7. Musuh dalam selimut

837 Words
Bola mata Alina seketika membesar tidak percaya melihat reaksi dari sahabat baiknya itu, dia bahkan terus berfikir bahwa itu hanyalah khayalannya semata atau Alina mungkin saja salah melihat dan mengartikan tatapan Yulisa kepadanya tadi. Alina kembali melihat ke arah teman-teman sekelasnya yang lain, dia kemudian mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti dengan kelakuan teman-teman satu kelasnya yang menurut Alina sangat aneh. Karena mereka seakan mengejek dengan tatapan mereka bahkan ada juga yang mengangkat kedua alisnya dan menaik-turunkan nya, sungguh Alina dibuat pusing kali ini. "Apaan sih? Kalian aneh deh, bikin pusing aja." Kata Alina sambil berjalan ke arah tempatnya duduk tanpa peduli lagi dengan reaksi yang lain. Tentu saja hal itu membuat teman satu kelasnya semakin 'menjadi-jadi' meledeknya, tapi pikiran Alina saat ini sedang teralihkan karena melihat reaksi dari sahabat baiknya yaitu Yulisa. 'Apa aku tadi salah lihat ya? Tapi kok Yulisa enggak nyapa aku begitu masuk tadi, apa karena temen-temen yang lagi gak jelas ya?' Pikir Alina dan tanpa sadar dia sudah berada di dekat tempat duduknya yang letaknya di belakang kursi Yulisa. "Lis, anak-anak pada kenapa sih? Bikin bingung aja, nggak jelas mereka tuh ya." Pertanyaan Alina sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana karena Alina merasa Yulisa menjadi dingin padanya. Tidak ada reaksi dari Yulisa, dia kembali menunjukkan senyum smirk nya pada Alina lalu membuang muka dengan raut wajah yang sangat kecut. Phujia yang melihat hal itu merasa senang sekali karena rencananya bisa berjalan dengan sangat baik, namun dia mencoba untuk menyembunyikan nya dari semua orang. "Lis? Kenapa? kok lu gitu sih sama Alina?!" Tegur Phujia pada Yulisa yang tentu saja hanyalah sebuah akting semata, padahal hatinya senang bukan kepalang. Di sisi lain Alina sangatlah terkejut, ternyata apa yang dilihatnya tadi bukan hanya sekedar khayalan atau penglihatannya saja. Apa yang Alina lihat adalah kebenaran dan bahkan secara terang-terangan Yulisa kembali bersikap seperti itu terhadap dirinya, Alina bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi saking terkejutnya. Ada luka yang tidak terlihat di hatinya, sehingga tanpa sadar Alina sudah mulai berkaca-kaca namun dia seolah tersadar mungkin saja Yulisa sedang ada salah paham terhadap dirinya sehingga dia sekuat tenaga menahan genangan air matanya agar tidak terjatuh dari pelupuk matanya begitu saja. "Lis, lu kenapa? Apa aku ada salah ya? Maaf kalau emang iya. Aku beneran nggak tau salah aku apa Lis." Rajuk Alina pada Yulisa sambil mengulurkan tangannya mencoba menggapai tangan Yulisa untuk menggenggamnya. Bagaikan kaca yang di hantam oleh palu, hati Alina seketika itu juga menjadi remuk dan hancur berkeping-keping saat uluran tangannya ditepis secara kasar oleh Yulisa. Tidak sampai di situ saja Yulisa sampai berdiri dari kursi tempatnya duduk dan mulai membentak Alina. "ENGGAK USAH SOK CARE LU SAMA GUE!! DASAR JALA*NG GA TAU MALU!! DI DEPAN AJA LU SELALU DUKUNG GUE. PADAHAL LU ITU MUSUH GUE YANG SEBENARNYA!!" Teriak Yulisa yang sontak saja membuat semua murid yang ada di kelasnya menengok ke arah mereka berdua karena kaget. Alina tersentak dan pandangan matanya semakin nanar, sedangkan Phujia sepertinya tidak ingin melewatkan hal yang sudah dia tunggu-tunggu selama ini. Phujia kembali memperlihatkan bakat akting nya yang sangat natural, dengan mencoba menengahi kedua sahabatnya. "Lis apa an sih, kita itu kan sahabatan. Kalau ada masalah apa-apa di bicarain baik-baik lah." Bujuk Phujia tidak ikhlas, namun dia menutupinya dengan skill berpura-pura nya yang ternyata sangatlah ampuh. "Lu gak tau sih Jia, dia~ apa yang dia simpen selama ini. Di depan aja kaya malaikat, padahal gak lebih dari sampah!!" Jelas Yulisa sambil menunjuk Alina. Yulisa pun langsung berlinang air mata dan menangis sesenggukan, bahkan anak-anak satu kelas mereka merasa bingung dengan tingkah Yulisa yang seperti itu. Karena tidak ada satu orang pun yang tau perasaan Yulisa yang sebenarnya. "Apa an sih Lis? Sumpah, gue gak ngerti maksud dari omongan lu Lis." Balas Phujia dengan wajah bermuka duanya yang sangat menyebalkan. Alina yang sedari tadi sudah menahan air matanya kini tidak mampu lagi membendungnya setelah mendengar perkataan Yulisa yang mampu memporak-poranda kan perasaannya, Alina menatap bingung dan tidak percaya pada Yulisa. Dengan menguatkan hatinya Alina mencoba berbicara langsung kepada Yulisa supaya mengatahui ada masalah apa dengan dirinya, seluruh sisa kekuatan yang Alina punya dia keluarkan agar mampu melakukan nya. "A~ aku, *hiks *hiks Jal*ng? Mak~ sud k~ kamu ap~ pa Lis? *hiks " Tanya Alina terbata-bata karena sakit yang dia rasakan dan juga tangisannya yang tidak terbendung lagi. "Iya elu!! Yang ngakunya sahabat gue padahal 'musuh dalam selimut'!!" Sentak Yulisa lagi, tanpa perduli dengan perasaan Alina. Belum sempat Alina menjawab pernyataan dari Yulisa tiba-tiba bel masukpun berbunyi, Alina tidak menyerah begitu saja, karena penasaran dia pun terus bertanya kepada Yulisa apa yang sebenarnya terjadi. "Lis~ Yulisa!! Kamu sebenarnya kenapa? Apa aku ada salah?" Desak Alina penuh keingintahuan, dia tidak ingin ada kesalahpahaman dengan sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri. Tapi Yulisa mengabaikan semua pertanyaan Alina, Yulisa duduk di bangkunya sambil membelakangi Alina yang sedang meminta penjelasan darinya. Walaupun Alina terus membujuknya tetap saja Yulisa tidak bergeming, dia mengabaikan semua yang dikatakan Alina. Bahkan jika Alina mencoba menyentuh tangan atau pundaknya, Yulisa dengan tidak segan-segan akan menepis kasar tangan Alina seperti tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD