11.Konsekuensi

1065 Words
Melihat kemarahan Yulisa yang begitu besar membuat Phujia merasa senang dan juga lega, setidaknya pasti satu orang dari kedua sahabatnya ini akan pindah dari sekolah karena merasa tidak nyaman satu dengan yang lain. Bukankah ide nya berjalan dengan sangat lancar, sepertinya memang keberuntungan sedang berpihak kepadanya saat ini. "Sudah Yulisa, orang seperti dia tidak pantas kita tanggapi. Biarkan saja dia dengan segala keburukannya, kita akan buat dia merasakan apa yang sudah kamu rasakan bahkan mungkin lebih dari itu." Phujia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memanas-manasi Yulisa agar terus membenci Alina dan membuat mereka berdua semakin menjauh. "Aku tidak pernah menduga wanita gila itu akan melakukan hal ini kepadaku, bahkan dia tidak mengakuinya apalagi meminta maaf padaku Jia. Harus di taruh dimana wajahku ini di depan Phiandra! Dia pasti menyangka aku adalah wanita yang tidak bermoral, apa menjadikan aku seperti sampah adalah hal menarik untuk Alina?! Ah! Bahkan menyebut nama orang itu saja membuat ku merasa jijik!" Kemarahan Yulisa semakin bertambah apalagi melihat Alina pergi dengan Phiandra begitu saja di depan mata mereka. Seperti yang sudah diketahui semua orang Alina memang menyukai Phiandra, dia menulis semua hal itu di buku diary nya. Hanya saja Phujia tau dengan hal kecil itu tidak akan membuat Alina dan Yulisa terpisah selamanya, jadi Phujia sengaja menambahkan beberapa kalimat yang lumayan panjang dalam Diary Alina itu. Saking niatnya melakukan itu Phujia sampai menyewa orang yang kebetulan dia kenal bisa meniru tulisan orang lain, Phujia menyuruh orang tersebut untuk menulis semua kelemahan atau dapat dikatakan aib bagi Yulisa. Semua hal jelek yang hanya diketahui oleh mereka bertiga dimasukan kedalam Diary alina, ditambah dengan penjelasan palsu yang seakan-akan Alina lah yang menulisnya. Phujia membuat seolah-olah Alina sangat membenci Yulisa dan ingin menjatuhkannya. Entahlah apa yang di inginkan oleh Phujia sebenarnya, tapi tindakannya kali ini memang sudah diluar batas. Karena Phiandra tau nama panggilan Yulisa sejak kecil, tentu saja aib itu langsung di ketahui oleh Phiandra. Phujia sepertinya tidak memikirkan itu sama sekali, mempermalukan Yulisa di depan orang yang dicintainya seakan tidak ada artinya bagi Phujia asal rencananya berjalan lancar ( atau mungkin itu juga termasuk kedalam rencananya. ••• Sementara itu, Alina yang dibawa pergi oleh Phiandra tanpa di duga di bawa ke tempat lain dari sekolah yang juga sama sepinya yaitu gudang perpustakaan sekolah ( tempat menyimpan buku-buku rusak atau buku lebih ). Disana selalu sepi karena posisi nya ada di belakang perpustakaan, tapi terkadang guru atau penjaga perpustakaan datang ke sana jika ada buku yang akan digunakan atau menyimpan buku-buku yang rusak. "Benarkah buku Diary itu milikmu Lin?" Tanya Phiandra langsung tanpa basa-basi lagi. "Iya~ maafkan aku." Alina menjawab dengan suara kecil yang hampir tidak bisa di dengar jika jarak mereka menjauh sedikit saja. Phiandra tersenyum singkat namun Alina tidak mengetahui nya, tatapan Alina selalu tertunduk dan tidak berani menatap Phiandra. Bahkan saat ini seluruh tubuh Alina gemetaran, dia bahkan tidak bisa merasakan tanah yang sedang di pijaknya. Rasa bersalah, malu dan juga takut menyelimuti Alina saat ini. "Sejak kapan?" Pertanyaan singkat Phiandra membuat Alina kebingungan, Alina tidak tau harus menjawabnya seperti apa. "A~apa?! Eum~ i~ i~ itu- aku Eum~~ " Alina tidak sanggup menjawabnya, bibir nya terasa sangat kelu saat ini. "Jangan pernah bermimpi di siang bolong Alina!" Kata