Daijoubu !

1090 Words
Siang ini Aelina menemui Rita di sebuah taman, dia berniat untuk menemui Rita untuk membujuk Rita agar tetap menjadi editornya . Sudah sekitar 20 menit Aelina menunggu . Setelah berselang lama kemudian Rita datang. Dengan napas sedikit terengah-engah Rita duduk dihadapan Aelina. Ada perasaan tidak enak dalam hati Aelina melihat Rita terengah-engah seperti itu. "Lin, maaf ya mama terlambat . Kita ke restoran yang ada diseberang taman ini aja yuk." "Kan sekarang jam 4 ma. "Iya, mama belum makan dari pagi. Tadi pagi ketemu W.O terus fitting baju sekalian sama ngecek souvenir. Jadi belum sempet sarapan sama makan siang. Hahahahahaha" Aelina termenung mendengar  omongan Rita. Ada perasaan tidak enak mendengar betapa sibuknya Rita beberapa waktu belakangan ini. "Hei ! Kok bengong ? ayo jalan" Setelah memasuki restoran mereka disambut oleh pelayan dengan wajah yang tampan dan wangi. Refleks Aelina bersembunyi dibalik tubuh Rita dan menundukkan kepalanya . Dia benci dengan dirinya yang mudah berdebar sama lelaki yang good looking seperti pelayan tadi. Dia sangat tidak nyaman dengan situasinya tersebut. "Meja untuk dua orang ya" "Baik bu Rita silakan , biar saya pandu" Aelina terkejut karena pelayan tersebut menyebut nama Rita . Setelah Rita dan Aelina duduk di kursi yang disediakan pelayan tersebut memberikan buku menu .  "Jika sudah siap untuk memesan silakan panggil kami, Saya permisi dulu" Setelah pelayan itu pergi Aelina langsung memberikan tatapan minta penjelasan .  "Ini restoran temennya Edrick, jadi mama sering kesini" Aelina hanya manggut-manggut , kemudian matanya berkeliling melihat isi restoran yang cukup mewah menurutnya. Dengan d******i warna putih gading dan hitam restoran ini cukup menarik. Dilengkapi dengan kursi yang terlihat mewah . Aelina mengambil buku menu yang ada dimeja Aelina ingin makan yang tidak terlalu berat, melihat harganya yang selangit membuat Aelina mengurungkan niatnya. Dia harus berhemat karena sudah tanggal tua. "Kok ga jadi ?" "Ehm.. gapapa ma, aku ga mau pesen apapun" "Pesen aja mama yang traktir, tenang aja mama ada ini" jawab Rita sambil mengayunkan kartu unlimited silver card . Mata Aelina melotot melihat kartu tersebut. Walaupun tidak sehebat black card no 1 didunia tetapi kartu tersebut juga disebut-sebut sebagai kartu terhebat no 2 yang untuk mendapatkannya juga tidak mudah.  "Mama punya kartu itu ?" "Bukan punya mama juga . Ini punya Edrick dia bentar lagi mau nyusul kesini . Tadinya mau bareng sama mama buat kesini cuma ternyata mendadak kantornya telepon dan minta dia beresin sesuatu dulu" Aelina hanya ber oh ria , diingatnya sosok Edrick . Sifatnya cenderung pendiam berbeda dengan Rita  yang sangat bawel. Edrick hanya menanggapi sesuatu bila ditanya . Sisanya dia hanya memperhatikan interaksi Rita dengan orang sekitarnya . Rita juga nampak sangat perhatian pada calon suaminya itu . Selalu melayani Edrick terlebih dahulu sebelum dia melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri .  "Mama cinta banget ya sama Edrick ?" tanya Aelina tiba-tiba . Baik Aelina ataupun Rita sama-sama terkejut . Aelina juga tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulutnya . Rita hanya menatap Aelina , merasa tidak enak Aelina menundukkan kepalanya "Maaf ma, aku lancang . Itu sebenarnya  ga sengaja juga . Tadinya cuma ada dikepalaku tapi malah keceplosan" "Hahahahaha gapapa kok kamu tanya begitu . lagipula kenapa mama harus marah ?" Rita menjawab dengan senyuman di wajahnya . " Hum...iya mama cinta sama Edrick . Dia satu-satunya orang yang sabar bgt ngadepin mama . Mama bahkan ngerasa ga pantes buat dia . Tapi dia itu berhasil meluluhkan hati mama" jawab Rita sambil matanya menerawang jauh . Mama kelihatan bahagia sekali , rasanya egois sekali kalau aku mau mama Rita stay disisi aku . Rita melihat Aelina melamun dan menegurnya . "Kok kamu malah bengong . Oh iya ada apa kamu minta ketemu sama mama ? Kangen yaa ?" goda Rita . "A...Anu ma , aku..." Pembicaraan Aelina terputus karena pelayan restoran tersebut  menghampiri mereka berdua .  "Permisi bu Rita tadi calon suami ibu telepon ke pak Angga , dan bilang kalau dia tidak bisa menyusul . Tadi sudah mencoba menghubungi ibu tetapi ponsel ibu sedang tidak aktif ." ujar si pelayan Rita mengecek handphonenya dan melengos . "Astaga lowbatt , disini ada stop contact ?" tanya Rita "Ada bu, dibawah kursi yang sedang ibu duduki ada stop contactnya" "Ohh ok, ah saya sekalian pesan saja . Menu rekomendasi yang terbaik disini ya . mulai dari makanan pembuka sampai minumannya masing-masing 2 porsi" "Aku ga usah ma" pinta Aelina  "Ga, kamu kayanya agak kurusan . Pasti lagi berhemat lagipula mana boleh kamu ga makan kalo lagi sama mama" "Tapi aku kan lagi ga lapar ma" bohongnya .  Aelina berbohong , padahal dari pagi juga dia belum makan. Tapi ternyata takdir malah ingin mengerjai dia . Perutnya yang keroncongan terdengar keras sekali . Wajah Aelina memerah padam karena malu . Pelayan dan Rita nampak tersenyum melihat wajah lucu Aelina yang berusaha menahan malu . Untung saja ini ruangan private jadi Aelina tidak terlalu parah malunya walaupun sekarang sudah sangat malu . "Sudah itu saja pesanannya" ujar Rita ke pelayan tersebut .  Setelah pelayan tersebut pergi, Rita kembali menatap Aelina .  "Nah, kamu mau ngobrol apa sama mama ?"  Aelina diam dan menundukkan kepalanya . Rita dengan sabar menunggu Aelina . Setelah keheningan beberapa saat Aelina menatap wajah Rita . "Apa aku mampu kalau ga ada mama ? Aku takut ma" Aelina menatap wajah Rita dengan sendu . Melihat kekhawatiran di wajah Aelina membuat Rita sedikit iba . Dia paham betul dengan karakter Aelina yang bagaikan kerang . Diluar nampak keras tapi sebenarnya lembut di dalam. Bahkan masih tersimpan didalam ingatannya betapa susahnya dulu mendekati Aelina .  "Kamu bisa kok , kan kamu udah berkembang sejauh ini" "Kamu inget ga dulu itu kamu jauh lebih tertutup , saking susahnya sampai-sampai mama jadi kaya stalker . Apalagi dulu mama harus menerobos ketiga sahabat kamu itu . Mama udah kaya mau nikahin anak gadis orang . Tapi sekarang liat kamu udah mulai berani . udah bisa adaptasi ke lingkungan baru . Kamu pasti bisa"  Nasihat Rita sedikit meringankan beban di d**a Aelina tapi masih ada lagi yang mengganjal yaitu Hazel " Kalau Hazel gimana ? Aku agak takut sama dia" "Hazel ya, kayanya bakal cocok sih sama kamu . Dia walaupun terlihat santai tapi kalau soal pekerjaan dia lumayan perfeksionis dan ekpektasi dia terhadap sesuatu cukup tinggi" Aelina terkejut mendengar penuturan Rita , tadinya dia berpikir Hazel adalah tipe laki-laki yang tidak suka bekerja dan selalu asal-asalan ternyata tidak . "Kira-kira apa aku mampu memenuhi ekpekstasi dia ga ma ?"  "Kamu mampu kok bahkan mungkin memenuhi ekspektasi dia" jawab Rita mantap . "Oke" Kemudian makanan mereka selesai dan obrolan merekapun berakhir
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD