DAM | Bermalam

1497 Words
Kriet.. "Kamu sudah mengambil bajunya, Van?" tanya Heru membuka sedikit pintu kamar mandi. Vania yang masih berdiri di depan pintu yang tertutup sontak tersadar. Gadis itu sampai lupa dengan kehadiran Heru di rumahnya. "Ah, Su-Sudah." jawab Vania gugup. Gadis itu lantas memberikan baju yang dia ambil pada Heru. Pria itu sempat mengedip nakal, mengucapkan terimakasih. Vania yang melihatnya tampak terkesiap dengan wajah merah padam. Selagi Heru masih berada di dalam kamar mandi, Vania memutuskan untuk menata makanan yang sempat mereka beli sebelum pulang. Gadis itu juga merebus air, ingin membuatkan secangkir kopi untuk Heru. Apa yang Vania lakukan tampak seperti seorang istri yang tengah menyambut kepulangan suami. Gadis itu terlalu fokus mengaduk kopi, sampai tidak menyadari jika Heru telah berdiri di belakangnya. Dan... Greb "Kamu membuat kopi untuk saya, hm?" bisik Heru memeluk Vania dari belakang. Vania sempat terkejut, tapi dengan cepat gadis itu bisa mengendalikan dirinya. Dia mengangguk, dan menyandarkan kepalanya di d**a bidang Heru yang terbalut kaos putih polos. "Bau Om Heru jadi sama kayak bau aku." Vania terkekeh kecil sembari mengendus d**a Heru. Heru tersenyum miring dan mendaratkan satu kecupan di ubun-ubun Vania. "Tentu saja, Sayang. Kita menggunakan sabun yang sama." balas Heru ringan. Vania tertawa kecil dan memutar tubuhnya menjadi menghadap Heru. Ditatapnya pria paruh baya di depannya dengan intens. Lantas telunjuknya terjulur, membentuk pola abstrak di d**a Heru yang terasa keras. "Om nyaman sama aku?" tanya gadis itu. "Sangat nyaman. Sampai rasanya Om tidak ingin pulang." jawab Heru menikmati sentuhan liar di dadanya. Vania mengulum senyum,"Kalau gitu Om Heru nginap aja di sini. Temenin aku malam ini, Om." bisiknya di akhir kata. Tawaran yang Vania bisikkan terdengar sangat menggiurkan. Heru tentu tidak bodoh mengartikan ajakan tersebut. Dirinya yang sudah lama tidak mendapat kehangatan dari seorang wanita tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. "Dengan senang hati, Sayang. Om akan menghangatkan malam kamu." balas Heru tersenyum simpul sembari menyatukan kening mereka. "Tapi kita butuh tenaga buat nanti malam, Om. Aku tau, Om Heru nggak akan cukup ngelakuin satu kali." pipi Vania terasa panas ketika dirinya mengatakan itu. Heru tergelak, tersenyum lebar karena Vania sepertinya tahu segila apa dirinya. Dengan sekali tarikan, diangkatnya gadis itu ke dalam gendongan. Lalu dia dudukkan di atas kursi. "Makan yang banyak, Sayang. Kamu butuh amunisi yang cukup untuk mengimbangi kebringasan saya." kata Heru penuh makna. Keduanya lantas menghabiskan makan malam mereka dengan tenang. Sesekali mereka saling melempar godaan yang membuat suasana tak meredup. "Kamu siap, Sayang?" tanya Heru begitu melihat Vania telah menyelesaikan makanannya. Vania tampak mengangguk dengan malu-malu. Lantas beranjak dari kursinya dan beralih duduk di atas pangkuan Heru. "Sepertinya kamu sudah tidak sabar." Heru terkekeh, ujung hidungnya menyentuh garis leher Vania yang jenjang. Vania mencengkram pundak Heru dengan lembut,"Udah lama aku penasaran, Om. Aku pengen ngelakuin itu, tapi sama orang yang lebih tua dari aku." balasnya. Heru mendaratkan bibirnya di rahang Vania. Mengecupnya dengan sentuhan mendamba. "Kenapa kamu ingin melakukannya dengan pria tua seperti saya? Padahal kamu masih muda, Sayang. Pria seusia kamu justru lebih tampan dan menarik." tanya Heru dengan tangan yang menjalar kemana-mana, menelusuri lekuk tubuh Vania yang aduhai. Vania menggigit bibir bawahnya saat merasakan gigitan kecil pada lehernya. "Nggak ada yang lebih menggoda di mata aku kecuali pria tua yang matang kayak Om Heru. Cuma diliatin aja.. aku bakal langsung basah." Vania menjawabnya dengan wajah sayu. Berada di dekat pria tua dan matang seperti itu Heru sudah membuatnya kalang kabut. Apalagi jika disentuh seintens ini. "Dasar gadis hyper. Setelah ini jangan harap bisa lepas dari Om." kekeh Heru mere-mas salah satu bukit kembar Vania, yang membuat gadis itu berjengit. "Ahh.. nggak ada alasan buat aku lari dari Om Heru. Aku milik kamu, Om." kata Vania dengan suara mendayu. Menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pria paruh baya itu. Heru menggeram, dan semakin bergerak liar. Bibirnya menggapai bibir mungil Vania yang sejak tadi menggodanya. Diciumnya gadis itu dengan rakus dan panas. Seolah menegaskan pada Vania jika dirinya benar-benar mendambakannya. Dengan senang hati Vania membalas setiap lumatan yang Heru berikan. Tangannya sibuk menjambak rambut bergaya taper fade milik Heru yang mulai memutih. Menandakan perbedaan usia yang membentang di antara mereka. Tapi tidak cukup menjadikan penghalang bagi hubungan keduanya. Selagi berciuman, Heru dengan mudah mengangkat tubuh Vania tanpa beban. Pria itu mulai melangkah menuju kamar Vania yang berada di samping ruangan. Bruk Dengan lembut Heru melempar tubuh Vania ke atas ranjang. Pria itu masih berdiri di tepi ranjang sembari melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya. Tatapanya begitu tajam, bagai predator yang siap memangsa buruan. Vania terlihat gelisah sekaligus tertantang. Gadis itu tidak sekalipun ingin beranjak dan justru pasrah ketika Heru menarik lepas celana pendek yang dia kenakan. Tanpa pria itu minta, Vania juga melepaskan crop top yang melekat di tubuhnya. Menjadikan dirinya hanya berbalut pakaian dalam saja di depan pria paruh baya itu. "Kamu benar-benar menggoda, Sayang." Heru berujar serak. Dikungkungnya tubuh Vania di bawah kuasanya. Lantas diciumnya gadis itu dari ujung rambut hingga kepala. Heru benar-benar memperlakukan Vania dengan lembut. Vania sibuk meremas sprei ketika ciuman Heru berlama-lama di belahan dadanya. Pria itu meninggalkan banyak tanda cinta dan jilatan hangat yang membuat kulit putihnya mengkilap diterpa cahaya. "Omhhh.." desis Vania. "Nikmatilah, Sayang." Heru berbisik sejenak dan kembali menenggelamkan bibirnya di antara bukit kembar Vania. Tangannya merayap ke balik punggung gadis itu. Lantas menarik lepas kaitan penghalang yang menutupi keindahan bukit kembar Vania. Heru benar-benar menyingkirkan kain berbentuk kacamata itu dari singgasananya. Membuatnya dapat melihat dengan jelas pemandangan indah yang menyejukkan mata. Menjilat bibirnya lapar, Heru tanpa ragu mulai menikmati salah satu bukit kembar Vania. Mengulumnya dengan rakus, menghisapnya seakan terdapat cairan kehidupan yang keluar dari sana. Keterkejutan tampak jelas di wajah Heru ketika indra pengecapnya merasakan rasa manis gurih ketika mengulum d**a Vania. Pria itu menghentikan kegiatannya, mencerna apa yang baru saja dia rasakan. Vania yang kehilangan sentuhan di dadanya lantas membuka matanya. Melihat wajah tertegun Heru yang tengah memperhatikan bukit kembarnya. "Om Heru pasti kaget, ya." lirih Vania. Heru mengalihkan atensinya pada sosok Vania. Menatapnya dengan pandangan menuntut. "Aku emang udah lama bisa ngeluarin asi, Om. Sejak aku umur 15 tahun. Bukan karena aku udah pernah hamil. Tapi karena kelebihan hormon prolaktin." jelas Vania dengan pembawaan tenang. Heru sempat terdiam, mencoba mencerna penjelasan dari Vania. Sedetik kemudian pria paruh baya itu tersenyum dan membelai wajah Vania dengan sayang. "Kamu gadis yang sangat istimewa, Sayang. Sejujurnya Om memang memiliki ketertarikan lebih pada gadis yang bisa menyusui. Kamu benar-benar paket istimewa." kata Heru tak merasa terganggu. Vania yang merasa diterima tentu perasaannya semakin membuncah. Ditariknya leher kokoh Heru, lalu diciumnya bibir pria paruh baya itu dengan beringas. "Sentuh aku, Om. Puasin naf-su Om sama aku." Vania benar-benar telah kehilangan kendali dirinya. Heru tentu semakin tersulut dan kembali melanjutkan kegiatannya. Dengan rakus dia menyusu pada d**a kanan Vania. Membuat gadis itu menjerit antara nikmat dan nyeri. Tangan Heru yang bebas bergerak turun menggoda bagian bawah Vania. Dielusnya lembah surgawi itu dari dalam CD yang Vania kenakan. Heru dapat merasakan jika bagian itu telah basah. "Kamu sudah basah, Sayang." bisik Heru. Vania menggeliat, tanpa sadar semaki melebarkan kedua kakinya ketika jari-jari Heru bergerak semakin liar. "Ahh.. masukin aku, Om. Aku udah nggak tahan pengen diso-dok sama perkutut Om Heru." jerit Vania tak tahan. Heru tentu merasa diawang-awang. Gadis muda di bawahnya ini benar-benar pasrah dan mendamba sentuhannya. Vania begitu jujur pada tubuhnya, membuat gairah Heru semakin terbakar. Dengan tergesa Heru melucuti kain terakhir yang melekat di tubuh mereka. Dia sempat tertegun saat melihat goa sempit Vania yang bersih tanpa hutan rimba. Benar-benar pemandangan yang menggiurkan. "Biarkan Om mencicipi apem legit kamu dulu, Sayang." Heru bersuara serak. Pria paruh baya itu lantas turun dari ranjang. Menarik lembut kaki Vania hingga menyentuh lantai. Heru kemudian mengangkat kedua kaki gadis itu ke tepi ranjang dan melebarkannya. Membuatnya dapat melihat dengan jelas goa sempit Vania yang menggiurkan. Cup~ Slurp Ouchhh... Vania sukses dibuat menggelinjang ketika Heru mengobrak-abrik lembah surgawinya. Bibir dan lidah pria itu begitu lihai memanjakannya. Membuatnya merasa ketagihan, dan keluar berkali-kali. Puas bermain dengan bagian bawah tubuh Vania, Heru lantas menegakkan tubuhnya. Bagian selatannya sudah menegang sejak tadi. Siap menggempur pertahanan terakhir milik Vania. "Ahh..Om.." Vania terlihat gelisah ketika Heru menggesekkan batangnya di labianya. Heru tersenyum menyeringai, menikmati kegelisahan gadis muda di bawahnya. Pria itu lantas mulai mendorong miliknya masuk ke dalam inti Vania. Membuat gadis itu setengah menjerit dengan cengkraman kuat di punggungnya. "Sa-kit, Om." keluh Vania begitu Heru berhasil menembus segel kesuciannya. "Tenang, Sayang. Om akan bergerak pelan. Setelah ini kamu tidak akan merasa kesakitan lagi." bisik Heru menenangkan. Benar saja, setelah beberapa kali bergerak Vania tidak lagi merasakan sakit. Dia justru merasakan nikmat yang tiada tara. Membuatnya mendesah keenakan dan ketagihan. "Omhh.. ahhh.. e-nakhhh.. ahh.. te-rushhh.. ouchhh.." racau Vania menikmati gempuran Heru. Heru tersenyum culas dan semakin bersemangat menghentakkan pinggulnya. Menyentuh titik terdalam Vania dengan senjatanya. "Kamu sangat nikmat, Sayang. Saya tidak akan membiarkan kamu tidur malam ini." erang Heru tanpa mengendurkan tempo genjotannya. Menggempur gadis muda yang lebih pantas menjadi anaknya. Yang kini telah menjadi kekasih gelapnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD