Alina hanya bisa menangis menerima perlakuan kasar dari Phiandra, apa lagi orang itu spesial di hatinya namun hanya karena hal sepele mampu menyakiti hati dan perasaan bahkan juga raga Alina.
*Apa aku serendah itu? Hanya karena perasaan yang tidak bisa aku kendalikan membuat semua orang membenciku?* Pikir Alina dalam tangisnya yang mulai jatuh membasahi pipinya.
"Kenapa hanya diam?! Apa kamu sekarang menjadi b1su?!" Desak Phiandra tanpa melepaskan satu tangannya yang berada di leher Alina, sedangkan yang satunya lagi menahan berat tubuhnya di tembok.
"Apa yang kamu inginkan?! Semua yang terjadi ini juga bukan karena keinginan ku. Apa kamu tidak tau? Akulah yang merasa malu, bahkan aku merasa diperlakukan tidak adil. Tentang semua tulisan yang menyangkut Yulisa, aku tidak mengetahui nya sama sekali. Tapi semua tangan terus menunjuk ke arahku, menyalahkan ku karena berbuat jahat terhadap sahabatnya sendiri. Namun kenyataannya aku tidak tau apa-apa." Jelas Alina Pasrah, tidak ingin semakin memperburuk keadaan.
Alina mencoba melepaskan tangan Phiandra yang ada dileher nya, walau tidak terlalu kencang namun itu cukup membekas di kulitnya yang putih. Akhirnya tangan Phiandra terlepas dari leher Alina tapi bukan karena halauan tangan Alina yang terbilang sudah tidak bertenaga lagi, tarikan dari Dhama lah yang melepaskan cengkraman di leher Alina saat ini.
Dhama bahkan mendorong Phiandra dan sempat memukulnya sekali hingga Phiandra terjatuh ke belakang, jika bukan karena Alina yang menahan Dhama, mungkin Dhama sudah memukul Phiandra beberapa kali saat ini.
"B4ngs4t! Begini cara lo memperlakukan cewek?! Lahir dari batu lo memang nya!" Kata Dhama yang memang masih kesal saat melihat perlakuan Phiandra kepada Alina.
"Ini bukan urusan lo 4nj1ng! Gak usah berlagak sok jagoan lo disini!" Teriak Phiandra sambil berdiri dan membenarkan baju nya yang sedikit kotor karena terjatuh tadi, dia juga mengelap ujung bibirnya yang terasa perih karena tonjokan tiba-tiba dari Dhama.
"Apa lo bilang?! br3ngs3k emang lo ya!" Teriak balik Dhama, namun Alina langsung menarik dan menahan tangan Dhama supaya tidak saling memukul.
"Cukup Dham, aku mohon. Aku ingin pergi dari sini saja, kita pergi ya Dham." Suara Alina masih bergetar karena tangisan nya yang semakin deras, dia terus memohon pada Dhama.
Tanpa banyak basa-basi Dhama menarik tangan Alina pergi dari sana, setelah samapi di depan kelas, Dhama menyuruh Alina diam di luar kelas sementara dia masuk mengambil tas miliknya dan juga milik Alina.
Setelah membawa kedua tas itu Dhama lalu membawa Alina pergi ke ruang guru dan meminta ijin pada guru untuk pulang lebih awal karena Alina sakit, guru piket pun percaya karena melihat Alina menangis sampai matanya menjadi sembab dan mengijinkan Dhama ikut pulang untuk mengantar Alina karena mendengar alasan Dhama jika rumah mereka searah dan tidak begitu jauh.
Di parkiran sekolah Dhama mengeluarkan motornya dan tanpa basa-basi Alina langsung menaiki motor Dhama tersebut, Alina bahkan tidak menanyakan apakah Dhama akan benar-benar membawanya pulang atau tidak.
Malah dalam hati Alina sebenarnya dia ingin sekali meminta Dhama untuk tidak membawanya pulang, di rumah pun suasana hati Alina tidak akan bertambah baik malah besar kemungkinannya bertambah buruk.
Setelah motor Dhama melaju keluar dari sekolah entah mengapa perasaan Alina sedikit lega, mungkin karena disekolah dia merasa tidak bisa bernafas. Saat tiba di perempatan jalan pertama dari sekolahan mereka berdua, lampu sudah berubah menjadi merah dan otomatis Dhama berhenti di perempatan jalan itu.
"Rumah kamu di mana?" Tanya Dhama yang sebenarnya dia juga ragu untuk menanyakan hal itu, tapi mau bagaimana lagi. untuk mengantarkan Alina pulang tentu saja harus tau alamatnya bukan.
Alina terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan dari Dhama, karena Alina diam saja. Dhama mengira Alina tidak ingin Dhama mengetahui alamat rumahnya. Sehingga Dhama mulai merasa tidak enak hati sudah berinisiatif membawa Alina pulang dari sekolah.
"Maaf Lin, aku kira ini akan lebih baik untuk kamu. maaf jika aku terlalu lancang, katakan saja arahnya kemana nanti aku antar sampai di jalan dekat rumah kamu. Tidak mungkin kita kembali ke sekolah Lin, dan juga aku tidak mungkin menyuruh kamu pulang sendirian." Jelas Dhama penuh penyesalan.
Alina merasakan apa yang saat ini Dhama pikirkan dan juga apa yang Dhama rasakan, sehingga Alina memberanikan dirinya untuk berbicara yang sejujurnya kepada Dhama.
"Aku senang kamu berinisiatif seperti ini, aku malah berterimakasih kepada mu. Tapi bisakah kamu tidak mengantarku pulang ke rumah? Aku tidak ingin pulang sekarang." Kata Alina sedikit malu dengan permintaannya, dia seperti sedang mengajak orang lain untuk ikut masuk kedalam permasalahan nya.
Saat Dhama akan bertanya kepada Alina, lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau sehingga mau tidak mau Dhama harus melanjutkan perjalanannya. Saat itu Dhama tidak banyak bertanya dan membawa Alina pergi ke tempat yang dia inginkan saja, Alina pun juga seperti itu dia tidak protes dan membiarkan Dhama membawanya ke manapun asal bukan pulang ke rumahnya.
•••
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam setengah, Motor Dhama berhenti di sebuah pekarangan rumah yang tidak begitu besar namun halamannya cukup luas. Tepatnya mereka berdua sedang berada di Pangalengan kabupaten Bandung, letaknya memang lumayan jauh tapi tempatnya masih sangat sejuk dan juga berada di sekitar perkebunan teh yang sangat luas.
Alina turun dari motor Dhama dan melihat-lihat ke sekelilingnya, pemandangan yang indah dan suasana yang sejuk mampu menenangkan hatinya yang sempat bergejolak karena masalah yang sedang menimpa dirinya.
"Lin, sini." Panggil Dhama kepada Alina, begitu dia selesai memarkirkan motornya di halaman.
"Hah? Oh iya Dham." Alina sempat kaget tapi kemudian melangkah mendekati Dhama kembali.
"Ayo kita masuk." Ajak Dhama pada Alina yang masih melihat situai dan kondisi di tempat yang baru dia datangi pertama kalinya ini.
Alina melihat rumah yang berada di depannya, rumah ala-ala pedesaan yang sederhana namun sangat indah sekali. Rumah yang tidak mewah tapi begitu luas dan juga tidak bisa di bilang kecil, terlihat sangat nyaman sekali. Setelah melihat rumah itu Alina kembali melihat ke arah Dhama.
Dhama yang tau arti dari tatapan Alina hanya tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya, mencoba meyakinkan Alina untuk masuk ke rumah itu bersama-sama dengan dirinya.
Walaupun sedikit ragu-ragu karena tidak tau itu rumah siapa, tapi akhirnya Alina mengikuti langkah Dhama berjalan memasuki rumah yang sangat dia kagumi.
*sepertinya rumah ini nyaman sekali, terlebih udara di sini masih sangat segar. Bahagia sekali membayangkan bisa tinggal di lingkungan yang seperti ini.* Pikir Alina dalam hatinya.