DAM | Perasaan Heru

1765 Words
Kicauan burung pagi yang bertengger di jendela membangunkan Vania dari tidur lelapnya. Gadis itu menggeliat, merasakan tubuhnya yang terasa kaku. Vania baru bisa beristirahat beberapa jam lalu karena tidak bisa tidur. Pikirannya penuh dengan sosok atasannya yang ternyata masih beristri. Vania awalnya mengira jika Heru sudah lama menduda. Atau bisa jadi pria itu masih melajang di usianya yang sudah berkepala lima. Tapi kabar yang dia dengar dari rekan kerjanya sukses membuatnya terkejut. Heru masih memiliki seorang istri yang memang jarang sekali datang ke kantor. Dan dia juga memiliki seorang putra yang telah dewasa dan tengah mengurus perusahaan cabang di luar kota. "Kayaknya aku udah salah godain Om Heru." gumam Vania dengan raut muram. Vania mengawali paginya dengan wajah murung. Gadis itu tampak lesu ketika keluar dari kontrakannya. Begitu juga ketika sampai di depan gedung bertingkat 20 yang menjadi tempatnya bekerja selama beberapa bulan ini. Beberapa karyawan pria menyapanya dengan senyum ramah. Yang dibalas oleh gadis itu dengan anggukan ringan. Hari ini gadis itu masih dalam suasana hati yang buruk. Sehingga hanya meladeni sapaan dari beberapa rekan kerjanya dengan singkat. Langkah kaki Vania melambat saat melihat sosok Heru tampak berdiri di depan ruangannya. Sepertinya pria itu baru saja tiba dan hendak masuk ke dalam ruangannya. Vania berusaha untuk bersikap formal dan menyapa Heru sekedarnya. "Pagi, Pak." sapa Vania dengan senyum ringan. Heru sontak menoleh, mendapati Vania tengah berdiri tak jauh darinya. Senyumnya mengembang, tanpa menyadari jika apa yang dia lakukan membuat Vania tertegun. Tak dapat dipungkiri jika Heru terlihat masih sangat tampan walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Pria itu memiliki pesona tersendiri yang menjadikannya terlihat menarik di mata wanita. "Kamu baru datang, Van?" tegur Heru ramah. Vania tampak kikuk,"I-Iya, Pak. Saya sedikit terlambat dari jam biasanya." jawabnya. Heru menyipitkan matanya mendengar kalimat formal yang Vania ucapkan. Sikap gadis itu tampak tidak seperti biasanya. Seperti sengaja menjaga jarak dari dirinya. "Kamu-" "Pak Heru." seruan cukup keras itu membuat atensi keduanya teralihkan. Tampak Siska tengah berjalan tergesa menuju ke arah mereka. Dengan sebuah map yang ada di genggam tangannya. "Ada apa, Sis?" tanya Heru mengernyit. Apalagi ketika melihat wanita itu tampak terengah dengan peluh membasahi pelipis. "Saya ada perlu sama Bapak." kata Siska dengan senyum lima jari yang selalu dia pamerkan pada lawan jenis. Heru menoleh ke arah Vania sebentar sebelum beralih pada Siska. "Masuk, Sis!" Heru lantas mempersilakan Siska untuk masuk ke ruangannya. Siska tersenyum sumringah dan tanpa ragu melenggak-lenggokkan pinggulnya melangkah masuk ke dalam ruangan milik Heru. Namun sebelum itu dia sempat melirik ke arah Vania dengan senyum culas. "Apa sih maksud nenek lampir itu?" dengus Vania yang melihatnya. Gadis itu memilih untuk masuk ke dalam ruangannya. Mencoba fokus pada pekerjaannya pagi ini. Tak ingin memikirkan Heru atau apapun yang dapat mengganggu konsentrasinya. Sampai jam makan siang tiba, Vania yang biasanya berlama-lama di ruangannya karena sengaja menunggu Heru keluar dari ruangannya untuk makan siang bersama, hari ini memilih untuk cepat-cepat pergi. Gadis itu memutuskan untuk makan siang bersama rekan kerjanya yang lain. "Tumben kamu makan siang bareng kita. Biasanya diajakin sama Pak Bos." celetuk Yunita, salah satu staf di divisi keuangan. Wanita berambut pendek sebahu itu merupakan teman Vania yang cukup dekat sejak dirinya bekerja di perusahaan ini. Keduanya saling mengenal karena sering bertemu di pantry kantor setiap Vania menyiapkan kopi atau camilan saat pagi untuk Heru. Vania tersenyum tipis sembari mengaduk minumannya dengan sedotan."Sekali-kali aku juga pengen makan bareng kalian. Lebih seru tau bisa ngerumpi cantik." kekehnya. "Bener sih. Lagian bukannya makan siang beneran, yang ada kamu malah diajak bahas kerjaan terus." celetuk Rani, teman satu divisi dengan Yunita yang ikut serta. Ketiganya tertawa lepas karena