DAM | Kepergian Heru

1608 Words
Vania keluar dari ruangan Heru dengan keadaan yang cukup berantakan. Blouse putihnya tampak kusut dengan tatanan rambutnya yang tidak rapi. Jika dilihat dari dekat, bibir gadis itu tampak membengkak. Vania buru-buru masuk ke dalam toilet. Dengan senyum misterius di wajahnya gadis itu membenahi penampilannya yang berantakan karena ulah Heru. "Nggak nyangka banget aku bisa ngelakuin itu sama Om Heru." gumam Vania dengan pipi memerah. Gadis itu menatap satu jejak merah yang menghiasi kulit dadanya. Mengelusnya dengan jari telunjuknya. Vania masih bisa merasakan cumbuan bibir Heru di sana. Dan hal itu kembali membuat bagian bawahnya basah. "Ahh.. aku pengen disentuh lagi sama Om Heru. Sayang banget dia belum sempet ngulum d**a aku gara-gara ada telfon." keluh Vania teringat kegiatan panasnya bersama Heru yang harus terganggu karena pria paruh baya itu tiba-tiba mendapat panggilan dari ponselnya. Tak ingin larut dalam gairahnya sendiri, Vania bergegas menyelesaikan urusannya di toilet. Gadis itu sempat memoles bibirnya lagi dengan lipstik agar terlihat segar. Selang beberapa menit kemudian, Vania akhirnya kembali ke ruangannya yang berada tidak jauh dari ruangan Heru. Gadis itu mencoba mengusir pikiran nakalnya dan kembali bekerja dengan profesional. Biar bagaimanapun dia ingin membuktikan pada Heru jika keputusannya memberikan pekerjaan ini untuknya bukanlah hal yang merugikan. "Habis dari mana kamu?" tanya seorang wanita menghampiri meja Vania. Vania yang tengah fokus pada layar komputer di depannya lantas mendongak. Tersenyum sopan pada wanita yang tengah menatapnya dengan penuh selidik. "Tadi setelah saya dari ruangan Pak Heru langsung buru-buru ke toilet, Mbak Siska." jawab Vania sopan. Wanita bernama Siska yang menjabat sebagai kepala HRD sejak tiga tahun yang lalu itu tampak belum percaya. Tapi Vania sedang tidak ingin meladeninya. Dia hanya ingin bekerja dengan nyaman tanpa gangguan. Walaupun beberapa yang menit lalu baru saja terjebak affair dengan atasannya itu. "Awas aja kalau kamu sampai bohong. Ingat ya, Vania. Kamu nggak boleh tebar pesona sama karyawan yang ada di perusahaan ini, termasuk Pak Heru. Wanita tercantik di sini tuh aku." ujar Siska penuh percaya diri. Vania memutar bola matanya merasa jengah dengan Siska. Sejak dirinya bekerja di sini, wanita itu sudah mengklaim dirinya sendiri sebagai wanita tercantik di perusahaan milik Heru. Tidak ada yang boleh mengunggulinya. "Mbak Siska tenang aja. Aku nggak akan tebar pesona ke karyawan yang lain.(Karena aku lebih tertarik sama Om Heru yang perkasa)." lanjut Vania dalam hati. Siska tersenyum pongah dan berlalu dari pandangan Vania. Langkahnya gemulai dan penuh percaya diri. Tak segan mengibaskan rambut panjangnya yang bergelombang dengan gerakan anggun. Seolah tengah memperlihatkan pada dunia jika dialah wanita yang paling cantik di muka bumi ini. Tck, author lebay. Usai kepergian Siska, Vania akhirnya bisa bernapas lega. Wanita satu itu memang ada saja tingkahnya. Bukannya menjadikannya sebagai partner kerja, Siska justru seperti menganggap dirinya saingan. "Om Heru kok betah sih kerja sama dia." gumam Vania setengah melamun. "Sebenarnya Om juga tidak betah, Sayang." bisik seseorang. "Eh?" Vania terperanjat dan sontak menoleh, mendapati sosok yang tengah dia bicarakan tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya. "O-Om, sejak kapan di sini?" tanya Vania mengusap d**a, menghilangkan rasa terkejutnya. Heru kembali menegakkan tubuhnya,"Sejak kamu marah-marah karena Siska." Vania mendelik,"Aku nggak marah ya, Om. Aku cuma kesel aja sama Mbak Siska." ralatnya. Heru terkekeh sembari memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku. "Terserah kamu saja." balasnya santai. Vania mempoutkan bibirnya yang mana hal itu membuat Heru merasa gemas. Ingin rasanya dia melahap bibir ranum itu. Dan kembali mengulang kegiatan panas mereka lebih jauh. Tapi sayang sekali dia harus pulang ke rumah karena ada hal penting. "Saya ada urusan mendadak. Tolong kamu handle untuk meeting jam 10 nanti alihkan besok setelah jam makan siang ya, Van." ujar Heru masih dengan intonasi lembutnya. Vania mengerjap bingung sebelum akhirnya mengangguk. Rasa penasarannya mulai muncul karena tiba-tiba saja Heru memintanya untuk mengalihkan jadwal meeting pagi ini. Apa mungkin itu ada hubungannya setelah dia mendapatkan panggilan tadi? Heru tersenyum tipis sebelum berlalu meninggalkan Vania dengan rasa penasarannya. Gadis itu masih terus menatap kepergian Heru sampai sosoknya tak terlihat. "Kira-kira Om Heru mau kemana, ya? Kok kayaknya penting banget." gumam Vania pada dirinya sendiri. Gadis itu lantas mengedikan bahunya ringan sebelum kembali berkutat dengan pekerjaannya. Jika di saat jam kerja seperti ini Vania akan terlihat sangat profesional. Hanya saja tadi Heru terus memintanya untuk bersikap biasa. Hingga mereka berakhir saling berbagi kehangatan walau hanya sebentar. Di sisi lain, Heru buru-buru menancap gas keluar dari pelataran perusahaannya. Beberapa menit lalu Paramitha, istrinya mengabari jika putra mereka baru saja mengalami kecelakaan kerja, dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit untuk ditangani. Januar, putra semata wayangnya itu memang dia tugaskan untuk mengurus cabang perusahaannya yang ada di Surabaya. Dan terbukti selama Januar menjabat di sana, perusahaannya semakin berkembang pesat. Melihat kinerja putranya yang bagus, Heru semakin yakin jika Januar telah siap untuk mengurus perusahaan pusat. Rencananya, Heru akan pensiun dini dari dunia bisnis. Usianya sudah hampir kepala 5, sudah waktunya untuk menikmati masa tua. Tapi rencana awal itu agaknya terasa berat bagi dirinya sekarang. Heru masih ingin menikmati kebebasannya dengan menghabiskan waktu bersama Vania. Setidaknya alasan pekerjaan bisa membuatnya bebas bersenang-senang dengan gadis itu. Heru memang sudah sejak awal ingin menjadikan Vania simpanannya. "Tak ku sangka ternyata Vania menyukai pria tua sepertiku. Tapi aku memang masih terlihat tampan dan gagah. Tak salah jika dia menyukaiku haha. Ah, ini benar-benar gila. Tapi aku sangat menikmatinya. Kapan lagi aku bisa bersenang-senang dengan daun muda. Apalagi Vania sepertinya masih virgin, tubuhnya benar-benar idamanku." gumam Heru mengingat sosok Vania. Tak terasa mobil yang dia kendarai telah sampai di parkiran bandara. Dia dan istrinya memang berencana langsung terbang ke surabaya. Paramitha sendiri sudah menunggunya di ruang tunggu. Wanita itu terlihat sangat cemas. "Kenapa kamu lama sekali sih, Mas?" kalimat pedas itu langsung meluncur dari bibir Paramitha begitu Heru sampai. Heru menghembuskan napas kasar, memilih mengabaikan perkataan istrinya itu. Dia merasa sudah biasa menghadapi sikap ketus Paramitha sejak dulu. Wanita itu mana pernah bersikap lembut pada dirinya. Sudah sejak lama kehidupan rumah tangga Heru dan Paramitha terasa hambar. Mungkin karena tidak ada cinta yang melandasi hubungan mereka. Bukan karena Heru tidak ingin, dia sudah berusaha untuk mencintai Paramitha. Tapi wanita itu selalu menjaga jarak darinya. Hingga akhirnya Heru merasa sudah lelah dan memilih untuk mundur. Paramitha yang tidak mendapatkan respon dari suaminya semakin dirundung kesal. Dia benar-benar merasa cemas dengan keadaan Januar. Tapi Heru terlihat tampak baik-baik saja dan tidak terganggu. Apa pria itu tidak khawatir dengan keadaan putranya? Keduanya saling diam, tak tampak seperti pasangan