Karena penasaran apa yang sedang terjadi, Yulisa melihat arah yang di tunjuk oleh Lilis, dia melihat sebuah buku Diary di sana. Tanpa banyak bertanya lagi Yulisa membaca setiap lembar buku Diary yang ada di depannya saat ini, dia membaca semuanya dengan serius tanpa terkecuali.
Membaca buku Diary Alina, membuat Yulisa membelalakkan kedua matanya. Dadanya terasa tercubit dan itu sangat sakit sekali, namun sebisa mungkin Yulisa mencoba untuk meredam perasaannya saat ini.
Tapi perlu diingat, Yulisa hanyalah manusia biasa yang tidak bisa bersikap datar saja saat dia merasa tersakiti. Makanya pandangan nanar di mata Yulisa tidak bisa di tutupi sama sekali, meski dia sudah berusaha tetap saja terlihat. Tidak ingin pertahanannya runtuh, Yulisa lalu melenggang pergi ke arah tempat duduknya dan menyimpan tasnya di sana tanpa memperdulikan buku Diary milik Alina.
Saat merasakan perubahan pada Yulisa, teman sekelasnya langsung merasakan keanehan pada reaksi yang Yulisa perlihatkan. Bukan apa-apa, selama ini yang mereka tau Yulisa dan Alina adalah sahabat yang sangat dekat bahkan sudah seperti saudara kandung. Sehingga mereka semua berpikir Yulisa akan melakukan sesuatu yang ekstrim untuk menghalangi lebih banyak teman sekelas yang lain agar tidak membaca lagi buku Diary milik Alina tersebut.
Tapi kenyataannya sangat berbeda, Yulisa seperti tidak perduli dengan hal itu. Dia bahkan terkesan membiarkan apa yang sedang menimpa pada sahabatnya di depan matanya sendiri, tanpa ingin campur tangan untuk sedikit membantu sahabatnya.
"Eh, kenapa tuh si Yulisa?" Kata teman sekelasnya sambil bisik-bisik karena keheranan.
"Nggak tau tuh, kirain mau marah atau gimana gitu ke kita. Lah dia taunya cuek-cuek aja." Sahut yang lain menimpali karena sama terkejutnya.
"Iya bener. Bodo amat lah, gua nggak urusan juga." Tambah salah satu teman laki-laki di sana.
Begitulah bisik-bisik antara teman-teman sekelasnya, Yulisa yang sedikit banyaknya mendengar dan sadar akan hal itu tapi dia terus menutup mata dan telinganya tanpa ingin menimpali atau pun peduli pada desas-desus di sekelilingnya. Saat ini membenahi perasaannya jauh lebih penting bagi Yulisa daripada mengurusi itu semua, pikirannya seakan dipenuhi dengan hal-hal yang saat ini sedang berkecamuk di dalam otaknya dan itu membuat Yulisa seakan bisa meledak kapan saja.
Yulisa sendiri bahkan tidak tau apa yang akan dia katakan nanti pada Alina atau bahkan reaksinya saat bertemu dengan sahabat baiknya itu, akan bagaimana nantinya biarkanlah berjalan seiring dengan apa yang dia rasakan walaupun nantinya dia dan Alina akan tersakiti.
Tidak lama berselang Phiandra pun datang dan tentu saja tidak melewatkan apa yang sedang hangat di perbincangkan oleh teman satu kelasnya, tidak dapat di tebak oleh orang lain bagaimana reaksi Phiandra setelah membaca buku Diary Alina yang saat ini menjadi gunjingan satu kelas (Tentu saja itu termasuk dirinya sendiri, karena pengakuan cinta Alina padanya di buku itu).
Wajah Phiandra terlihat datar tanpa ekspresi apapun, akan tetapi dia tidak melewatkan setiap kata yang Alina tulis di dalam Diary kecil yang saat ini dia baca. Ada aura dingin di sekitar Phiandra saat dia membaca lembar demi lembar curahan hati Alina, hingga teman satu kelas mereka tidak ada yang berani meledeknya atau bahkan bicara sepatah katapun.
Tidak bisa dikatakan jika aura itu di sebut ketidaksukaan Phiandra terhadap isi Diary itu, tapi juga ekspresi itu jauh dari kata dia menyukai isi Diary milik Alina. Setiap orang di kelasnya mencoba untuk menerka-nerka isi pikiran lelaki yang saat ini sedang menjadi sorotan di kelas berkat sebuah buku Diary, hanya saja tidak seorangpun yang berani bertanya walaupun itu hanya sebagai candaan.
Saat ini anak-anak satu kelas Alina sudah mengetahui isi dari Diary milik Alina, bahkan dari kelas sebelah pun gosip itu sudah mulai tersebar secepat angin berhembus.
Tentu saja Alina yang baru berjalan masuk menuju kelasnya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tapi Alina juga tidak bodoh hingga tidak dapat merasakan tatapan orang-orang di sekelilingnya yang seperti mengejek dan sebagian lagi tertawa-tawa begitu melihat dirinya.
'Kenapa sih? Ada yang salah apa ya, perasaan salah seragam juga engga deh? Kok pada gitu amat liatin gue nya?' Pikir Alina sambil terus mengecek seluruh tubuhnya takut ada yang salah, namun dia terus berjalan menuju kelasnya tanpa berhenti.
Saat beberapa langkah lagi akan sampai ke kelasnya, Alina berpapasan dengan Phujia yang sedang berpura-pura baru datang ke sekolah.
"Eh,Jia. Baru datang juga?" Sapa Alina ramah seperti biasanya.
"Iya nih." Jawab Phujia datar (ada sedikit ketegangan di suaranya yang tidak dirasakan oleh Alina).
Dikamar mandi tadi saat phujia berdiam diri begitu lama, ada beberapa murid yang pulang pergi dan membicarakan soal buku Diary Alina. Phujia tidak menyangka bahwa masalah ini akan berdampak sangat besar karena hampir satu angkatan di sekolanya mengetahui cerita Diary Alina, bahkan dia tidak mengira isi diary itu akan menghebohkan satu angkatannya bahkan satu sekolahan termasuk kakak kelas mereka juga sudah mengetahui isi dari Diary Alina.
Dengan sedikit gemetar Phujia mencoba bersikap seperti biasa di dekat Alina, sedangkan Alina sendiri tampak tidak begitu memperhatikan Phujia karena orang di sekitarnya yang terus berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya dan hal itu sedikit mengganggu bagi Alina.
"Jia, kamu ngerasa gak sih kalau orang-orang pada bisik-bisik tentang gue?" Tanya Alina sedikit merengek karena risih.
"Hah?! " Kaget Phujia lalu melihat sekelilingnya dan mengerti apa yang sedang terjadi hanya dengan sekali lihat saja.
"Perasaan lu aja kali Lin." Tambahnya lagi mencoba menenangkan, padahal Phujia tau hal yang sebenarnya dan sangat menyukai reaksi orang-orang saat ini. Hanya saja ada sedikit ketakutan karena sepertinya masalah ini akan berbuntut panjang, tidak seperti yang dia rencanakan.
"Hemh. Ya udah kita ke kelas aja yu." Ajak Alina sambil menarik nafas panjang pasrah.
Alina dan Phujia pun segera berjalan memasuki kelas mereka walaupun di suguhi lirikan dan bisik-bisik sampai masuk ke dalam ruangan kelas, Alina kira saat di dalam kelas bisikan dan lirikan akan berhenti dan dia akan merasa sedikit nyaman. Tapi tentu saja itu salah besar, begitu masuk ke dalam kelas, teman-teman sekelas Alina tambah 'menggila'. Ya mereka semakin menjadi-jadi karena 'Bintang' dari gibahan mereka akhirnya muncul juga.
"Ah~ cie~ cie~ cie~ Alina"
"Ekmh-- ehmk-- ekhm... Baru datang Lin?"
(bersiul...) dan lain sebagainya lagi.
Alina tentu saja kaget dengan hal itu, dia tidak memahami apa yang sedang terjadi sekarang. Seketika Alina merasa dalam ketegangan meskipun dia tidak tahu apa penyebabnya, dia menatap sekelilingnya dengan aneh dan meminta jawaban dengan tatapan matanya.
Kemudian melihat Phujia yang masih dalam mode aktingnya mengangkat bahu tanda tidak tahu, lalu Alina memutar bola matanya mengelilingi kelas mencari Yulisa yang tidak lama langsung tertangkap oleh matanya. Tapi jantung Alina langsung mencelos ketika melihat reaksi dari Yulisa, saat tatapan mata mereka bertemu Yulisa menampilkan senyum smirk mengejek di wajahnya lalu membuang muka dan memutus tatapan matanya pada Alina.