Vania sadar jika keputusan yang dia ambil beberapa waktu lalu merupakan keputusan yang besar. Heru bukanlah pria lajang atau seorang dua. Dia adalah pria beristri yang merasa kesepian.
Alasan yang Heru berikan pada Vania tentunya bukanlah suatu pembenaran. Melainkan pelarian dari masalahnya yang membuat Vania ikut terseret.
Tapi Vania tidak sekalipun menyesali hal itu. Dia justru merasa terharu karena Heru berani menunjukkan perasaannya. Sudah sejak lama Vania menyukai pria yang lebih tua darinya. Bukan hanya sebatas perasaan saja, tapi juga sisi liar yang ada di dalam dirinya. Vania menyukai sentuhan dari pria tersebut. Dirinya akan merasa puas dan semakin berga-irah.
"Nanti sore kita pulang bersama, Sayang." kata Heru sembari membenahi rambut Vania yang berantakan setelah kegiatan panas mereka. Hanya saling menyentuh tanpa berbuat lebih. Tapi cukup meredakan naf-su mereka yang sama-sama tinggi.
Vania memasang kancing blouse-nya yang terakhir, lantas menatap sosok di depannya masih dengan kobaran api yang belum padam."Kayak biasanya?" tanyanya dengan alis terangkat.
Heru tersenyum miring,"Tentu saja tidak setelah hari ini." balasnya.
Vania tahu jika hubungannya dengan Heru setelah ini tidak akan lagi sama seperti dulu. Dan memikirkannya, membuat jantungnya berdebar dengan tidak wajar.
"K-Kalo gitu aku keluar dulu ya, Om." Vania tampak gugup, membuat Heru tersenyum kecil.
"Fokus kerjanya, Sayang. Kita lanjutkan yang belum tuntas tadi di kontrakan kamu." kerling Heru nakal.
Wajah Vania dalam sekejap langsung memerah mendengar hal itu. Dia buru-buru pergi meninggalkan ruangan atasannya tersebut dengan langkah cepat. Seolah ingin bersembunyi dari godaan maut yang Heru layangkan.
"Ah, dia menggemaskan sekali." gumam Heru dengan senyum cerah.
Pria itu melanjutkan pekerjaannya dengan suasana hati yang baik. Tidak lagi malas atau uring-uringan karena dihindari oleh Vania. Heru sempat menanyakan alasan kenapa gadis itu menghindarinya. Dan Vania dengan jujur menjawab jika dia tidak ingin disebut sebagai pelakor karena berhubungan dengan suami orang. Tapi nyatanya Vania akhirnya luluh juga pada Heru. Gadis itu berani mengambil risiko setelah mengetahui kebenarannya.
Jarum terus berputar hingga sampai pada angka 4 dan 12. Vania segera merapikan barang-barangnya ketika jam kerjanya telah usai.
"Sudah selesai, Sayang?" tanya seseorang tiba-tiba mengejutkan Vania.
Netra Vania melebar,"Om? Suka banget deh ngagetin aku." rajuknya.
Heru terkekeh dan dengan santai memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku. Pria itu tak menanggapi, memilih menunggu Vania menyelesaikan kegiatannya.
"Ayo, Om." ajak Vania begitu selesai.
Hampir saja Heru ingin menggapai lengan Vania untuk dia gandeng. Tapi dengan sigap gadis itu menghindarinya. Tak ingin karyawan lain melihat apa yang mereka lakukan.
"Kita udah sepakat buat rahasiain hubungan ini, Om." Vania memperingati.
Heru akhirnya mengalah dan menarik kembali tangannya. Diam-diam merutuki dirinya karena terlalu agresif. Apa yang Vania lakukan sudah benar. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahui hubungannya. Heru tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap Vania.
"Kita langsung pulang, Om?" tanya Vania ketika mereka telah masuk ke dalam mobil.
Heru menoleh sebentar sebelum menarik tuas kemudinya,"Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli, Sayang?" tanyanya lembut.
Vania menggeleng dengan wajah tersipu. Heru terkekeh dan tanpa canggung mencubit pipi gadis itu dengan gemas.
"Mulai besok kamu pindah ke apartemen, ya. Om ingin memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk kamu, Sayang." kata Heru di tengah perjalanan.
Vania mengernyit,"Apartemen? M-Maksudnya Om beliin aku apartemen?" tanya Vania memastikan.
"Iya, Sayang. Tenang saja, Om jamin tidak akan ada yang tahu apartemen ini. Semua Om beli atas nama kamu. Termasuk mobil dan perabotan lainnya yang kamu butuhkan." Heru menjawabnya dengan santai.
Vania benar-benar syok mendengar jawaban Heru. Dia tidak menyangka jika pria itu akan memperlakukannya sampai seperti ini. Padahal Vania tidak pernah memintanya.
"Om, jangan berlebihan ya. Aku nggak mau dibilang matre. Aku sayang sama Om Heru tulus tanpa embel-embel apapun." Vania menampilkan raut sendu.
Heru tersenyum mendengarnya. Vania memang gadis yang berbeda. Di saat wanita lain menginginkan sesuatu dari pasangannya, Vania justru tak meminta apa-apa. Heru jadi semakin menyukai gadis itu.
"Kamu nggak perlu khawatir, Sayang. Om melakukan semua ini karena keinginan Om sendiri. Jadi kamu tidak perlu merasa seperti itu." ujar Heru menenangkan sembari mengelus pipi Vania dengan tangannya yang bebas.
Vania mengulum bibirnya pelan sebelum mengangguk. Rasanya memang canggung, tapi dia mencoba untuk terbiasa. Heru memberikan semua itu karena bentuk perasaannya padanya. Jadi Vania harusnya merasa senang akan hal itu, bukan?
Tak terasa perjalanan mereka akhirnya sampai juga di tujuan. Heru lebih dulu keluar dari mobilnya, lantas buru-buru membukakan pintu untuk Vania. Mendapat perlakuan manis tersebut tentu membuat gadis itu merasa senang sekaligus tersipu.
Keduanya berjalan beriringan menuju kontrakan Vania. Suasana di sekitarnya cukup hidup karena beberapa pintu kontrakan yang lain tampak sudah terbuka dengan lampu menyala. Menandakan jika para pemiliknya telah kembali.
Ceklek
Brak
Begitu pintu kembali tertutup, Heru langsung menyergap Vania ke dalam pelukannya. Gadis itu sempat tersentak dan berangsur rileks. Tersenyum malu menikmati kehangatan tubuh Heru yang tengah memeluknya.
"A-Aku bau keringat, Om. Biarin aku bersih-bersih dulu, ya." kata Vania terbata.
Heru bergumam tidak jelas, sibuk mengendus aroma tubuh Vania dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya.
"Baiklah. Om tunggu di sini. Jangan lama-lama." suara Heru terdengar lebih rendah ketika membisikkan kalimat terakhirnya.
Vania mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya gugup. Dengan kikuk gadis itu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Lantas kembali keluar dengan beberapa helai kain di dalam genggamannya.
Kamar mandi Vania terletak di dekat dapur. Sehingga gadis itu juga harus melewati ruang tamu untuk sampai ke kamarnya.
Di tempatnya duduk, Heru dapat melihat dengan leluasa tempat tinggal Vania. Terdapat satu kamar yang ada di pojok kanan. Lalu ada dapur kecil yang menyatu dengan ruang makan. Dan terakhir, ruangan kecil yang ternyata adalah sebuah kamar mandi. Semuanya terpampang nyata tanpa penghalang.
Gemuruh di d**a Heru kian berdengung ketika sayup-sayup mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Di tempat itu Vania tengah membersihkan dirinya, tentunya dengan keadaan tanpa busana. Dan hal itu sukses membuat pikiran Heru kemana-mana.
Heru memang m***m, tapi sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak berbuat rendahan. Mengintip seorang gadis saat mandi bukanlah sosok dirinya. Heru masih bisa mengendalikan dirinya, walau rasa ingin tahunya begitu besar.
Tak berselang lama, Vania akhirnya keluar dari bilik kamar mandinya. Wajahnya terlihat segar, dengan rambut setengah basah. Penampilannya cukup menggoda, dengan setelan crop top hitam yang menampilkan sebagian perut mulusnya, dan celana pendek sebatas paha berwarna abu-abu yang membungkus kaki jenjangnya.
Glup
Seketika itu Heru menelan ludahnya dengan susah payah. Penampilan Vania petang ini benar-benar menggoda imannya. Adik kecilnya yang sejak tadi tertidur langsung bangun hanya dengan melihat penampilan Vania.
"O-Om Heru nggak mau mandi sekalian? Kamar mandinya bersih kok, Om." tawar Vania malu-malu.
Heru merapatkan bibirnya sejenak,"Baiklah kalau begitu. Ehem, tolong ambilkan baju saya di dalam mobil ya, Van." pintanya.
"E-Iya, Om. Vania ambilin sekarang. Om masuk aja dulu." Vania terlihat kikuk, dan buru-buru membuka pintu kontrakannya.
Dengan gelisah Vania berjalan menuju mobil Heru yang terparkir di depan rumah kontrakannya. Gadis itu lantas mengambil setelan baju yang tersusun rapi di bagasi. Cukup kagum dengan barang-barang milik Heru yang ada di dalam sana.
"Ternyata Om Heru suka nyetok baju di mobilnya. Nggak cuma baju santai aja, ada setelan kerja juga. Fix sih, nggak perlu pulang kalau kayak gini." gumam Vania sembari menutup pintu bagasi.
Belum sempat gadis itu beranjak, tetangga kontrakannya tampak menghampirinya. Dengan raut penasaran sekaligus iri.
"Mobil siapa nih, Van? g***n kamu, ya?" tanyanya mengejek.
"Itu mulut kayak nggak pernah disekolahin aja." cibir Vania defensif.
Wanita yang terpaut beberapa tahun di atas Vania itu tampaknya tersulut emosi. Dengan kasar dia mendorong bahu Vania hingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Sombong banget kamu, ya. Mentang-mentang dapet g***n kaya raya. Awas aja aku bakal sebarin berita ini ke yang lain, biar kamu tahu rasa. Gayanya aja kerja kantoran, tapi ternyata jadi simpanan atasan." sungut wanita tersebut.
Vania tentu merasa sakit hati mendengarnya. Wanita di depannya ini tidak tahu apa-apa. Tapi ucapannya benar-benar membuatnya geram.
"Sebarin aja, Mbak. Saya nggak takut. Omongan Mbak tuh kayak orang paling bener aja. Inget tuh anak sama suami di kampung. Jangan pacaran terus sama berondong di perantauan." balas Vania yang memang sudah sejak lama mengetahui sepak terjang wanita di depannya.
Tanpa ingin melihat reaksi dari tetangga kontrakannya itu, Vania memilih segera masuk ke dalam rumahnya. Mengunci pintu kontrakannya rapat-rapat dengan dorongan cukup kuat. Emosinya masih meledak-ledak karena pertikaian tadi.
"Minimal sadar diri sebelum ngatain orang lain." sungut Vania.
***