Phujia masih bisa berakting dengan menampilkan raut wajah bingung, dengan rasa senang di hatinya bibir Phujia masih bisa menenangkan Alina yang sudah sangat tertekan.
"Sudahlah Lin, nanti kita bicarakan ini lagi. Guru mata pelajaran sudah masuk." Bujuk Phujia berkata sambil memegang tangan Yulisa dan tersenyum pada Alina berpura-pura menengahi padahal ada kebusukan didalam itu semua.
Alina menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Perasaannya kacau balau saat ini, semua fokus Alina hanya tertuju pada ucapan Yulisa saja. Tapi sebelum Alina mengeluarkan sepatah kata lagi tangannya ditarik oleh seseorang, Alina refleks melihat ke arah orang itu sambil menatap penuh kebingungan.
"Ayo duduk, Pak Guru sudah masuk." Ajak orang itu sambil menarik Alina ke kursi di belakang Yulisa dan Phujia.
Orang yang menarik tangan Alina adalah Dhama, mungkin karena mereka berdua sebangku jadi Dhama melakukan hal itu. Setelah duduk Alina masih saja terus menangis, Guru mata pelajaran kelas Alina pun tidak menyadari itu semua karena Alina menangis tanpa bersuara hanya air mata yang terus mengalir di pipinya di tambah Alina juga duduk di kursi paling belakang dan berada di pojok kelas sehingga lepas dari pengawasan guru mereka.
"Lin, jangan nagis terus itu buku sudah pada basah semua." Kata Dhama datar meskipun maksudnya ingin menenangkan Alina, sedangkan Alina langsung mengalihkan pandangannya ke tembok setelah semenjak tadi menatap Yulisa yang tepat berada di depan Dhama.
"Menangis manusiawi Lin, tapi mata kamu bengkak jadinya kalau terlalu lama." Tambah Dhama lagi, dia sebenarnya ingin menenangkan Alina hanya bingung bagaimana caranya untuk menghentikan tangisan Alina.
"Sebenarnya dikelas hari ini ada apa?" Tanya Alina yang memang sudah sangat penasaran, hanya saja dia sudah tidak sanggup berkata-kata lagi tadi.
"Kamu ada kehilangan sesuatu?" Tanya balik Dhama tanpa menoleh ke arah Alina.
"Sesuatu?" Beo Alina bingung.
"Semacam ~ buku misalnya." Tambah Dhama sambil menatap Alina dengan tajam.
Alina membelalakkan matanya, jantungnya berdetak dengan lebih cepat. Air matanya terhenti seketika mendengar pertanyaan yang lebih ke pernyataan dari Dhama, Alina sangat kaget saat mendengar apa yang diucapkan oleh Dhama tadi. Alina mengira Dhama tau dia kehilangan buku Diary nya, tapi Alina terus merasa ini semua tidak mungkin. Bagaimana bisa Dhama tau dia kehilangan buku Diary miliknya, bahkan Alina tidak pernah menceritakan tentang buku itu kepada siapapun. Baik itu Yulisa ataupun Phujia tidak pernah sekalipun Alina membicarakan tentang Diary, lalu bagaimana Dhama bisa tau jika selama ini Alina tidak pernah terlalu dekat dengan Dhama. Bahkan sahabatnya saja tidak ada yang mengetahui jika Alina masih suka menulis di buku Diary, hal itu membuat Alina gelagapan bingung.
"Bu~ buku apa?!" Tanya Alina ragu. Namun penasaran.
"You know it, Lin." Jawab Dhama tegas, mengerti jika Alina sedang berpura-pura.
Jantung Alina serasa diremas saat Dhama mengatakannya dengan tegas, sekarang dia yakin kalau Dhama mengetahui tentang buku Diary miliknya yang hilang.
"Kamu tau dari mana?" Alina penasaran bagaimana Dhama bisa tau tentang rahasianya.
"Semua anak di kelas ini juga sudah tau itu, bahkan mungkin semua yang sekolah di sini sudah mengetahuinya." jelas Dhama datar tanpa ada ekspresi yang berlebihan.
"Apa?!" Alina rasanya ingin berteriak tapi suaranya tidak keluar, hanya gerak bibirnya terlihat oleh Dhama.
"Bagaimana bisa?" Alina jadi seperti orang yang kebingungan, dia merasa dirinya seperti sedang ditelanjangi didepan umum. berada di taman tanpa berbusana, dan semua orang menatap ke arahnya. Begitulah apa yang kira-kira Alina rasakan saat ini, dapat kalian bayangkan semua isi hatinya di lihat dan diketahui oleh banyak orang. Kecerobohan Alina kali ini membawa petaka bagi dirinya sendiri. Ya, sebuah petaka yang sangat besar yang mampu mengubah hidupnya.