suami istri pada umumnya. Heru yang dikenal ramah, terlihat begitu dingin saat bersama Paramitha. Sampai mereka tiba di Surabaya, tak ada percakapan apapun di antara mereka. Keduanya sama-sama enggan untuk bersuara. Barulah ketika mereka hendak masuk ke ruang inap Januar, raut wajah keduanya sedikit melunak. Seperti sudah biasa, Paramitha dan Heru mulai memerankan perannya. Wanita paruh baya itu langsung meraih lengan Heru untuk dia gandeng. Tidak lupa senyum hangat tampak terpatri di bibirnya yang dipoles lipstik merah merona. Sebenarnya Heru merasa risih. Tapi demi menjaga perasaan putranya, dia menuruti sandiwara Paramitha selama ini. Paramitha langsung berhambur ke arah putranya yang terbaring lemah di atas ranjang. Air matanya menetes melihat kondisi Januar yang terluka di beberapa bagian. "Kenapa kamu bisa seperti ini, Janu? Mama benar-benar khawatir begitu mendengar kabar dari Laskar." tangis Paramitha pecah. Januar berusaha untuk tersenyum di tengah rasa sakitnya. Tak ingin membuat sang mama merasa khawatir berlebihan. "Aku nggak papa kok, Mah. Cuma luka kecil, nggak parah." ujarnya. "Kalau cuma luka kecil, kamu tidak akan sampai dirawat di sini." Paramitha mendengus, antara kesal dan khawatir. Januar tertawa kecil melihat mamanya tampak kesal. Tatapannya lantas beralih ke arah Heru yang berdiri di sisi brankarnya yang lain. "Apa yang terjadi, boy?" tanya Heru dengan lembut. Januar menghela napas berat sebelum menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Saat itu dia tengah meninjau proyek di lapangan. Awalnya semua berjalan normal sampai ketika dia berada di lantai dua, tiba-tiba saja plafon yang ada di atasnya ambrol dan membuatnya tertimpa material bangunan. Sebenarnya ada beberapa korban yang lainnya juga selain Januar. "Syukurlah kamu tidak terluka parah, Nak. Kalau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu, Papa tidak tahu harus bagaimana." ujar Heru menyesal. "Aku baik-baik aja kok, Pah. Nggak ada luka serius, cuma lecet-lecet aja. Jadi Papa sama Mama nggak usah khawatir. Besok kata dokter aku sudah boleh pulang." tutur Januar menenangkan kedua orang tuanya. Paramitha yang sejak tadi diam lantas bersuara."Pokoknya Mama tidak mau tau, besok kamu ikut kita pulang ke Jakarta. Biar perusahaan cabang diurus sama yang lain." putusnya. "Tapi, Mah. Aku belum selesain proyek di sini. Nggak mungkin aku langsung main pindah aja." Januar tampak tidak setuju dengan keputusan sepihak mamanya. Paramitha lantas menatap ke arah Heru. Raut wajahnya tampak memohon."Mas, apa kamu tidak ada solusi? Aku tidak mau hal seperti ini terjadi lagi sama Janu." mohonnya dengan mata berkaca-kaca. "Begini saja, Papa beri kamu waktu satu bulan untuk mengurus perusahaan di sini. Setelah itu kamu harus kembali ke Jakarta. Papa ingin kamu mengurus perusahaan pusat." putus Heru berusaha adil. "Tapi kita sebelumnya udah sepakat aku akan gantiin Papa tahun depan. Aku belum siap kalau harus ngurus perusahaan pusat, Pah. Tanggung jawabnya lebih berat dari perusahaan cabang. Biarin aku di sini dulu sampai waktunya tiba." kali ini Januar yang gantian memohon pada papanya. Dia masih belum siap memegang perusahaan pusat. Dia masih ingin bebas dan tidak merasa terbebani. Heru menghembuskan napas berat sebelum berbicara. Paramitha terus saja merengek memintanya untuk memindahkan Januar ke perusahaannya yang ada di Jakarta. Sehingga pasangan ibu dan anak itu berakhir berdebat. Membuat Heru merasa pusing mendengarnya. "Kita bicarakan ini lain waktu saja. Sekarang lebih baik kamu istirahat. Dan kamu, Mitha.. jangan terlalu memaksa Januar jika dia tidak mau." ujar Heru tegas sebelum keluar dari ruang inap putranya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD