.
"Saya sudah lelah menegur kamu agar tidak bersikap terlalu formal saat kita sedang berdua saja. Kamu bisa memanggil saya seperti biasa, Vania." ujar Heru memutar bola matanya.
Vania tertawa kecil sembari menutup bibirnya dengan sebagian punggung tangan. Tapi Heru masih bisa mendengar suara tawa gadis itu yang mengalun indah di telinganya.
"Ya udah deh, kalau gitu aku nurut apa kata Om Heru aja." jawabnya mulai santai.
Heru mengangguk puas dan tanpa segan mencubit pipi Vania dengan gemas. Hal itu membuat pipi Vania kian bersemu.
"Ih, Om Heru.. sakit pipi aku." keluh Vania manja yang membuat d**a Heru berdebar kencang.
Bukannya menghentikan kegilaan itu, Heru justru makin gencar menggoda Vania. Batasan yang seharusnya dia berikan justru kian hari makin dilanggar. Sebelumnya Heru sering memberikan perhatian lebih pada Vania di luar jam kerja. Seperti mengantarnya pulang atau mengajaknya makan siang bersama.
Seharusnya hal itu tidak dia lakukan bukan? Mengingat mereka tidak memiliki hubungan. Hanya sebatas atasan dan bawahan. Apalagi dengan status Heru yang telah beristri.
Benar, Heru bukanlah seorang duda atau pria bujang lapuk. Dirinya masih memiliki seorang istri yang jarang tersorot. Heru juga memiliki seorang putra yang telah dewasa yang saat ini tengah berada di luar kota, mengurus cabang perusahaannya.
Alasan Heru tidak mengatakan statusnya yang sebenarnya pada Vania karena dia tidak ingin. Heru tidak siap jika gadis itu menjauhinya. Dia ingin Vania bisa bersikap seperti biasanya, manja dan menggoda. Karena Heru sangat menikmatinya.
Kehidupan Heru yang monoton kadang membuatnya merasa bosan. Beberapa kali pria itu kedapatan keluar masuk club malam. Bukan untuk menyewa wanita malam atau semacamnya. Melainkan mabuk-mabukkan tanpa sepengetahuan keluarganya.
Dan kini kebiasaan itu mulai jarang dia lakukan setelah bertemu dengan Vania. Entah kenapa dia merasa tertarik dengan gadis tersebut. Heru seolah dapat melihat jika kepolosan yang Vania perlihatkan selama ini hanyalah topeng. Gadis itu sebenarnya memiliki sisi liar yang belum dia ketahui. Dan Heru merasa tertantang untuk bisa menaklukan Vania. Ck, benar-benar tua-tua keladi.
Heru dengan senyum lebarnya menarik Vania mendekat ke tubuhnya. Pria itu tanpa canggung merangkul pinggang ramping Vania, masih dengan posisi duduk. Wajahnya mendongak penasaran dengan reaksi gadis itu.
Bukannya merasa risih atau segera melepaskan diri, Vania justru diam saja ketika Heru merangkul pinggangnya. Gadis itu justru tampak nyaman berada di dekat Heru. Seolah pasrah membiarkan pria itu melakukan apa yang dia mau.
Heru yang tidak mendapat penolakan tentu saja merasa senang. Semakin liar saja sikapnya dengan mendudukkan Vania di pangkuannya. Apalagi gadis itu diam saja seolah menurut.
"Saya suka gadis penurut seperti kamu, Van." celetuk Heru sembari mengapit dagu Vania dengan ekspresi genit.
Vania tampak malu-malu tapi bibirnya menampilkan senyum manja. Berada di dekat Heru tampaknya membuat Vania merasa nyaman. Tak ada raut risih atau segan di wajahnya.
"Vania emang harus nurut sama Om Heru. Apapun yang Om suruh bakal Vania turutin." ujarnya dengan raut pura-pura polos.
Wajah Heru seketika berbinar mendengarnya,"Serius nih kamu akan menuruti semua perintah Om?" tanyanya mengerling.
Vania menyelipkan helaian rambutnya yang jatuh ke belakang telinga. Lantas menatap Heru dengan pandangan dalam."Serius, Om. Masak nggak percaya sih sama aku?" rajuknya.
Heru tergelak, gemas sendiri dengan tingkah gadis di pangkuannya itu."Kamu ini benar-benar racun, Vania. Bisa-bisa saya khilaf sama kamu."
Vania menatap Heru dengan tatapan bingung. Membuat Heru semakin gemas dan tak kuasa menahan diri untuk tidak mengecup bibir setengah terbuka gadis itu.
Cup~
"Om?" lirih Vania dengan mata membelalak.
Heru tampak santai tanpa merasa bersalah. Pria itu justru dengan santai mengusap pipi Vania yang kemerahan.
"Kamu sadar tidak kalau sejak pertemuan pertama kita waktu itu, saya sudah tertarik sama kamu." ujar Heru mulai jujur. Netra elangnya menatap Vania dengan dalam dan penuh hasrat.
Vania merasakan degup jantungnya meningkat mendengar kejujuran Heru. Sebenarya dia juga merasakan hal yang sama. Gadis itu lantas menunduk, dengan mengulum bibirnya gugup.
"Apa yang bikin Om tertarik sama aku?" tanya Vania dengan semburat merah di pipinya.