obrolan mereka yang seru. Vania tampak menikmati waktunya bersama Yunita dan juga Rani. Sejenak dia bisa melupakan masalahnya yang mengganggunya sejak tadi pagi. Asik menghabiskan waktu makan siangnya bersama rekan kerjanya, Vania tidak menyadari jika sejak tadi sepasang mata tampak memantaunya dari balik layar. Pria paruh baya itu menatap rekaman CCTV yang ada di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Apa pikiran ku saja atau memang Vania sengaja menghindariku? Sejak pagi dia terlihat berbeda." gumamnya. Mendengus pelan, Heru lantas beranjak dari kursi kebesarannya. Waktu makan siangnya dia gunakan untuk beristirahat di dalam kamar pribadinya yang ada di dalam ruangannya. Heru sedang tidak nafsu makan dan ingin merebahkan tubuhnya saja karena masih merasa lelah setelah perjalanannya dari Surabaya. Pria itu baru tiba di Jakarta beberapa jam yang lalu dan langsung pergi bekerja. "Padahal saya semangat berangkat kerja karena ingin melihat Vania. Tapi dia justru menghindari saya. Awas saja nanti pulang kerja saya tidak akan melepaskannya." sungut Heru sembari meletakkan lengannya ke atas kening. Pria itu lantas memejamkan matanya dengan rasa lelah yang begitu terasa di punggungnya. Dan hanya dalam waktu singkat, Heru akhirnya jatuh ke dalam tidur lelapnya. Kembali pada Vania, gadis cantik yang hari ini memakai blouse biru muda dan dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya sejengkal di atas lutut itu telah kembali dari cafetaria. Vania sempat melirik ke arah pintu ruangan Heru, sebelum mendudukkan dirinya ke kursi kerja. Tak berapa lama, seorang staf dari divisi marketing mengunjungi mejanya. Pria itu menitipkan laporan terkait pemasaran produk baru yang harus ditinjau oleh Heru. Vania menerimanya dengan sopan dan tidak terlalu menanggapi gombalan pria bernama Eric itu yang tak kunjung pergi. "Letakkan saja di meja, Pak Eric. Nanti akan saya teruskan pada Pak Heru." ujar Vania masih dapat mengontrol diri. Eric sepertinya tidak menangkap ketidaknyamanan yang Vania rasakan. Pria itu justru kembali melempar godaan pada Vania yang membuat gadis itu merasa jengkel. "Kalau sudah tidak ada urusan lagi sebaiknya Pak Eric kembali. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." kali ini Vania menanggapinya dengan tegas. Eric tampak ingin protes. Namun dia urungkan ketika melihat tatapan tajam Vania yang mengarah padanya. Sejenis tatapan yang tidak bersahabat dan muak. Vania menghembuskan napas gusar begitu Eric keluar dari ruangannya. Bukan sekali dua kali dia mengalami kejadian tersebut. Hal serupa juga sering terjadi selama dirinya bekerja menjadi sekretaris Heru. Setelah menyelesaikan tugasnya, Vania lantas mengambil tumpukan map berisi laporan yang sempat dititipkan oleh para staf sebelumnya. Kini waktunya gadis itu memberikan laporannya pada Heru. Dengan ragu Vania mengetuk pintu di depannya. Selama menunggu hampir dua menit, dia tak kunjung mendapat balasan dari dalam. Vania kembali mengetuk pintu ruangan Heru lagi, dan kali ini cukup keras. Lagi-lagi, dia tak mendapatkan balasan dari Heru. "Apa Om Heru masih di luar ya?" gumam Vania. Gadis itu memilih untuk kembali ke ruangannya, bermaksud menunggu kedatangan Heru. Tapi hingga pukul 3 sore, Vania tak kunjung melihat batang hidungnya. Vania lantas menatap ponselnya dengan ragu. Dia membuka nomor kontak Heru, hendak menghubunginya. Dia merasa heran, tidak biasanya pria itu pergi tanpa memberitahukannya. Setelah pertimbangan yang cukup matang, Vania akhirnya benar-benar menghubingi nomor pribadi Heru. Gadis itu mondar-mandir di depan ruangannya, dengan mata yang sesekali melirik ke arah pintu ruangan Heru. Panggilannya tersambung, namun tak kunjung dapat jawaban. Vania mulai gemas dan berjalan mendekati ruangan Heru. Entah kenapa gadis itu justru menempelkan telinganya pada pintu. Tidak berharap lebih, tapi mungkin saja pria yang dicarinya ternyata ada di dalam. Tepat ketika dirinya kembali mendial nomor Heru, samar-samar terdengar suara dering ponsel dari dalam. Vania mengerjap, dan dengan penasaran mendorong pintu di depannya hingga terbuka lebar. "Hp-nya di sini, terus