My Prince - 21

1451 Words
Hari itu. Hari dimana Arga selesai memperbaiki sifat Willy dari kotor menjadi bersih. Sebenarnya, Willy merupakan sebuah robot, Arga mengetahuinya saat dia masih sekolah dulu. Kronologinya adalah ketika Arga secara tak sengaja melihat Willy yang sedang tidur-tiduran di meja, perut metalnya terbuka begitu saja tanpa disadari oleh pemiliknya. Alhasil, Arga terkejut dan berusaha untuk tidak menimbulkan kepanikan dengan menghampiri Willy lalu menutup perut metalnya yang terbuka untuk seperti sedia kala. Begitulah ceritanya, jadi intinya, Willy pun tak pernah sadar kalau dirinya merupakan sebuah robot, dia mengatakan kalau kekuatannya itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan, padahal sebenarnya, itu salah satu kelebihannya sebagai manusia mesin. "Jadi, bagaimana, Sobat!? Apakah kau sudah bertemu dengan para putri di istana ini? Aku penasaran pada jawabanmu, Sobat! Katakan-katakan! Apakah mereka sama seperti yang orang-orang bicarakan? Aku yakin! Setelah melihatnya langsung, mereka pasti berbeda, kan? Satu lagi. Arga mengatur ingatan Willy untuk kembali ke masa di mana bocah itu belum datang ke istana ini, sudah sewajarnya jika reaksinya seperti itu. Ah, Arga agak malas untuk membahas sesuatu yang sudah dibahas, ini merupakan resiko ketika dia memundurkan ingatan sahabatnya ke masa lalu. Sungguh, Arga sering melakukan hal itu-mengatur ingatan sahabatnya-sejak dulu, dan dia tak habis pikir kalau sekarang pun harus melakukan hal yang sama lagi. Rasanya seperti nostalgia, ketika Willy berusaha membunuh seseorang, Arga pasti langsung berusaha menghentikkan sahabatnya dengan membuatnya pingsan, lalu mengacak ingatan bocah pendek itu untuk kembali ke masa lalu kemudian Arga harus melakukan kebohongan untuk menutupi semua itu. Karena terpaksa, Arga pun menceritakan segalanya mengenai para putri di istana ini kepada sahabatnya, dan Willy terlihat sangat semangat ketika mendengarkannya, respon bocah itu sangat cepat sampai si pengarang cerita sedikit kerepotan. Tapi, Arga senang, walaupun dia harus melakukan hal yang sama seperti pertama kali dia bertemu dengan Willy, setidaknya, saat ini sahabatnya tidak memiliki niat jahat pada siapa pun. Arga juga sengaja menceritakan para putri sebagai gadis-gadis yang baik-bahkan kelewat baik-agar Willy menganggap bahwa mereka bukanlah sebuah ancaman untuk dimusnahkan. "Wooooow! Luar biasa! Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengan Putri Emilia yang sopan! Putri Agnes yang rajin! Putri Victoria yang lucu! Putri Laila yang baik hati! Dan juga Putri Charlotte yang ramah! Ah, aku benar-benar tak sabaaaaar! Sobat!" Dan sifat berisik dari Willy kembali lagi seperti semula, Arga melihatnya antara senang dan risih, tapi dia bersyukur. Usahanya dalam memperbaiki sifat dan ingatan Willy telah membuahkan hasil. Dia memang sedikit kesal mendengar suara berisik dari sahabatnya itu, tapi itulah yang dia inginkan, karena memang sudah seharusnya Willy bersikap seperti itu. Jika Willy tiba-tiba berubah dari sifatnya-seperti kejadian yang sebelumnya-menurut Arga, itu bukanlah orang yang ia kenal. Fenomena yang terjadi pada tubuh Willy bukanlah sebuah penyakit kepribadian ganda atau semacamnya, itu pemikiran yang keliru. Menurut Arga, karena mesin yang mengatur kehidupan Willy sudah tidak pernah diperbaiki, makanya terkadang hal tersebut dapat menimbulkan efek pada kepribadian sahabatnya yang bisa membuat sifatnya berubah dari biasanya, bukan hanya kepribadian saja, efek tersebut juga dapat menimbulkan hal-hal yang lainnya, seperti kaki mendadak lumpuh, lima indera tiba-tiba tak berfungsi, atau nafsu yang sulit untuk dikendalikan. Karena itulah, jika tanda-tanda tersebut muncul di hadapannya, Arga selalu jadi yang pertama untuk membuat Willy tak sadarkan diri sebelum sahabatnya itu melukai orang yang tak bersalah. "Jika kau memang penasaran pada sosok mereka, kau harus bersabar, karena pekerjaan seorang putri bukan hanya melayani penggemarnya, mereka terlahir sebagai manusia yang sangat sibuk, jadi, kau harus meminta izin dulu pada pengawalnya agar bisa dibuatkan jadwal pertemuanmu dengan para putri." ungkap Arga dengan wajah sok keren di depan Willy. Sementara Willy kelihatannya mudah percaya pada omongan Arga yang kurang lebih bohong. Arga tidak mungkin mempertemukan Willy dengan para putri setelah kejadian tadi siang yang mencengangkan itu. Karena itulah dia harus bisa membuat Willy melupakan rasa penasarannya terhadap para putri agar sahabatnya tidak terkena masalah. Mungkin sebaiknya aku membongkar identitas Willy pada mereka, agar mereka dapat memahami keadaannya lalu rela berbaik hati mengabulkan permintaan Willy yang ingin berjabat tangan dengan mereka. Tapi, kedengarannya sulit, mengingat hampir semua putri memiliki sifat keras kepala. *** Sore ini, ketika Willy tidur di ranjangnya, Arga keluar untuk jalan-jalan sebentar di halaman utama istana untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di bawah naungan pohon cemara sendirian. Dia tersenyum, melihat betapa indahnya langit jingga yang dihiasi dengan burung-burung beterbangan, rasanya seperti dia menikmatinya bersama keluarga. Bicara tentang keluarga, Arga pun memiliki keluarga seperti manusia-manusia lainnya, tentu saja, dia bukan makhluk aneh yang lahir tanpa seorang induk. Tanduk yang tertanam di kepalanya merupakan turunan dari orangtuanya, seperti yang kita tahu, tanduk yang ada di rambut pirangnya berbentuk melengkung dan berwarna hitam, seperti tanduk seekor kambing. Tapi sejatinya, Arga bukanlah manusia setengah kambing atau sebaliknya. Arga adalah keturunan asli dari para iblis. Sebenarnya, Arga berasal dari neraka. Dia berada di bumi karena kesalahannya, dia telah mencoreng nama jenisnya sendiri dengan berbuat baik pada makhluk lain, seharusnya seorang iblis harus punya jiwa jahat seperti api. Tapi sayangnya, Arga berbeda dari kebanyakan iblis, membuat dirinya dihempaskan dari neraka untuk turun ke bumi dan berbaur dengan para manusia. Umur Arga sudah ribuan tahun, tetapi penampilannya masih sama seperti manusia berusia dua puluhan tahun, itu adalah kelebihan seorang iblis. Selama berada di bumi, Arga menemukan banyak hal yang menyenangkan dan menyedihkan. Dia sudah memahami manusia, bahkan menganggap dirinya sebagai manusia. Belum ada yang mengetahui rahasia dari Arga yang sebenarnya, dan dia pun merasa tidak perlu mempermasalahkannya karena beruntungnya, manusia-manusia di bumi memiliki tingkat toleransi yang cukup tinggi pada makhluk-makhluk aneh-seperti Arga contohnya yang punya tanduk di kepalanya. "Tidak biasanya kau ke halaman utama, Arga." Tiba-tiba terdengar suara berat seorang lelaki, menoleh, rupanya dugaannya benar, Sang Raja tengah berdiri di sampingnya, bersama di bawah naungan pohon cemara dalam menikmati sore yang indah ini. "Ahahahah, Anda juga, Yang Mulia. Tak biasanya Anda pergi kemari seorang diri. Apakah ada sesuatu hingga Anda kemari, Yang Mulia?" William mendaratkan bokongnya untuk duduk di atas rumput bersama Arga. "Yah, seorang Raja pun ingin sekali-kali memiliki kebebasan sepertimu, Arga, hahahah." Mendengar lelucon tersebut membuat Arga ikut tertawa, walau sejujurnya itu lebih terdengar menyedihkan daripada lucu. "Ngomong-ngomong, Yang Mulia," ucap Arga dengan kepala di dongakkan, memandangi langit sore dengan terdenyum. "Kudengar Anda akan segera turun takhta dan Anda juga menunjuk saya untuk menjadi sebagai penerus takhta, apakah benar?" Di sampingnya, William ikut tersenyum dan menatap langit. "Ya, itu benar," jawab William dengan nada yang lembut. "Maaf jika keputusanku terlalu cepat sehingga mengejutkanmu, tapi aku sudah yakin pada keputusan itu karena menurut pandanganku, kau memang layak untuk menjadi raja selanjutnya, Arga." "Yang Mulia," timpal Arga dengan cepat. "Saya adalah seorang pengelana. Saya tidak pernah menetap di tempat yang sama dalam waktu yang lama, bahkan, setelah menikahi salah satu putri Anda, saya akan membawanya untuk melanjutkan perjalanan saya dalam mengelilingi dunia. Saya senang Anda memilih saya sebagai raja selanjutnya, tetapi--" "Aku paham maksudmu, Arga," William langsung memotong ucapan Arga. "Kau seorang pengelana dan kau ingin melanjutkan perjalanan panjangmu setelah menikahi salah satu putriku, aku paham pada pemikiranmu karena dulunya aku juga seorang pengelana sepertimu, Arga." Sungguh, bola mata Arga membulat mendengarnya, dia tak percaya pada kenyataan tersebut. "Be-Benarkah?" "Menjadi seorang pengelana memang menyenangkan. Kau bisa pergi kemana pun sesukamu dan singgah di berbagai tempat setiap waktu, memiliki banyak kenalan dari segala tempat dan mendapatkan banyak pengalaman dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di perjalananmu. Aku paham rasanya. Tetapi, biar kuberitahu satu hal, selama aku mengarungi berbagai negeri, selama aku melewati berbagai kota, dan selama aku menjadi seorang pengelana sejati, di saat itulah aku lupa pada kehidupanku sendiri. Lupa pada kewajibanku sebagai manusia. Lupa pada segala hal yang berkaitan dengan masa depan. "Hidupmu tidak akan pernah bahagia jika kau tetap menjadi seorang pengelana, sebab mengingat jalan pulang dan membuat sebuah keluarga adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai jika dibandingkan dengan menjelajahi dunia ini. Apakah kau mengerti pada ucapanku, Arga Gelisto?" Saat ini, kepala Arga ditundukkan, matanya menatap hijaunya rerumputan yang menutupi tanah, matanya sedikit berkaca-kaca. "Intinya, Anda sedang mencoba mengajak saya untuk kembali pulang, kan?" tanya Arga dengan suara yang bergetar. William mengusap punggung Arga. "Tentu saja, keluarga adalah tempat yang paling bagus untukmu pulang, dan ehem! setelah kau pulang, kau juga bisa membicarakan pernikahanmu pada orangtuamu, Arga." Mendengar kata keluarga membuat mata Arga semakin perih. "Bagaimana jika keluarga saya tidak menginginkan saya untuk kembali?" Kaget, William mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu, Arga?" "Saya telah membuat kesalahan besar di negeri yang saya tinggali, membuat mereka mengusir saya karena menganggap saya adalah makhluk hina yang harus dilenyapkan. Karena hal itulah, saya sudah tak punya lagi tempat untuk pulang, Yang Mulia." Setelah mengatakan hal itu, pandangannya dialihkan pada sang raja kemudian Arga tersenyum pada William dengan senyuman yang sangat menyakitkan. TO BE CONTINUED ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD