Melihat anggukan Dhama kembali, setelah melamun sebentar. Tanpa pikir panjang lagi Alina langsung mengikuti langkah Dhama menuju ke rumah yang berada di hadapan mereka berdua saat ini. Dhama tersenyum lebar saat memasuki teras rumah dan mulai mengetuk pintunya, membuat Alina sedikit bingung dan juga aneh karena jarang melihat Dhama tersenyum seperti saat ini.
*Tok-Tok-Tok
Tidak lama seorang wanita tua di akhir usia 60an datang menghampiri dan membukakan pintu rumah itu, tampak raut wajah keterkejutannya melihat remaja pria yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya ini.
"Alah~ naha aya kadieu ieu b***k teh?"
(Aduh~ kenapa ada kesini ini anak?) Kata si nenek dengan logat sunda yang kental, dia sangat terkejut melihat kehadiran Dhama disini. Tanpa berpikir lama, nenek langsung saja memeluk Dhama dengan sangat erat seakan mencurahkan segala kerinduannya kepada pemuda dihadapannya.
"Main atuh ma'." Jawab Dhama santai sambil cengengesan, dia pun tidak lupa membalas dengan hangat pelukan nenek kepadanya.
"Naha bisa, teu sakola kitu?"
(kenapa bisa, tidak sekolah gitu?) Tanya neneknya lagi, sambil tetap memeluk erat.
"Sakola atuh éma, ieu teh nembe uih sakola teras ka dieu. Hoyong améung we sakantenan pendak sareng éma."
( Ya sekolah nek, ini baru pulang sekolah langsung ke sini. Ingin main saja sekalian bertemu dengan nenek.) Jawab Dhama dengan logat sunda yang kental pula, dia lalu melepaskan pelukannya dengan nenek tercintanya.
Nenek Dhama memang tinggal di kampung sehingga logat sunda nya sangat kental, kalau Dhama ada bersama dengan neneknya maka bahasanya akan bercampur antara logat sunda yang kental dan bahasa Indonesia. Mungkin karena Dhama sudah lama tinggal di kota, yang bahasanya akan bercampur dengan bahasa Indonesia.
"Éma tepangkeun ieu rerencangan sakola Dhama, namina Alina."
(Nek perkenalkan ini teman sekolah Dhama, namanya Alina.) Lanjut Dhama memperkenalkan Alina yang sedari tadi hanya melihat interaksi antara nenek dengan cucu laki-laki nya itu.
"Eh~ aya neng géulis. Sok atuh mangga kalébeut."
( Eh~ ada anak cantik. Ayo silahkan masuk.) Nenek Dhama menyapa Alina dengan ramah, lalu mempersilahkan nya masuk.
Mereka bertiga akhirnya masuk kedalam rumah Neneknya Dhama, di rumah itu Alina diperlakukan seperti cucunya sendiri oleh Nenek Dhama. Nenek Iyam (nama Nenek Dhama) adalah ibu dari Ibunya Dhama, di rumah ini neneknya itu tinggal berdua dengan anak bungsunya Marni yang tidak lain adalah bibinya Dhama. Bi Marni sangat menyayangi Dhama karena dia tidak memiliki anak dari 10 tahun pernikahannya, sampai suaminya pergi meninggalkan Bi marni karena kecewa dan mengganggap Marni tidak bisa membahagiakan nya dengan memberikan keturunan. Bi Marni sendiri berusaha ikhlas dengan keadaan ini, mungkin ini cara tuhan agar dia bisa berbakti mengurus Ibunya.
Selama ini Dhama tinggal di Bandung bersama Ibu dan Ayahnya, tidak banyak yang tau jika Ayah dan Ibu Dhama sudah bercerai. Jadi saat ini Dhama tinggal sendirian di rumahnya karena tidak ingin tinggal dengan Ayahnya, sedangkan Ibunya meninggal setelah 2 tahun perceraian nya dengan sang suami atau Ayahnya Dhama.
Dhama orang yang tidak banyak berbicara maka dari itu tidak ada yang mengetahui kisah hidupnya, dia juga tidak ingin masalah dia dan keluarganya diketahui oleh banyak orang.
•••
Lama sudah Alina dan Dhama berada di rumah Nenek Iyam, sampai tanpa mereka berdua sadari hari sudah mulai gelap. Keasyikan mengobrol dengan Nenek Iyam dan juga Bi Marni yang baru saja pulang kerja siang tadi membuat Alina melupakan sejenak permasalahannya, sehingga ketika Dhama mengajaknya pulang terlihat raut wajah Alina yang berubah drastis.
Dhama bukannya tidak menyadari hal itu, tapi mau bagaimana lagi hari sudah mendekati malam. Dhama tidak ingin Ibunya Alina mencemaskan anak gadisnya yang belum juga pulang hingga larut malam.
"Ayo Lin kita pulang, sampai Bandung pasti akan sangat larut malam. Di jalan pun pasti dingin sekali." Ajak Dhama kepada Alina yang terlihat sangat tidak mau di ajak pulang oleh dirinya.
"Iya." Suara Alina rendah karena dia tidak ingin kehilangan perasaan hangat di rumah yang baru dia datangi pertama kali ini.
"Mondok we atuh Dham, tiris di jalan na ge."
(Menginap saja Dham, dingin di jalannya juga.) Bi Marni mencoba meyakinkan Dhama untuk tidak pulang sekarang, selain khawatir karena hari sudah gelap. Bi Marni juga merasa senang dengan kehadiran Alina di rumah ini, mungkin karena rumah terasa semakin ramai dan juga Alina begitu ramah sehingga mudah untuk di dekati.
"Énjing sakola Bi, pami aya waktos ke ameung kadieu dei."
(Besok sekolah Bi, kalau ada waktu nanti main ke sini lagi.) Jawab Dhama menjelaskan kenapa dia tidak menginap.
Alina dan Dhama akhirnya pamitan kepada Nenek Iyam dan Bi Marni, sebelum Alina pergi, Bi Marni sempat meminjamkan jaketnya kepada Alina karena udara di sana jika sudah malam akan sangat dingin. Apalagi perjalanan dari Pangalengan ke Bandung jaraknya cukup jauh, Bi Marni takut Alina akan sakit nanti.
Sedangkan Nenek Iyam tidak terlalu banyak bicara saat cucunya itu mau pulang, bukan apa-apa semenjak orangtuanya berpisah Dhama jarang sekali datang ke rumahnya. Ditambah lagi setelah Ibunya meninggal paling hanya hari raya saja Dhama datang ke Pangalengan dan itu pun hanya sebentar, saat ini Nenek Iyam merasa sedih karena rasa rindunya belum usai sedangkan cucunya sudah mau pulang.
Alina juga melihat raut kesedihan di wajah wanita yang sudah berumur itu, dia lalu mendekati Nenek Iyam dan memeluknya dengan erat.
"Kalau nanti Alina mau main ke sini lagi boleh ya Nek?" Tanya Alina sambil terus memeluk Nenek Dhama, dia memang begitu nyaman dengan keluarga Dhama walaupun baru sekali bertemu.
"Nya boleh atuh geulis. Éma mah malah seneng kalau Neng main kadie, jadi rumah teh rame."
(Ya bolehlah cantik. Nenek malah senang kalau Neng main ke sini, jadi rumah nya ramai.) Jawab Nenek Iyam senang.
Alina melambaikan tangannya saat motor Dhama melaju pergi meninggalkan rumah Nenek Iyam, ada perasaan aneh di hati Alina yang merasa kalau dia sudah sangat lama mengenal kedua orang yang balik melambaikan tangan ke arahnya.
Namun entah kenapa Alina yakin suatu saat dia akan kembali bertemu dengan Nek Iyam ataupun Bi Marni lagi, keyakinan itu membuat Alina sendiri merasa bingung. Pasalnya dia dengan Dhama memang tidak dekat dan jarang sekali mengobrol jika bukan masalah yang penting seperti tentang pelajaran atau lainnya, makanya saat ini Alina seperti sedang mempertanyakan dirinya sendiri kenapa bisa seyakin itu.
•••
Perjalanan pulang Dhama dan juga Alina terasa lama, bukan karena apa-apa. Tapi tiba-tiba saja ada kecanggungan di antara mereka berdua saat awalnya Dhama menyuruh Alina untuk berpegangan kepadanya, tapi tanpa di sadari Alina malah berpegangan dengan cara memeluk Dhama dari belakang. Hal itu Alina lakukan karena dia merasa takut, sepanjang perjalanan pulang sudah sangat sepi sedangkan di kiri kanannya hanya ada kebun teh atau jurang yang membuat jalanan semakin terlihat gelap.
Dhama yang sempat kaget tapi dia tetap mencoba tetap tenang dan melanjutkan perjalanan mereka tanpa banyak bicara, bukan karena tidak suka hanya saja Dhama merasa tidak biasa ada seorang wanita yang memeluk nya.