Heru tersenyum tipis dengan tangan yang merambat menggenggam tangan Vania yang berada di atas pangkuan.
"Kamu terlihat polos. Tapi saya tahu ada sisi lain yang kamu sembunyikan." Heru menyeringai melihat reaksi Vania yang tampak terkejut.
Vania membasahi bibirnya yang terasa kering. Gadis itu terlihat seperti baru saja tertangkap basah. Tapi dengan cepat Vania dapat mengontrol dirinya.
"Om terganggu sama hal itu?" tanya Vania mencoba santai.
Heru menggeleng kecil sembari tersenyum miring. Wajahnya makin mendekat hingga hanya berjarak sejengkal saja dari wajah Vania.
"Saya justru suka dengan gadis yang liar." bisik Heru. Napas hangatnya menerpa wajah cantik Vania, membuat gadis itu refleks memejamkan matanya.
Heru yang sejak tadi menahan gejolak di dalam dirinya lantas kembali meraup bibir Vania. Kali ini bukan hanya sekedar kecupan saja, melainkan sebuah lumatan yang dalam.
Vania awalnya terkejut dengan serangan tiba-tiba yang Heru layangkan. Tapi lama-lama gadis itu akhirnya mulai pasrah dan larut dalam ciuman memabukkan tersebut.
"Balas ciuman saya, Vania." desis Heru semakin terpantik akan gairahnya.
Dengan gerakan kaku Vania membalas lumatan dari Heru. Tangannya terangkat merangkul leher kokoh pria paruh baya itu. Tubuhnya merapat, berhimpitan dengan d**a bidang Heru.
Ciuman panas tersebut berlangsung selama tiga menit. Vania lebih dulu melepaskan ciumannya ketika pasokan udara di dalam rongga dadanya mulai menipis. Bibirnya tampak membengkak dengan bagian sudutnya yang basah.
Napas Vania masih tersenggal ketika merasakan sentuhan di sudut bibirnya. Gadis itu mendongak dan langsung bertemu pandang dengan iris gelap milik Heru.
"Bibir kamu akan jadi candu saya mulai sekarang, Vania." suara Heru terdengar parau.
Pria itu kembali mendekat dan menggapai bibir Vania yang terasa manis. Melumat bibir atas dan bawah gadis itu secara bergantian. Sesekali dihisapnya benda kenyal tak bertulang itu hingga membuat Vania melenguh.
"Omhhh.." lirih Vania dengan mata sayu.
Heru membuka kelopak matanya, menatap manik bening milik Vania dengan sendu. Tangannya dengan erat merengkuh pinggang gadis itu posesif.
Ciuman Heru berpindah pada tengkuk Vania yang menguarkan bau harum. Kepalanya kian pening mencium aroma memabukkan dari titik tersebut. Gairahnya semakin meningkat, ingin segera dituntaskan.
Tangan yang semula berada di pinggang kini beralih ke bahu. Semakin naik hingga sampai pada gundukan kenyal milik Vania yang tampak menonjol di balik blouse yang dia kenakan. Heru tanpa ragu meremas bukit kembar sebelah kanan Vania dengan lembut. Membuat gadis itu tersentak dan kembali mendesah lirih.
"Kamu menikmatinya, Sayang." lirih Heru tersenyum menyeringai.
Heru semakin gencar meremas kedua bukit kembar Vania. Bibirnya sesekali mengecup leher jenjang gadis itu tanpa meninggalkan jejak.
"Ahh.. Omhh.." desah Vania keenakan.
Heru tersenyum c***l, dengan tidak sabaran dia melepaskan satu persatu kancing baju Vania. Hingga memperlihatkan aset pribadi gadis itu yang masih tertutup bra berwarna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Heru tampak menjilat bibirnya yang terasa kering. Lantas mulai membenamkan wajahnya di belahan d**a Vania. Bibirnya tidak hanya diam, asik mencumbui kulit d**a Vania yang kenyal. Membuat sang empu mendesah sekaligus terkikik geli karena gesekan kumis Heru.
"Ahh.. geli, Om. Kegesek sama kumis Om Heru." seru Vania manja.
"Tapi kamu keenakan kan?" goda Heru yang membuat Vania tersipu.
Vania membiarkan Heru bermain-main di sana. Sesekali dia akan menggeliat ketika pria paruh baya itu menyematkan gigitannya. Meninggalkan jejak kemerahan yang sangat kentara di kulit putihnya.
"Kenapa kamu membiarkan Om melakukan ini, Sayang? Apa kamu tidak merasa risih?" tanya Heru mengecup dagu Vania dengan lembut.
Vania mengulum bibirnya sembari menunduk. Dengan malu-malu dia mengecup bibir kecoklatan milik Heru. Membuat pria paruh baya itu kesenangan.
"Aku nyaman sama Om Heru. Pengen dimanjain terus." jawab Vania.
Heru tergelak, merasa senang dengan kejujuran Vania. Mulai sekarang dia tidak akan ragu lagi untuk melakukan apa yang dia mau. Karena nyatanya Vania juga menikmati sentuhannya.
"Tebakan saya ternyata benar. Kamu memang gadis hyper yang pura-pura polos." kekeh Heru lantas kembali melanjutkan kegilaannya bersama Vania.
***