Mendengar apa yang Alina katakan membuat Yulisa semakin emosi, dia kembali melihat ke arah Alina dan langsung menampar pipinya dengan keras sampai terdengar suara *Plak yang sangat menggema di ruangan kosong itu.
Kontan saja tamparan itu membuat pipi Alina menjadi merah dan juga terlihat tanda telapak tangan Yulisa di pipi nya dengan sangat jelas, Alina tidak membalas tamparan sahabat baiknya itu sebaliknya rasa sakit dihatinya lebih terasa dari pada rasa sakit bekas tamparan keras sahabat baiknya di pipi Alina saat ini.
"Kamu pikir aku BODOH?! Semua yang kamu katakan hanyalah sampah bagiku!! Bukti nyata sudah ada di depan mataku dan kamu masih mengelak semuanya?! Dasar penghianat kamu, jalang murahan!!" Sentak Yulisa dengan penuh emosi sambil menunjuk-nunjuk ke arah Alina.
"Bukti apa?! Sedangkan aku sendiri tidak merasa telah melakukan apa yang kalian semua tuduhkan, kalian berdua itu salah paham!!" Alina ikut emosi karena dia merasa diperlakukan tidak adil.
Bukan karena tamparan dari Yulisa yang begitu keras hingga membekas di pipinya, melainkan Alina frustasi dengan semua tuduhan lain terhadap dirinya. Alina tidak pernah mengatakan semua hal yang di tuduhkan, bahkan tidak pernah terlintas di pikiran Alina untuk menjelek-jelekan sahabatnya. Lalu bagaimana Yulisa bisa menganggap dirinya ingin menghancurkan sahabat baiknya sendiri, padahal Alina saat ini lebih hancur daripada kelihatannya. Kehilangan kepercayaan dari sahabat dan juga teman-temannya membuat Alina begitu terpukul sekali, tapi kenyataannya Yulisa dan Phujia tidak dapat melihat itu semua.
"Kamu yang menulis semua itu!! Bagaimana kamu bisa terus mengelak nya?! Sangat jelas kamu membenciku, dari semua caramu mencurahkan isi hatimu!!" jawab Yulisa penuh penekanan, dia kesal karena Alina seolah-olah menjadi orang yang paling tertindas di sini.
Mata Alina terbelalak kaget mendengar apa yang Yulisa katakan, dia heran dengan apa yang terjadi. Memang dari sisi mananya tulisan isi hatinya bisa di artikan membenci sahabatnya sendiri yaitu Yulisa. Terpikirkan kehilangan sahabat oleh dirinya saja tidak pernah terlintas bagi Alina, bagaimana Yulisa bisa mengatakan jika bukti itu Alina lah yang menulisnya sendiri.
"Menulis apa? Jika yang kamu maksud tentang buku Diary ku, aku memang menuliskan tentang perasaanku pada Phiandra di sana. Tapi apa itu bisa dikatakan bahwa aku membencimu Lis? Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kalian tuduhkan, bagaimana kesalahpahaman ini bisa disimpulkan menjadi kebencian." Alina memperjelas apa yang dia pikirkan, karena sepertinya Yulisa sama sekali tidak ingin menjelaskan pada dirinya.
"Sudahlah Lin, kita berdua sudah membaca buku Diary bodoh mu itu. Setiap kata yang aku baca sangat menjijikkan, aku bahkan sebenarnya tidak ingin meneruskannya apa kau tau itu?!" Phujia menaburkan bubuk kebenciannya lagi dan lagi, membuat kedua sahabat baiknya menjadi saling renggang karena ulahnya.
"Menurut kamu perasaanku pada phian sangat menjijikkan?" Alina tidak percaya dengan apa yang dia dengar, siapa memangnya yang bisa mengatur hatinya sendiri. Jika bisa Alina juga tidak ingin jatuh cinta kepada orang yang disukai sahabatnya sendiri.
"Harus berapa kali aku katakan semua ini bukan tentang perasaan bodoh mu itu, bukan tentang itu semua Lin!!" Yulisa semakin kesal karena menurut dirinya Alina sangat bertele-tele dan terus memutar perkataannya kesana-kemari.
"Jika bukan karena hal itu lalu karena apa? Kenapa kamu begitu marah kepadaku?" Tanya Alina yang memang kenyataannya dia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dibicarakan Yulisa.
Yulisa tersenyum sinis mendengar apa yang Alina pertanyakan,
*Akting yang handal sekali, pantas saja aku sampai tidak memahami apa yang dia pikirkan selama ini. Buruknya nasibku karena menganggap orang seperti dirinya sebagai sahabat.* Pikir Yulisa yang meratapi pertemanan yang baginya terasa seperti sebuah kebohongan besar.
"Baiklah jika kamu ingin mendengarnya langsung dari mulut ku ini, kau ingin Phiandra benci dan jijik pada ku kan? Dengan cara mengatakan aku sudah tidak suci lagi! Meskipun kamu tidak menulis namaku dengan jelas tapi kita bertiga dan juga Phiandra tau jika yang kamu maksud itu adalah aku!" kesal Yulisa hingga menumpahkan semua unek-uneknya yang sedari tadi dia pendam, hal yang dia simpan rapat-rapat tapi nyatanya orang yang dia kira sahabat lah yang mengumbar aib nya sendiri.
"Aku tidak seperti itu Lisa! Kamu pikir aku ini sahabat macam apa? Aku tidak~" Belum selesai Alina berbicara, Yulisa kembali menamparnya dan meneriaki Alina.
*Plak
"Lalu siapa yang ka.u maksud dengan *Mpon? Wanita yang kau tulis sudah tidak suci lagi tapi dengan tidak tau malunya masih menyukai Phiandra? Yang kau katakan ingin membuka semua aib tentang Mpon, karena dia tidak pantas mendapatkan cinta. Orang yang kamu anggap tidak puas hanya dengan satu lelaki saja? Bukankah dia itu aku? Kamu tau sendiri Mpon itu nama panggilan ketika aku masih kecil, dan hanya kita bertiga juga Phiandra lah yang tau itu semua!!" Yulisa semakin sesak saat mengatakan semua yang dia pendam, karena emosinya dia sampai tidak berhenti berbicara dengan nada yang juga tinggi.
"Aku tidak pernah menuliskan hal-hal semacam itu Yulisa!! Jangan menuduhku sembarangan!!" Alina mulai marah karena Yulisa sudah keterlaluan, menuduhkan hal yang sangat tidak mungkin dia lakukan.
Alina tidak mungkin menulis semua yang dikatakan oleh Yulisa, dia sangat menjaga rahasia diantara mereka bertiga. Dalam hatinya sendiri Alina memang benar-benar ikhlas jika Phiandra bisa bersama dengan Yulisa jika itu dapat membuat sahabatnya bahagia, tidak pernah terlintas hal-hal yang negatif untuk menjatuhkan sahabat baiknya itu. Apalagi dengan cara membocorkan semua rahasia nya di depan Phiandra orang yang sangat di sukai sahabatnya ( termasuk juga dirinya ).
"Ya Tuhan~~ Alina!! Apa kamu tidak merasa malu?! Semua kebohongan dirimu sudah terungkap!! Aku sendiri bahkan sudah membaca apa yang kamu tulis tentang Yulisa. Anak satu kelas bahkan satu sekolah tidak ada yang tau siapa yang kamu maksud, tapi Phiandra dia tau pasti siapa orang yang kamu maksud!! Aku kasihan terhadap Yulisa, tapi aku masih menganggap kamu sebagai sahabat. Tapi tidak sepatah kata maaf pun terucap dari mulutmu untuk Yulisa! Terbuat dari apa hatimu itu Alina?!" Phujia menaburkan garam di atas luka Yulisa dan juga Alina, tidak mungkin rasanya dia melewatkan apa yang selama ini dia inginkan.
Perkataan Phujia tadi membuat Yulisa berpikir jika Alina sudah sangat merendahkan dirinya, menulis tentang 'keperawanannya' yang hilang saat smp, tentang dirinya yang memiliki pacar lebih dari satu, dan bahkan keburukan-keburukan lainnya tentang dirinya. Meskipun ditulis dengan nama masa kecil Yulisa hingga teman-teman satu kelasnya tidak ada yang mengetahuinya, akan tetapi Phiandra tau itu nama masa kecil Yulisa karena mereka berempat sering bercerita bersama dan hal itu membuat tulisan Alina semakin menyakiti hati Yulisa. Bagaimana dia akan menghadapi Phiandra setelah dia membaca semua kejelekan tentang dirinya, rasanya Yulisa sudah tidak memiliki wajah lagi di depan orang yang dia sukai.
Alina tau betul bagaimana Yulisa kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya itu, hingga bagaimana dia bisa menjadi seorang Playgirl. Tapi sepertinya Alina menjadikan semua cerita hidup tentang Yulisa menjadi sebuah lelucon yang bisa menghancurkan dirinya kapan saja, setiap kata yang ditulis Alina begitu menyayat hati Yulisa dan membuat luka yang cukup dalam dan tidak mungkin terobati hanya dengan kata maaf dari bibir Alina saja.
"Apa aku orang yang seperti itu di mata kalian berdua ? Apa aku ---- " belum sempat Alina menyelesaikan perkataannya seseorang menariknya keluar dari ruangan kosong tadi, Alina masih belum tau siapa orangnya. Tapi Alina juga tidak bisa menolak karena kejadiannya terlalu mendadak sehingga dia hanya bisa mengikuti orang itu.
Yulisa dan Phujia hanya bisa terdiam dan membisu melihat suatu adegan yang terjadi di depan mata mereka berdua, Alina di tarik keluar oleh Phiandra begitu saja. Tanpa ada sepatah kata yang terucap dari mulut Phiandra apalagi Alina, adegan itu membuat darah Yulisa semakin mendidih dan kontan saja Yulisa berteriak histeris karena kesal melihatnya.
"DASAR b******k! JALANG MURAHAN! AKU BENCI PADAMU, SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN KAMU!"
*Mpon nama panggilan YULISA waktu masih kecil, di ambil dari kata DEMPLON yang artinya cantik dan montok.