orangnya mana?" Vania tampak kebingungan. Netra bening Vania menjelajah ke segala penjuru ruangan. Mencari keberadaan Heru yang tak diketahui dimana rimbanya. Ketika Vania hampir menyerah, samar-samar dia mendengar suara gesekan kayu yang beradu dengan lantai. Vania menajamkan pendengarannya dan menatap ke arah rak buku dengan tatapan menyelidik. "Eh?" Vania terkesiap saat melihat rak buku yang tak jauh dari tempatnya berdiri tiba-tiba terbuka. Belum selesai dengan keterkejutannya, dia kembali dikejutkan dengan kemunculan Heru yang keluar dari dalam sana. "Astaga." Vania memekik dan refleks mundur perlahan. Heru yang masih setengah mengantuk sontak tersentak. Memegangi dadanya karena terkejut mendengar pekikan Vania. "Kamu ini, Van.. bikin saya kaget saja." keluh Heru. Vania mengerjap, sebelum menegakkan tubuhnya yang sempat oleng."Aku lebih kaget liat Om Heru tiba-tiba muncul dari sana." ucapnya tanpa sadar kembali ke setelan awal. Heru terkekeh geli juga merasa senang karena sikap Vania kembali seperti biasanya. Pria itu tanpa ragu mendekat, melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Vania. Yang sukses membuat gadis itu terkesiap dan kembali tersadar. "P-Pak.. jangan begini." Vania berusaha melepaskan diri. Heru memberengut, tak menyukai sikap Vania yang seperti ini. Jika tadi dirinya kebingungan dan memilih diam, sekarang Heru justru merajuk. "Kenapa, hm? Kemarin kita bahkan sudah melakukan hal yang lebih. Apa kamu melupakannya?" tanya Heru dengan suara rendah. Sengaja berbicara di depan telinga Vania. Vania menggigit bibir bawahnya,"Kenapa selama ini Om Heru nggak bilang sama aku kalau punya istri?" tanyanya melempar pertanyaan balik. Heru tampak terdiam selama beberapa detik, sebelum melepaskan rangkulannya. Pria itu mundur perlahan dan mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Dengan Vania yang masih berdiri kaku tak jauh darinya, juga memunggunginya. "Karena saya tidak ingin sikap kamu berubah pada saya. Saya pria beristri yang kesepian, Vania. Kehidupan rumah tangga saya tidak seperti yang kamu bayangkan. Tidak ada kebahagiaan, hanya penuh dengan sandiwara yang membuat saya muak." tutur Heru dengan senyum getir. Vania akhirnya menoleh begitu mendengar penuturan dari Heru. Tatapannya sedikit melembut, namun masih belum benar-benar lemah. "Terus kenapa Om Heru bertahan? Apa karena... cinta?" tanya Vania lagi dengan hati-hati. Heru tersenyum masam,"Kita menikah karena perjodohan bisnis. Cinta? Tidak pernah ada kata itu di dalam hidup saya." balasnya. Vania menunduk, mulai memahami apa yang Heru rasakan. Pria itu pasti selalu dituntut oleh orang tuanya sejak dini. Sehingga harus mengesampingkan perasaannya sendiri. "Jadi Om deketin aku karena kesepian?" Vania memilin ujung rok yang dia kenakan. Heru tak langsung menjawab, melainkan kembali berdiri di depan gadis tersebut. Tangannya mencubit dagu runcing Vania hingga membuat gadis itu mendongak. "Tidak, Sayang. Saya mendekati kamu karena saya benar-benar tertarik pada kamu sejak pertama kali kita bertemu. Kamu berbeda dari banyak wanita yang pernah saya temui. Dan saya selalu ingin berada di dekat kamu." jawab Heru dengan pandangan dalam. Mendapat penjelasan tersebut hati gadia mana yang tidak meleleh. Vania tersipu, dengan jantung bergemuruh. "Om.." lirih Vania menyentuh sisi wajah Heru dengan tangan gemetar. Heru tersenyum tipis, lantas menangkap tangan Vania untuk dia genggam. Lalu dengan lembut mengecup punggung tangan gadis itu. "Jadilah milik saya, Vania. Saya janji akan membahagiakan kamu." Heru nyari berbisik. Tatapannya terkunci pada sosok cantik yang ada di depannya. Apalagi jarak keduanya begitu dekat, nyaris bersentuhan. Pria itu menunggu balasan dari Vania. Anggukan kecil yang Vania berikan membuat d**a Heru membuncah. Dengan lembut pria itu menangkup wajah Vania, lantas mempertemukan bibir mereka. Tidak terburu-buru, tapi begitu dalam. "Kamu kekasih saya mulai sekarang." Heru mengatakan kalimat itu dengan tegas. Seolah menegaskan pada Vania jika setelah ini dia tidak akan melepaskannya dengan mudah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD