Lama Alina mencari tapi tidak kunjung menemukan buku Diary miliknya juga, dia segera berlari keluar kamar dan mencari Ibunya. Begitu Alina melihat Ibunya sedang berada diruang TV, dia langsung saja menghampiri Ibunya tanpa pikir panjang lagi.
"Bu, tadi Ibu masuk ke kamar Alina ngga? Bersihin meja belajar aku misalnya?" Tanya Alina dengan penuh rasa was-was.
"Apa sih?! Kerajinan banget Ibu harus beresin barang kamu!!" Jawab Nansih Ibunya Alina dengan cueknya.
"Tapi buku Diary Alina gak ada Bu." Tanya Alina lagi.
"Kamu masih nulis di Diary? Kaya jaman apaan aja, udah gitu teledor lagi nyimpen di mana aja. Udah hilang gini aja Ibu yang ditanya-tanya." Sewot Ibunya Alina karena malas terus ditanyai.
"Ya udah sih kalau gak lihat, lagi pula emang aku masih suka buku Diary kok." kata Alina kesal sambil berlalu meninggalkan Ibunya yang langsung saja mencak-mencak karena Alina secara tidak sopan melengos pergi di depannya begitu saja.
Dengan susah payah Alina mencoba tidur karena hari pun sudah semakin malam dan lagi besok dia harus ke sekolah, walaupun perasaan tidak enak pada hati Alina begitu kuat dia mencoba meredam semua perasaan itu. 'Mungkin saja terselip di suatu tempat atau tanpa sengaja aku membuangnya, bisa jadi seperti itu kan?' Yah, anggaplah seperti itu pikir Alina dalam hatinya.
~•••~
Pagi harinya, saat suasana di lingkungan sekolah masih sepi. Tidak biasanya seorang siswi sudah datang ke sekolah dengan celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada orang lain selain dirinya yang sudah berada di sekolah saat ini.
Memang tidak seperti biasanya dia datang ke sekolah sepagi itu, tapi dengan caranya yang datang ke sekolah dengan rasa cemas dan waspada, setiap orang yang melihat pasti tahu dia akan melakukan sesuatu yang tidak ingin di ketahui orang lain bahwa dialah pelakunya. Terkesan seperti itu bukan?!
Saat tiba dikelas siswi itu bernafas lega melihat keadaan kelas masih kosong tanpa seorang pun berada di sana,
'Huft~ Sudah aku kira jam segini pasti belum ada yang datang.' Gumam Phujia lega di dalam hatinya.
Yah,benar sekali. Phujia sengaja datang lebih awal hari ini, bisa dibilang sangat awal malah. Phujia akan menjalankan rencana jahatnya yang sudah dia rencanakan dari kemarin. Tanpa menunggu lebih lama lagi Phujia mengambil buku Diary Alina yang kemarin dia curi dan menempelkan double tape di bagian luarnya, setelah itu Phujia menempelkan Diarynya di tengah papan tulis hingga isi dari Diary itu dapat terlihat oleh orang lain.
Phujia sengaja membuka bagian di mana Alina mengakui perasaannya terhadap Phiandra, lalu tidak lupa dia menempelkan stiker love di bagian itu agar terlihat lebih mencolok dan menarik perhatian orang untuk melihatnya. Phujia juga menjepit buku itu agar dapat terbuka di bagian yang dia inginkan semua anak kelas mereka untuk membacanya, termasuk juga Yulisa dan Phiandra sendiri.
'Haha, akan menyenangkan melihat Alina kehilangan sahabatnya dan juga orang yang diam-diam dia sukai di saat yang bersamaan. Aku yakin Phiandra juga akan menghindarinya jika dia tahu perasaan Alina yang sebenarnya!' Senyum licik terukir di wajah Phujia saat memikirkannya, jahat sekali memang untuk seseorang yang mengaku sebagai seorang sahabat.
Setelah selesai dengan apa yang Phujia lakukan, dia cepat-cepat meninggalkan kelasnya agar tidak seorang pun tau dan menjadi saksi yang melihatnya datang ke sekolah dipagi hari bahkan melakukan ini semua. Bukan takut kehilangan sahabatnya, tapi dia takut akan di sebut sebagai musuh dalam selimut oleh teman sekelas yang lain dan mereka akan mengucilkannya karena menganggap dirinya jahat.
~•••~
Keadaan pagi hari di rumah Alina terlihat biasa saja, untunglah Alina tidak bangun terlambat sehingga dia tidak perlu tergesa-gesa untuk pergi ke sekolah.
Sementara itu entah kenapa tanpa alasan yang jelas d**a Alina berdebar lebih kencang saat dia memikirkan tentang buku Diarynya yang hilang, apa yang menjadi alasannya Alina sendiri tidak tahu. Tapi Alina berusaha mengatasi kecemasannya sebaik mungkin, siapa yang tau mungkin saja itu efek dari ketakutannya karena kehilangan benda yang menyimpan semua rahasia hatinya.
'Ah, tenanglah Alina. Mungkin saja ini karena aku kehilangan buku yang selalu aku jadikan tempat curhat ku.' Begitu pikir Alina untuk menenangkan hatinya yang khawatir.
Alina lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi, setelah selesai dia lalu membereskan keperluan sekolahnya dan setelah itu pergi tanpa pamit kepada Ibunya seperti biasa.
~•••~
Di kelas Alina beberapa murid sudah mulai berdatangan, awalnya beberapa murid tidak memperhatikan apa yang ada di papan tulis mereka. Namun saat seorang murid tidak sengaja melirik ke arah papan tulis perhatian mereka semua langsung saja terpusat pada buku yang saat ini di tempel di tengah papan tulis, semua murid merasa aneh dan saling bertanya buku apa dan siapa pemiliknya.
"Ih, buku apaan sih itu?" Tanya Isma (teman sekelas Alina).
"Nggak tau tuh, nggak ada kerjaan kali ya nih orang nempelin buku di situ." Sahut Rizki aneh.
"Eh, liat yuk. Kan penasaran apa isinya." Tambah Trya sambil berjalan ke arah buku itu.
Dengan hitungan menit saja mereka semua sudah membaca buku Diary yang tertempel di papan tulis kelas, tanpa sadar mata mereka semua saling lirik dan senyum-senyum sendiri karena membacanya.
"Ah ya ampun, lucu amat si Alina. haha" celoteh Trya saya membacanya.
Trya dan Rizki memang terkenal di sekolah bukan karena prestasi atau ketampanannya tapi karena kedua lelaki ini termasuk lelaki yang 'ember' atau suka bergosip di kelas mereka, dan juga mereka berdua selalu jahil kepada anak-anak yang lain.
"Jangan gitu lu, kasian si Alina tau." Kata Ismi sambil memukul pundak Trya, pasalnya bukan hanya cerita lucu saja yang ditulis di sana tapi juga semua kesedihan Alina.
"Siapa lagi yang gak ada kerjaan pake majang Diary orang kaya begini? Udah kita copot aja, keburu yang lainnya pada datang. Kan kasian si Alina." Tambah Ismi lagi, dia juga merasa tidak suka jika rahasianya di ketahui orang-orang apalagi dengan cara yang sedikit memalukan seperti ini. Makanya Ismi merasa simpati.
Namun saat akan mencopot Diary itu, beberapa teman sekelas mereka datang dan langsung saja melihat ke arah kerumunan depan papan tulis karena penasaran apa yang sedang terjadi.
"Ada apaan guys ko ngumpul di sini?" Tanya Lilis ceria, saat menghampiri yang lain.
"Eh!!" Isma, Trya dan Rizki sedikit kaget dengan sapaan Lilis yang ceria sekaligus cempreng itu.
Tidak butuh waktu lama lilis juga langsung bisa melihat isi dari diary itu karena masih terpajang di sana dan belum sempat di copot oleh Ismi. Terlebih lagi pada bagian yang sudah ditandai oleh phujia, kenapa? Karena bagi teman-temannya itu adalah bahan olokan yang menarik di kelas.
"OMG~~~ omg, omg.... Si Alina ternyata-" Belum selesai omongan Lilis yang histeris itu, dia terpotong oleh suara yang berada tepat di belakangnya.
"Alina ternyata kenapa?" Tanya Yulisa yang baru saja tiba, dia begitu penasaran kenapa nama sahabatnya di bawa-bawa.
" Eh, ada Yulisa. Hehe, itu Lis. Duh gimana ya jelasinnya, kamu liat aja deh sendiri." Kata Lilis merasa tidak enak karena dia tau Yulisa adalah sahabat dekat Alina.