Wajah Hazel terlihat sangat cemas. Didepan pintu ruang pemeriksaan dia mondar-mandir dengan gelisah. Dirinya tidak menyangka kalau Aelina bisa pingsan begitu saja. Dirinya teringat kalau Rita sudah memberitahu kalau Aelina tidak bisa terlalu lama ditempat yang ramai. Dia pikir itu terlalu berlebihan. Dan ternyata jadi seperti ini. Tak lama kemudian Rita datang dengan langkah terburu-buru. Hazel memang memberitahukan Rita soal pingsannya Aelina.
"Tante.."
Plak ! Suara tamparan menggema dilorong rumah sakit
"Tante sudah memperingatkan untuk tidak terlalu lama membawa Lina ditempat yang ramai! kenapa tidak kamu dengarkan ?!" seru Rita emosi
Hazel hanya terdiam. Ya disini dia yang salah karena tidak mengindahkan peringatan tantenya.
"Maafkan aku..." jawab Hazel lesu
Edrick yang juga bersama Rita langsung menenangkan tunangannya tersebut.
"Sudah sayang, kamu jangan terlalu emosi. Ini di rumah sakit tidak baik marah-marah disini"
Setelah dirasa dirinya cukup tenang. Rita menatap Hazel.
"Sekarang Lina gimana ?"
"Masih diperiksa"
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Orang-orang yang ada disana langsung menghampiri sang dokter.
"Gimana dok?" tanya mereka serempak
"Tidak terlalu buruk. Hanya saja kalau bisa harus lebih hati-hati karena nanti keadaannya akan lebih buruk. Sekarang pasien belum sadar. Kalau begitu saya permisi dulu"
"Terimakasih dokter"
Mereka bertiga memasuki ruangan perawatan. Melihat ruang perawatan yang cukup mewah Rita melirik kearah Hazel.
"Iya, aku yang meminta untuk diperiksa diruangan VIP. Tenang aja aku yang bayar kok"
"Iyalah harus kamu yang bayar" sungut Rita
"Astaga tante kan aku udah minta maaf. Kenapa sinis banget sih"
"Kamu itu harusnya minta maaf ke Lina bukan ke Tante. Heran itu kuping ga pernah mau dengerin orang. Bikin kesel aja"
Hazel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Disatu sisi dia menyadari kesalahannya tetapi disisi lain dia juga tidak menyangka ternyata separah ini.
Perlahan Aelina membuka matanya. Matanya cukup silau karena lampu serta cat dinding putih yang memantulkan cahaya.
"Engh..."
Aelina melihat tangannya agak kram. Dilihatnya Hazel tertidur disamping ranjang dengan tangan yang memegang tangannya. Merasakan ada gerakan Hazel terbangun dan melihat Aelina menatap wajahnya.
"Ahh, sudah bangun tunggu sebentar"
Hazel memencet tombol panggilan disisi ranjang. Tak lama seorang dokter dan perawat memasuki ruangan. Setelah memeriksa Aelina sang dokter pun memberikan nasihat.
"Lain kali jangan terlalu memaksakan diri ya ? Harus mengingat kondisi diri sendiri biar tidak terjadi lagi hal seperti ini"
"Saya kapan bisa pulang ?"
"Besok pagi sudah bisa pulang"
"Terimakasih dokter"
Sang dokter tersenyum dan pamit undur diri. Setelah dokter dan perawat tersebut keluar, Hazel mulai membuka suara.
"Maafkan aku, aku ga bermaksud membuat kamu seperti ini. Sungguh aku cuma ingin nyenengin kamu. Aku menyebalkan sekali ya ?"
Hazel menunduk lesu
"Ga masalah, aku ga marah kok" jawab Aelina dengan senyumannya
Tampak sekali wajah penyesalan di wajah Hazel dan itu membuat Aelina tidak tega. Mengetahui Aelina tidak begitu marah padanya senyuman terbit di bibir Hazel. Wajahnya mulai memancarkan sinar cerah.
Melihat sinar cerah di wajah Hazel membuat Aelina mulai merasakan jantungnya berdetak kencang. Wajahnya mulai memerah dan panas. Aduh, ini aku kenapa lagi ? Jerit Aelina dalam hati.