14. Aku ini Ibumu!!

1147 Words
Perjalanan yang penuh kecanggungan itu akhirnya akan segera berakhir, pasalnya mereka berdua sudah memasuki kawasan Bandung saat ini. Dhama dengan segan akhirnya membuka suaranya dan bertanya kepada Alina. "Alina, Rumah kamu di mana? Aku tidak tau harus kearah mana jika kamu diam saja." Tanya Dhama segan, karena sepertinya Alina enggan sekali memberitahukan alamat rumahnya kepada Dhama. "Oh, eum iya." Jawab Alina kaget dan langsung melepaskan pelukannya dari pinggang dan perut Dhama, tapi dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Rasanya Alina ingin sekali ikut dengan Dhama pulang tapi kan itu suatu hal yang sangat tidak mungkin. "Iya apa Lin?" Tanya Dhama lagi setelah menunggu beberapa lama namun Alina belum juga mengatakan alamat tempat tinggal nya. "Hah? I~ iya. Di jalan *** no **." Kata Alina menjawab pertanyaan Dhama dengan sangat terpaksa, dia menjawab dengan suara yang seakan-akan tidak ingin di dengar Dhama. Namun Dhama yang memang sedang mendengarkan Alina walaupun agak kurang jelas tapi dia tau dan mendengar apa yang dikatakan Alina. "Oke." Balas Dhama dengan singkat lalu mengarahkan motornya ke alamat yang tadi di sebutkan oleh Alina. ••• Alina dan Dhama pun akhirnya sampai di depan rumah Alina, tanpa menunggu lama Alina langsung turun dari motor Dhama. Tapi Alina tidak langsung pergi, dia mendekat ke arah Dhama dan berkata. "Makasih ya Dham untuk hari ini." Alina dengan tulus mengucapkan apa yang dia rasakan, jika tidak ada Dhama dia tidak tau akan bagaimana nasibnya tadi. Mungkin dia akan menangis di kamar mandi atau pojokan sekolah lainnya. "It's okay Lin." Jawab Dhama santai, dia tau jika Alina tulus berterima kasih kepadanya. "Maaf nggak bisa ngajak kamu mampir ke dalam rumah, hati-hati di jalan ya." Alina sedikit merasa bersalah, karena tidak bisa menawarkan mampir untuk secangkir teh atau apalah itu. Karena dia tidak ingin Dhama melihat hubungan yang tidak baik antara dia dan ibunya. "Iya Alina, lagi pula ini sudah sangat larut malam. Aku juga langsung pulang ya." Pamit Dhama lalu pergi dari hadapan Alina dengan langsung putar arah dan melajukan motornya. Setelah Dhama tidak terlihat lagi, Alina memasuki rumahnya dengan segan. Dia tidak ingin pulang sebenarnya, tapi saat ini tidak ada tempat yang bisa dia tuju lagi selain rumah ini. Saat Alina membuka pintu masuk rumahnya, ternyata pintu itu belum di kunci. Alina sedikit bingung karena biasanya dari jam 9 malam pintu sudah dikunci oleh Ibunya, jika Alina pulang lebih dari jam itu dia harus mengetuk sampai kunci rumah di bukakan oleh Ibunya. Alina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang gelap itu, lampu ruang tengah memang biasa di matikan oleh Ibunya Alina. Tapi itu kalau Ibunya sudah mengunci pintu depan, sedangkan saat ini pintu masih belum terkunci. *Apa mungkin Ibu lupa mengunci pintunya ya?* Pikir Alina dalam hatinya. Belum hilang rasa penasaran Alina, tiba-tiba saja dia di kejutkan oleh suara yang memanggilnya dari arah belakang saat dia akan masuk ke kamarnya. "Alina! Kata sekolah kamu pulang cepat hari ini, kenapa sampai di rumah larut malam begini?!" Kesal Ibunya Alina saat melihat anaknya pulang larut malam. Alina mengerutkan keningnya, terlihat sekali dia tidak mengerti dengan apa yang sedang Ibunya pikirkan saat ini. "Sejak kapan Ibu peduli padaku?!" Nyinyir Alina dengan nada yang sedikit meremehkan, bukan kah selama ini Alina memang tidak dipedulikan oleh Ibunya kenapa tiba-tiba menjadi perhatian?! "Apa maksudmu?! Aku ini Ibumu!!" Sentak Ibu Alina karena merasa tidak terima dengan perkataan Alina kepadanya. "Whatever." Jawab Alina acuh, terlalu acuh malah. Alina langsung masuk kedalam kamarnya tanpa memperdulikan lagi Ibunya, sebenarnya Alina sedikit merasa senang karena Ibunya biasanya akan acuh. Dari pada harus didiamkan tanpa ingin tau apa yang sedang terjadi terhadap dirinya, namun egonya membuatnya mengabaikan Ibunya kembali. Bagi Alina ada keanehan dari sikap Ibunya yang mencoba ingin menjadi seorang 'ibu' yang sebenarnya, bukan karena Alina merasa terlambat tapi entah mengapa ada suatu kejanggalan yang Alina rasakan dari sikap Ibunya barusan. Perkataan demi perkataan dari mulut Nansih tidak terasa tulus di mata Alina, malah terkesan hampa dan hambar. Sepertinya Ibunya sedang memakai topeng dan mencoba memainkan sebuah peran dalam drama yang Alina sendiri tidak tau drama dengan genre apa. Alina membaringkan tubuhnya yang lelah di kasur, saat ini dia merasa sangat tertekan dan juga kebingungan. Alina lelah raga, hati dan juga pikirannya. Entahlah apa besok dia masih sanggup untuk berdiri menantang Dunia yang tidak pasti ini, yang membuatnya terasa seperti ditekan dan sulit bernafas. Dan lagi bagaimana Alina akan menghadapi hari esok di sekolah nya, bagaimana dia harus menjelaskan kata-kata dan perbuatan dalam Diary yang bukan dia tulis atau pun dia pikirkan. Tentang kedua sahabat yang kini membenci dirinya, dan jangan lupakan tentang cinta sebelah hati yang tiba-tiba pergi menjauh dan ikut membenci dirinya. Semua mulai memenuhi kembali pikiran Alina saat matanya sudah lelah dan ingin terpejam, hingga tidak terasa air matanya terus keluar dan membasahi pipi Alina. *Apa sebenarnya kesalahan yang aku lakukan? Hingga semua orang yang dekat dengan ku pergi dengan meninggalkan luka. Ayah sudah pergi selamanya, aku juga kehilangan kasih sayang Ibu. Sekarang sahabat-sahabat ku mulai membenciku dan lagi orang yang aku cintai ikut menjauh dan menghinaku. Serendah itukah aku di mata mereka sekarang?* Pikir Alina sampai dia terlelap tidur dalam tangisnya yang begitu menyayat hati. ••• Jam alarm di handphone milik Alina berbunyi, membangunkan sang pemilik dari tidurnya yang kurang nyenyak karena banyak pikiran. Alina bangun dengan mata sembab dan juga kepalanya sedikit pusing, mungkin karena dia banyak menangis dan susah tidur semalaman hingga kepalanya terasa berat. Alina memaksakan diri untuk bangun pagi ini, dia tidak ingin ijin tidak masuk sekolah. Semua orang akan mengira jika dia lari dari permasalahan dan mencoba lepas tangan, apapun yang terjadi Alina akan menghadapi semuanya walaupun akan terasa menyakitkan nantinya. Alina mempersiapkan diri pergi ke sekolah, tidak lupa juga dia menyiapkan hatinya. Tapi tidak bisa dipungkiri juga dia sedikit takut dengan reaksi teman-temannya, hingga d**a Alina terus saja berdebar dengan kencang. Alina terus menarik nafas panjang dan dalam berharap semuanya akan lebih membaik, kesalahpahaman ini ingin Alina selesaikan secepat mungkin jika memang dia bisa. Drrttt... Drrrtttt... Drrrttt... Handphone Alina tiba-tiba saja bergetar dan berbunyi, Alina melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi seperti ini, tercetak jelas nama Dhama di layar telepon genggam miliknya. Sempat kaget dan bingung namun Alina langsung mengangkat panggilan itu tanpa menunggu lebih lama lagi. "Hallo?" Jawab Alina. "Lin, kamu udah siap? Aku jemput kamu ya? Ini aku di perempatan jalan dekat rumah kamu, bentar lagi nyampe kok. Tunggu ya." Kata Dhama nyerocos tanpa memberi Alina waktu untuk menjawab pertanyaannya, yang mungkin lebih mendekati pernyataan. "Tapi dham, aku -" Sanggahan Alina mental karena Dhama memotongnya begitu saja. "Lampu lalulintas nya sudah mau hijau nih Lin, aku tunggu di depan gerbang ya." Tanpa banyak berkata lagi Dhama langsung menutup panggilan nya pada Alina. *Ya ampun, belum juga di jawab. Tapi, Ah sudahlah lagi pula beruntung juga dia mau jemput, hemat ongkos.* Pikir Alina tidak habis pikir dengan tingkah Dhama saat ini, tapi sebenarnya dia juga merasa senang karena tidak perlu repot dan bisa mengirit uang jajannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD