Sesampainya di depan gerbang rumah Alina, Dhama membuka helm miliknya dan menunggu Alina keluar dari dalam rumahnya. Dia tidak menghubungi Alina kembali karena tidak ingin Alina merasa di buru-buru oleh waktu, Dhama menunggu Alina dengan tentram di atas motor nya.
Sedangkan Alina setelah mendapat panggilan dari Dhama dia langsung bergegas menyiapkan semua yang dia butuhkan, tapi saat Alina keluar dan melewati Ibunya yang sedang sarapan pagi tidak seperti biasanya Ibunya Alina memanggilnya untuk ikut sarapan bersama terlebih dahulu.
"Alina, sini duduk sarapan dulu." Kata Ibunya Alina dengan sedikit lembut.
Alina bingung dan tidak tau harus menanggapinya bagaimana, selama beberapa tahun ini dia terbiasa diabaikan oleh sang ibu. Mendengar ibunya tiba-tiba bersikap manis seperti saat ini membuat Alina heran dan juga timbul rasa curiga, tapi dia sedikit menyembunyikan perasaan dan juga pikirannya itu tidak ingin memperkeruh keadaan yang sudah kacau balau menurutnya.
"Ga usah Bu, Aku sudah di tunggu temen di depan gerbang." Tolak Alina lembut sambil berlalu pergi.
Tapi belum juga Alina sampai ke depan pintu rumahnya, Nansih Ibunya Alina tiba-tiba mengejar dan menarik tangan Alina.
"Temen? Temen yang mana?! Jangan coba-coba pacaran kamu Alina! Sekolah dulu yang becus!" Sentak Nansih tiba-tiba membuat Alina sedikit kesal.
Alina sudah tidak kaget sebenarnya, tapi tetap saja ada perasaan tidak suka mendengar ucapan Ibunya dengan nada tinggi pada dirinya.
"Terserah akulah, jangan coba mengaturku seakan kamu peduli!" Bentak Alina balik, karena merasa sikap Ibunya yang seperti ini bukan karena dia peduli pada Alina.
"Halah, selama ini masih hidup dengan uangku saja kau masih melawan! Turuti saja semua perkataan ku, kalau kamu tidak suka keluar dari rumah ini! Anak kok tidak tau di untung." Nansih berkacak pinggang sambil memelototi Alina, yang dia anggap tidak tau diri.
"Sudahlah aku mau sekolah, jangan menjatuhkan mood ku hari ini." Alina kesal dan langsung berlari keluar rumah, dia tidak peduli lagi Ibu nya akan bagaimana nanti. Toh, memang sudah biasa dia di marahi seperti saat ini.
"ANAK SIALAN DIKASIH HATI MALAH TIDAK TAU DIRI !!" Teriak Nansih yang pastinya terdengar oleh Dhama yang sedang menunggu Alina di luar gerbang rumahnya.
Tidak perduli lagi akan hal itu Alina langsung naik ke motor Dhama dan memintanya untuk segera pergi meninggalkan rumahnya, Alina sudah tidak ingin mendengar cacian Ibunya apalagi ini masih pagi hari.
"Jalan Dham cepat." Pinta Alina karena Dhama hanya diam saja.
Dhama sempat terdiam karena kaget tapi dia langsung bisa menguasai dirinya dan membawa motornya menjauh dari sana, di ujung jalan Dhama sempat berhenti dan memberikan helm yang sengaja dia bawa untuk Alina namun tidak sempat di berikan olehnya tadi. Dhama mengingat kejadian kemarin saat Alina pergi naik motor dengannya tanpa menggunakan helm, sehingga saat ini dia sudah mempersiapkan helm untuk Alina.
Setwlah menerima helm dari dhama, Alina malah semakin sulit mengontrol emosinya yang sedari tadi dia tahan. Akhirnya sebutir air mata lolos dari pelupuk mata indah Alina. Dhama melihat air mata yang mengalir di pipi Alina dari ujung matanya, ingin rasanya Dhama menghapus air mata itu tapi dia memilih untuk tetap diam dan berpura-pura tidak tau. Bukan karena tidak peduli terhadap Alina, tapi Dhama lebih memilih untuk diam supaya Alina tidak terlalu malu terhadap dia nantinya.
•••
Dhama sengaja menjalankan motornya lebih pelan dari biasanya, dia memberi Alina waktu untuk menenangkan diri di atas motor miliknya itu.
Sesampainya di gerbang sekolah, suasana di sana sudah mulai ramai. Banyak murid-murid yang sudah datang, sehingga saat Alina dan Dhama tiba di sekolah tidak bisa dipungkiri semua mata tertuju pada mereka berdua. Alina menyadari hal itu, membuat perasaan nya kembali menjadi tidak menentu. Sampai akhirnya mereka tiba di parkiran sekolah, Alina turun di ikuti dengan Dhama. Setelah menyimpan helm, mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas. Tapi di tengah jalan ada seorang kaka kelas perempuan yang meneriaki Alina dari kejauhan, membuat Alina kaget dan juga bingung.
"Woy !! Masih punya muka datang ke sekolah?!" Teriak nya keras dari jarak yang lumayan jauh, dia menatap Alina dengan tatapan sinis penuh kebencian.
Sontak saja seluruh mata yang ada di sana seketika menengok ke arah Alina dan bergantian juga ke kaka kelas nya, meskipun kaget Alina tidak memperdulikannya karena suasana hatinya yang memang sedang buruk hari ini tidak ingin lebih buruk lagi dari sekarang.
"Anjing!! Nggak tau malu tuh anak!! Wajah tanpa dosa lu bikin gue enek tau gak!!" Teriaknya lagi semakin kencang, dia juga menunjuk-nunjuk Alina dari kejauhan.
"Terserah!!" Teriak Alina balik karena terpancing, dia ikut kesal mendengar u*****n kaka kelas yang sebenarnya tidak terlalu dia kenal.
"Nyolot Lu anjing!!" Bentak kaka kelas yang diketahui nama nya Desi itu, dia sangat emosi begitu Alina dengan beraninya berteriak balik ke pada dirinya.
Kak Desi langsung menghampiri Alina, tapi saat dia akan melayangkan tangannya ke arah Alina, Dhama langsung menahannya dengan mudah. Dia menepis tangan Desi yang tadi akan menampar wajah Alina dengan sedikit kasar.
"Nggak usah pake kekerasan kak, biasa aja lah. Nggak usah sok senior!!" Sindir Dhama yang jelas tidak suka dengan sikap kaka kelasnya yang sangat tidak pantas untuk ditiru itu.
"Najis!! Mentang-mentang ada pahlawan kesiangan di sampingnya jadi sok-sokan mau lawan. Liat aja nanti lo!!" Ancam Kak Desi lalu pergi meninggalkan Alina dan juga Dhama di sana dengan tatapan semua orang yang mengarah kepada mereka berdua, entah apa yang ada dipikiran mereka semua Dhama dan Alina tidak tau.
"Ayo Lin, sudah hampir bel masuk." Ajak Dhama untuk melanjutkan perjalanan mereka berdua.
Alina hanya mengangguk dan mengikuti langkah Dhama menjauh dari kerumunan orang-orang yang terlihat sangat membenci dirinya, Alina tidak tau apa itu hanya perasaannya saja atau bukan tapi seolah semua mata sedang menghakiminya sekarang.
•••
Setibanya dikelas semua mata langsung tertuju pada Alina, semua teman-teman sekelasnya langsung berbisik-bisik satu sama lainnya. Entah mereka melakukannya dengan sengaja atau tidak, tapi apa yang mereka lakukan tentu saja disadari dengan jelas oleh Alina bahkan juga oleh Dhama. Alina yang merasa tidak enak hati melihat itu semua, kemudian berdiri dan dia membuka suaranya.
"Temen-temen, kita itu kan satu kelas. Aku harap kalau ada apa-apa kalian bisa bicarakan langsung kepadaku, jangan berbisik di belakangku apalagi berbisik di depan mataku seperti sekarang. Aku juga tidak bodoh untuk pura-pura tidak tau apa yang kalian lakukan." Tegas Alina karena merasa tidak nyaman dengan keadaan kelas nya.
Semua murid terdiam tanpa bisa berkata apapun, mereka juga tau jika perbuatan mereka salah tapi tetap saja godaan untuk bergosip selalu menyenangkan. Namun ada seseorang yang menjawab pernyataan Alina dengan sedikit emosi.
"Untuk apa bicara langsung? Memberikan pembelaan?! Atau cari belas kasihan?!" Sindir Yulisa kesal, karena merasa Alina tidak berhak untuk berbicara seperti itu. Dia sendiri menjelek-jelekan sahabatnya sendiri dibelakang bukan.
"Lis, kamu tau bukan itu maksudku." Alina mencoba menjelaskan Kepada Yulisa lagi dan lagi, tapi sepertinya memang Yulisa tidak ingin penjelasan dari Alina.
"Terus apa!! Anak kelas ini sudah tau kok, tulisan kamu itu tentang aku. Tidak usah bersembunyi di balik topeng busuk mu lagi Lin!!" Yulisa semakin naik pitam, dia muak dengan sahabat yang kelakuannya seperti Alina. Padahal Yulisa tadinya sangat dekat dengannya tapi sekarang rasanya dia menyesali semua masa-masa kedekatan mereka dulu.
"Aku~" Belum selesai Alina berbicara, Dhama sudah menarik tangan Alina hingga dia terduduk kembali di kursinya.