Terasa sangat malu dan tidak tau harus berbuat apa lagi, menyebabkan nafas Alina menjadi semakin berat lagi dari sebelumnya. Entah kenapa rasanya sulit sekali bernafas saat ini bagi Alina, dia ingin menangis sekeras-kerasnya seperti tadi namun air matanya tidak keluar setetes pun mau menjerit pun takut dia disangka gila. Sekarang Alina mulai mengerti kenapa Yulisa menjadi seperti tadi, hanya saja menurut Alina, Yulisa terlalu berlebihan terhadap dirinya. Bagaimana tidak, bukankah dia sudah mengalah dan tidak ingin berebut satu cinta dengan Yulisa tapi kenapa Yulisa malah marah kepadanya. Mungkin jika Yulisa hanya kecewa Alina masih bisa memahaminya, tapi jika semarah tadi bukankah itu agak berlebihan.
*Perasaan ini tidak bisa memilih bukan, lalu kenapa itu menjadi salah saat semua orang mengetahuinya. Aku selama ini selalu mendukung Yulisa mendekati Phiandra, tanpa pernah memperdulikan perasaanku yang sebenarnya. Apa menyimpan ini semua sebegitu menyakitkan untuk Yulisa? Hingga harus menyebutku dengan semua u*****n kasar itu?* Pikir Alina sambil menatap Yulisa dari belakangnya.
"Kamu punya perasaan lebih terhadap phiandra?" Tanya Dhama to the point, membuyarkan semua lamunan Alina tadi.
"A~apa?!" Alina kaget dengan pertanyaan tiba-tiba Dhama terhadapnya itu.
"Kamu suka phiandra?" Dhama mengulang pertanyaan nya tanpa rasa bersalah, malah kali ini dia menatap Alina untuk memastikan kebenarannya.
Alina belum bisa menjawab pertanyaan dari Dhama, dia melihat ke arah Yulisa lalu memindahkan pandangannya kepada Phiandra yang duduk di deretan yang sama dengan dirinya tepatnya dibangku paling ujung yang satunya lagi.
Tanpa Alina duga sama sekali ternyata Phiandra juga sedang menatap dirinya, entah sejak kapan Phiandra menatap Alina tapi begitu pandangan mereka bertemu Alina merasakan kedinginan di sorot mata yang biasanya hangat itu. Berbeda dengan sebelumnya Phiandra selalu saja bersikap manis kepada dirinya sama halnya kepada Yulisa dan Phujia, Alina terpaku pada tatapan Phiandra yang tajam tanpa ekspresi hingga mampu membekukan Alina saat itu juga.
"Don't look at him!! Biarkan saja mengalir seperti air, tidak perlu dipikirkan." Dhama menghalangi pandangan Alina yang mengarah pada Phiandra, hingga akhirnya Alina menatap ke arah Dhama.
"Aku harus bagaimana?" Tanya Alina lirih, karena dia memang bingung. Alina tidak tau dia harus berbuat apa kedepannya, sekarang yang dia rasakan adalah takut, bingung dan juga malu.
"Jawab dulu pertanyaan ku." Desak Dhama tidak mau kalah.
Alina tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Dhama, tapi anggukan kepala dari Alina mampu menjawab pertanyaan dan rasa ingin tau Dhama. Sekarang jelas sudah apa isi hati Alina yang sebenarnya.
"Seperti yang sudah aku katakan tadi, biarkan saja mengalir apa adanya." Jawab Dhama datar sambil memalingkan wajahnya dari Alina.
Tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Dhama, Alina mengerutkan keningnya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Dhama. Menyadari masih di perhatikan oleh Alina, Dhama melirik dan memberikan kode dengan wajahnya agar Alina kembali memperhatikan pelajaran sekolah. Dengan enggan Alina mengambil buku pelajarannya.
Alina dengan sekuat tenaga mencoba untuk fokus pada mata pelajaran, tapi semakin dia mencoba fokus Alina semakin terpikir akan buku Diary nya yang hilang. Hingga Alina pasrah dan tidak ingin membuat kepalanya meledak dengan memaksa dirinya untuk fokus belajar.
"Lin, nanti kita bicara saat jam istirahat." Phujia yang dari tadi diam saja kembali mengambil alih permainan dan menempatkan dirinya sebagai penengah, Alina yang memang tidak fokus pada apapun langsung menggangguk.
"Baiklah. Tapi~" Jawab Alina yang sudah sangat pasrah akan keadaan, namun masih memikirkan pendapat dari Yulisa. Dia tidak ingin Yulisa semakin membenci dirinya nanti.
"Yulisa sudah setuju kok Lin, kita bertiga akan membicarakannya baik-baik oke." Lagi dan lagi Phujia merasa bahagia di atas penderitaan kedua sahabatnya itu, seakan sekarang sedang berada di atas awan.
*Apa yang akan terjadi nanti aku tidak perduli lagi, tapi aku tidak akan pernah membiarkan kalian berdua bersahabat kembali. Apapun itu caranya, akan kupastikan kalian bermusuhan selamanya!!* Pikiran iblis Phujia selalu bergeming di kepalanya, dibalik wajah khawatir atas pertengkaran kedua sahabatnya ada senyum sinis penuh kemenangan yang tertutup rasa dengki Phujia.