Jam Istirahat sekolah yang ditunggu oleh Alina pun akhirnya datang, semua murid sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi kepada Alina dan juga Yulisa. Tetapi mereka harus menahan rasa keingintahuan nya karena Alina, Yulisa dan Phujia tidak membicarakan masalah mereka di dalam kelas. Mereka bertiga memilih kelas kosong di pojok sekolah yang memang tidak pernah dipakai, entah itu ide dari siapa tapi ketiganya setuju dan memutuskan untuk tidak ingin pembicaraan mereka di dengar banyak orang. Karena kelas kosong itu berada di pojok itulah sebabnya jarang ada murid apa lagi guru yang datang ke tempat itu, sehingga memudahkan bagi mereka bertiga membicarakan hal pribadi yang tidak ingin di dengar oleh orang lain.
Sesampainya di ruangan itu mereka mencari tempat yang lumayan enak untuk bisa mendiskusikan permasalahan apa yang sedang terjadi, untungnya di sana ada kursi-kursi dan meja lebih yang di simpan untuk stok di sekolah. Walaupun kotor karena banyak debu yang menumpuk mereka bertiga mengakali hal itu dengan mengelapnya menggunakan tissue yang di bawa oleh Yulisa, setelah dirasa cukup bersih akhirnya mereka bertiga duduk dan mulai berbicara dari hati kehati.
"Selama ini aku menganggap kamu lebih dari sekedar sahabat baik, bahkan kamu lebih seperti saudara kandungku sendiri Lin." Tanpa di duga Yulisa membuka suaranya terlebih dahulu, dia tidak ingin marah sebenarnya tapi perasaan kesalnya tidak bisa dia sembunyikan.
"Tidak pernah aku sangka dalam hatimu aku adalah sebuah penghalang, sebegitu bencinya kah kamu sampai mencatat semua keburukan ku di matamu?" Tambah Yulisa dengan suara yang semakin berat dan bergetar karena mengingat semua yang ditulis oleh Alina.
Sekuat tenaga Yulisa mencoba untuk menekan rasa sakit hatinya, tapi begitu semua unek-uneknya tumpah Yulisa tidak dapat membendung air mata nya lagi hal itu terasa sangat sulit baginya.
"Apa maksudmu Lisa? Seharusnya aku yang bertanya apa kamu begitu membenciku hingga mengeluarkan semua sumpah serapah itu kepada ku? Ya, baiklah. Aku memang bersalah karena sudah menyukai Phian diam-diam, tapi aku sudah berusaha untuk menekan perasaan ini. Apa yang harus aku lakukan jika ternyata hatiku tidak ingin mengikuti perintahku?" Alina lebih tidak sanggup menahan semuanya lagi, air mata jatuh dari pelupuk mata indahnya yang sudah mulai bengkak juga merah.
Ketakutan mulai melanda Phujia saat ini, dia tidak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut. Jika terus seperti ini maka besar kemungkinannya mereka berdua akan berbaikan kembali, dan pada akhirnya nanti rencana Phujia untuk memecah belah persahabatan Alina dan Yulisa akan menjadi sia-sia belaka. Phujia sangat tidak ingin hal itu terjadi.
*Kesalahpahaman di antara mereka berdua ini tidak boleh sampai di selesaikan, mereka berdua harus tetap terpisah. Apa yang sudah aku rencanakan harus berjalan sebagaimana mestinya, Aku akan lebih bersyukur jika salah satu dari mereka keluar dari sekolah ini, apalagi jika itu adalah Alina.* Pikir Phujia dengan semua rasa dengki di hatinya, dia sangat bertekad untuk memisahkan persahabatan antara Alina dan Yulisa.
"Alina, sebenarnya aku tidak ingin membela siapapun diantara kalian berdua. Kalian sama-sama sahabatku dan aku sangat menyayangi kalian berdua, tapi menurutku semua yang kamu simpan di dalam hatimu itu adalah bukti bahwa selama ini kamu tidak benar-benar menganggap kami sahabatmu." Jelas Phujia yang berusaha terlihat sedang menengahi permasalahan, padahal sebenarnya dia menyiramkan bensin di atas bara api yang masih membara.
"Apa maksud kalian berdua? Aku bahkan menganggap kalian berdua seperti saudara kandungku dan kalian berdua tau itu, perasaan yang aku rasakan sama seperti yang kalian rasakan padaku. Apa karena menyembunyikan kenyataan bahwa aku menyukai Phian membuat aku terlihat begitu buruk? Aku menyimpan semua itu karena tidak ingin Yulisa merasa tersakiti, bagiku kalian berdua lebih penting dari perasaan cintaku." Alina menatap Yulisa yang sedari tadi menatap dirinya dengan sinis, namun apa yang bisa Alina lakukan hanyalah memberi penjelasan.
"Tidak ingin aku tersakiti? Kamu tidak ingin 'aku tersakiti'?!" Yulisa mengulang pertanyaannya dengan menekankan setiap kata terakhir yang menurutnya sangat tidak logis.
"Aku sebenarnya ingin menengahi kalian, tapi mendengar penjelasan kamu aku sedikit muak Alina!!" Phujia mengambil keputusan untuk menyudutkan satu orang saja, ya siapa lagi kalau bukan Alina. Jika tidak seperti ini dia takut rencana jahatnya akan gagal.
Daripada keduanya harus kembali akur, Phujia memilih menghindar dari satu orang dan membela yang satunya. Dengan begitu akan lebih mudah baginya 'terlihat' di antara teman sekelasnya jika salah satu dari kedua orang yang ada bersama dia sekarang ini hancur, Phujia berpikir setidaknya dia tidak akan lagi menjadi yang ketiga atau orang terakhir yang selalu di notice oleh orang lain. Mengurangi satu saingan dalam hidupnya rasanya itu cukup, untuk yang satu lagi dia bisa memikirkan cara lainnya nanti.
"A~apa?! Muak?" Alina menjadi semakin bingung dan juga kaget dengan respon dari Phujia, pasalnya sejak tadi Phujia selalu menengahi kenapa sekarang malah menyudutkan Alina?
"Ya benar, Aku sudah muak!! Aku kira kamu akan terbuka setelah kita berbicara hanya bertiga saja, tapi tidak ada kata maaf tulus yang keluar dari mulutmu itu Lin!! Semua hanyalah pembenaran dari semua tindakanmu yang sangat menjijikkan." Kata Phujia dengan nada suara tinggi yang dibuat seakan-akan Alina sangatlah bersalah atas semua ini.
"Sudahlah Jia, sudah aku katakan kita tidak perlu bicara dengan orang sepertinya lagi. Dia tidak akan merasa bersalah padaku." Ucap Yulisa sambil memegang tangan Phujia untuk menenangkannya, karena terlihat Phujia sangat marah atau kecewa terhadap Alina.
"Kamu terlalu baik Lisa, dia sangat tidak tau malu. Aku tidak percaya dia akan tega berbuat seperti ini!!" Phujia menunjuk Alina seakan-akan ingin mencengkeram nya dengan kasar, sungguh akting yang sangat menawan bukan.
"Apa yang kalian bicarakan? Pembenaran apa? Aku mengakui jika memiliki perasaan lebih terhadap Phian, tapi apa itu sangat menjijikkan di mata kalian berdua? Aku juga tidak ingin memiliki perasaan ini, tapi apa dayaku perasaan ini tidak dapat aku kendalikan." Air mata di pipi Alina terus mengalir tanpa bisa di hentikan, dia merasa bingung dan juga kewalahan harus dengan cara apa lagi menjelaskan semuanya kepada kedua sahabatnya ini.
"Oke, jika memang hanya tentang perasaan kamu terhadap Phiandra itu, aku sedikit nya bisa memahami hal itu. Hanya saja aku merasa kecewa karena kamu tidak pernah menceritakannya, bukankah kita sahabat yang selalu berbagi suka dan duka? Apa hanya demi perasaan kamu terhadap Phiandra kamu rela mengakhiri persahabatan kita ini?! Apa karena Phian kamu ingin aku hancur?! Demi dia kamu mengingat semua kesalahanku dan berniat ingin mempermalukan diriku di depan semua orang?! Apa seperti ini yang di sebut SAHABAT?!" Yulisa menyentak Alina sambil berdiri dari tempat dia duduk dan mendorong pundak Alina beberapa kali hingga Alina hampir terjengkang.
"Apa yang kamu bicarakan Lis? Aku tidak pernah ingin kamu hancur, kamu lebih dari tau jika aku pasti akan memilih kamu dibandingkan dengan Phiandra. Kamu tau aku tidak memiliki siapapun untuk aku jadikan sandaran selain kalian berdua, bagiku jangan kan Phiandra kalian berdua lebih penting di banding Ibuku sendiri dan kalian berdua tau itu." Alina memegang tangan Yulisa walaupun di lepaskan beberapa kali oleh Yulisa, tapi Alina tidak menyerah dan terus mencoba untuk meyakinkan Yulisa bahwa dirinya tidak ingin bermusuhan dengan Yulisa begitu pun halnya dengan Phujia.
Persahabatan ini bagi Alina adalah sebuah anugerah, bagaimana mungkin dia ingin menghancurkan anugerah yang dia miliki hanya demi sesuatu yang belum tentu akan dia miliki nanti.