Phiandra yang sudah menduga Alina tidak akan mampu menjawab pertanyaannya, dia langsung menyambar nya dengan sindiran tajam. *Jleb Kalimat itu terasa menusuk ke hati Alina, hingga membuatnya tertegun dalam rasa sakitnya. Walaupun begitu, Alina tetap mencoba untuk tegar dan menyembunyikan luka dihatinya. Tapi pandangan nanar Alina yang menahan air matanya agar tidak terjatuh terlihat jelas di mata Phiandra, yang memang menelisik apa yang sedang dirasakan oleh Alina. "Menyakitkan bukan?! Tapi itulah kenyataannya." Tambah Phiandra. "Aku tau, dan aku juga menyadari nya." Alina menjawab dengan suara serak dan bergetar, karena menahan tangisannya. "Aku tidak pernah mengatakan perasaanku pada dirimu, karena aku tau posisiku di matamu hanyalah setitik tinta pada selembar kertas bersih." Tambah Alina lagi, dia sangat menyadari jika dirinya bukanlah seseorang yang bisa dibanggakan. Tapi tetap saja Alina merasa lebih rendah sekarang karena apa yang dikatakan oleh Phiandra. "Lalu apa mau kamu sekarang? Membongkar masa lalu Yulisa padaku? Sepicik itukah pikiran mu selama ini?! Tidak pernah aku sangka sifat aslimu 'seindah' ini." Phiandra masih menyindir Alina di akhir kalimatnya, selama ini di mata Phiandra, Alina adalah seorang gadis yang baik hati. Dia selalu terlihat ceria, tidak pernah terlihat sedikitpun jika Alina memiliki hati yang sebegitu licik nya. "Jika yang kau maksud tulisanku tentang Yulisa, itu tidak benar sama sekali. Bukan aku yang menulis semua itu! Aku tidak pernah punya pikiran buruk terhadap Yulisa. Dia itu sahabat baikku." Jelas Alina, karena dia merasa di pojokkan. "Bukan kamu?! Lalu siapa lagi?" Tanya Phiandra sinis, tentu saja tidak akan ada orang yang percaya karena buku Diary itu memang milik Alina. "Mana aku tau Phian, aku sendiri bahkan belum melihat seperti apa tulisan itu. Aku menulis tentang kamu, ya itu memang aku. Tapi tentang Yulisa, aku berani bersumpah itu bukan aku yang menulis nya. Bahkan aku sendiri bingung saat ini!" Alina mencoba meyakinkan Phiandra, bukan karena ingin Phiandra berpihak kepadanya tapi Alina hanya tidak mau di salah pahami banyak orang. Phiandra menatap tajam Alina, lalu dia mendorong pundak Alina sampai membentur ke tembok gudang perpustakaan yang ada di belakang Alina. "Jika memang bukan kamu lalu siapa pelakunya? Itu adalah buku mu! Bahkan tulisannya pun sama dari awal sampai terakhir, tidak perlu menyangkal lagi Lin!" Kata Phiandra mematahkan semua pernyataan Alina, tidak mungkin jika pemilik buku pribadi tidak mengetahui isi dari buku miliknya sendiri. "Terserah saja jika kamu tidak percaya, aku sekarang sudah tidak perduli lagi dengan semua ini!" Alina yang kesal menepis tangan Phiandra yang sedari tadi mendorong nya ke tembok. "Apa katamu?! Sudah tidak perduli lagi?! Setelah satu sekolah ini mengetahui kamu menyukai aku?! Apa kamu gila atau terlalu naif! Jangan pernah mencoba lari dari masalah ini!" Tegas Phiandra yang kelihatan emosi. Phiandra kembali mendorong Alina ke tembok, tidak sampai di situ Phiandra juga mencekik dagu Alina sampai wajahnya terangkat dan menghadap ke wajah Phiandra. "Kamu harus menerima konsekuensi atas perbuatan mu itu Alina!" Tekan Phiandra lagi, seakan banyak makna dalam kata-kata yang dia sebutkan barusan. Alina yang menyadari ada makna di balik kata-kata Phiandra membuatnya bergidik ngeri, entah apa maksudnya tapi Alina yakin itu bukan sesuatu yang mudah untuk dia tangani. Dalam hati Alina hanya mampu berdoa agar hidupnya baik-baik saja dan jauh dari masalah, kesalahpahaman ini sungguh membuat Alina merasa tertekan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD