4. Munafik

1106 Words
Tidak terasa jam pulang sekolah pun sudah tiba, seperti biasanya para murid bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing. Bahkan ada saja dari mereka yang sengaja berlari keluar kelas (Entah mereka mengejar apa? Mungkin Bus atau lainnya), tapi tidak di pungkiri juga ada murid yang santai dan bahkan bermain dulu sebelum pulang dengan teman-temannya. Tidak jauh berbeda dengan murid lainnya, Alina, Yulisa dan juga Phujia segera meninggalkan bangku mereka dan akan bergegas pulang. Saat akan melangkah keluar dari pintu kelas, langkah mereka bertiga terhenti karena ada suara yang memanggil. Dengan kompak mereka bertiga melirik ke arah sumber suara yang sudah sangat mereka kenali itu. "Hey, tunggu dulu. Bareng lah pulangnya." Kata Phiandra sambil buru-buru membereskan bukunya dan segera menyusul Alina, Yulisa dan juga Phujia yang tadi sudah mau berjalan keluar kelas.  Ada sedikit senyum di bibir Alina dan juga Yulisa yang dapat dengan jelas dilihat oleh Phujia, bukan karena sudah begitu dekat dengan mereka berdua saja tapi mungkin juga karena Phujia sudah tau perasaan Alina dan juga Yulisa terhadap pria yang sedang terburu-buru menghampiri mereka itu.  Dalam hati Phujia begitu iri kepada kedua sahabatnya yang terkesan selalu berada di atas dirinya, Phujia selalu berpikir jika dialah yang selalu menjadi nomor tiga dalam segala hal apapun itu, misalnya dalam pelajaran ataupun bersosialisasi dengan teman lainnya Phujia selalu merasa di bawah Alina atau pun Yulisa. Hal itulah yang membuat Phujia menyimpan rasa benci dan dengki di balik senyum persahabatannya ( meskipun seharusnya itu bukan alasan yang baik untuk membenci seseorang apalagi sampai berbuat hal yang bisa merugikan orang lain ). Tak lama Phiandra sudah menyusul para gadis itu, mereka menyambut kedatangan Phiandra seperti biasanya tanpa berlebihan. "Eh, Phian. Kamu kemana aja? kok tadi istirahat tumben nggak bareng kita?" Tanya Yulisa agak malu, karena sedang berusaha memendam perasaannya. "Iya nih Lis, tadi aku ada perlu sama anak kelas sebelah." Jawab Phiandra enteng sambil mengajak mereka bertiga untuk melanjutkan perjalanan lagi. "Ya udah ayo buruan kita pulang, udah sepi tau." Sahut Phujia yang sudah tidak sabaran. Yang lainpun hanya mengangguk pertanda mengiyakan dan berjalan pulang dengan santai, sesekali ada percakapan di antara mereka seperti biasanya. Dari percakapan itu juga bisa terlihat dengan jelas jika Yulisa begitu mengagumi sosok yang saat ini sedang dia ajak bicara, sedangkan Alina mencoba dengan sekuat tenaganya untuk menyembunyikan perasaan yang saat ini sedang dia sembunyikan rapat-rapat.  Meski begitu Phujia bisa melihat dengan jelas apa yang Alina pikirkan saat ini, karena dia sudah mengetahui perasaan Alina yang sebenarnya terhadap Phiandra.  Phujia bisa melihat dengan jelas bagaimana sorot mata Alina yang bersinar terang jika Phiandra berbicara kepadanya, Ya mau bagaimana jika memang sudah suka ditutupi sedemikian rupa pun pasti akan terlihat jelas melalu gerak-gerik nya bukan. 'Asli ni orang ya!! Bisa banget nutupin sifat aslinya. Kaya yang betul aja tiap curhat bareng ngedukung Yulisa, padahal di belakangnya saingan juga. hadeuh~ munafik banget!!' Pikir Phujia dalam hatinya sambil melirik ke arah Alina, namun dia bisa menutupi rasa kesal dan bencinya dengan sesekali ikut dalam obrolan mereka bertiga. Setelah keluar dari lingkungan sekolah, Alina dan yang lainnya pulang ke arah rumah masing-masing. Yulisa sudah di jemput sedangkan Phujia pulang dengan angkutan umum, Alina menaiki angkutan umum yang lain karena rumahnya dengan Yulisa tidak searah begitu juga dengan Phiandra yang pulang dengan motornya. ~***~ Sesampainya di rumah, Alina langsung membuka sepatunya dan bergegas masuk ke dalam. Alina melihat Ibunya sedang memasak makanan di dapur, meskipun menyadari anaknya sudah pulang Ibunya Alina sama sekali tidak ingin berpaling dari apa yang sedang dia kerjakan saat ini. Begitu juga dengan Alina, dia tidak ingin bertegur sapa dengan Ibunya makanya Alina langsung saja berjalan menuju kamar tidur miliknya. Ingin rasanya Alina cepat lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan, sehingga dia bisa segera meninggalkan rumah ini dan jauh dari Ibu yang tidak perduli sama sekali terhadap anaknya. Ya, Alina tau apa yang sedang kalian pikirkan. Jika Ibunya tidak menyayangi Alina, dia tidak akan menyekolahkannya, memberi Alina uang jajan, membelikanny baju, memberi makan, dan lain sebagainya. Alina juga sangat berterima kasih pada Ibunya karena itu semua. Bahkan Alina juga pernah berpikir jika dia mungkin saja sedang berburuk sangka terhadap Ibunya sendiri.  Akan tetapi semua pikiran buruk itu selalu muncul lagi, lagi dan lagi!!  Alina sangat menyadari jika dia begitu membutuhkan apa yang sudah Ibunya berikan, tapi di atas itu semua Alina juga lebih membutuhkan perhatian dari Ibunya. Bukan hanya kebutuhan sekolah, makan dan lainnya tapi juga kasih sayang yang selalu seorang Ibu berikan kepada anaknya. Kasih sayang yang tulus dan bukan hanya sekedar basa-basi seperti yang Alina rasakan saat ini.  Dalam hati kecil Alina, dia juga ingin seperti orang lain. Setiap pulang sekolah ada yang bertanya bagaimana hari-harinya di sekolah, sudah makan atau belum, bercerita hal-hal yang tidak penting berdua, tertawa dan bercanda bersama, bercengkrama layaknya seorang Ibu pada anak gadisnya. Hanya itu keinginan Alina, apakah dia terlalu menuntut? 'Apa aku terlalu serakah jika menginginkan semua itu??' Bisik Alina dalam hatinya. Alina menghapus semua pikiran-pikiran itu dan segera masuk ke kamar untuk menyimpan tas lalu berbaring di tempat tidurnya, tidak berapa lama merebahkan diri Alina segera bangun kembali dan berganti pakaian lalu turun lagi untuk makan. Sesampainya di meja makan Alina melihat Ibunya sedang menyantap makan siangnya, tanpa banyak bicara Alina pun mengambil piring dan menyendokan makanannya lalu duduk agak jauh dari Ibunya. "Kalau makan aja nggak usah di suruh." Sindir Nansih Ibunya Alina. Perkataan Ibunya itu langsung terdengar oleh Alina saat dia baru memasukkan sendok pertama ke mulutnya, 'selalu saja seperti ini.' Gumam Alina dalam hati. "Hemh~~" Alina menjawabnya dengan berdeham dan sedikit mendengus karena kesal dengan apa yang Ibunya ucapkan. Dengan cepat Alina menyelesaikan makannya dan segera membersihkan piring bekas dia makan dan tidak lupa juga bekas masak Ibunya yang belum di cuci, setelah selesai Alina segera kembali ke kamar karena tidak ingin mendengar ocehan dari Ibunya yang nantinya pasti akan menimbulkan adu mulut dan hal itu selalu menghancurkan hati Alina. Di dalam kamar Alina langsung mengambil handphone miliknya dan segera menonton film ataupun drama korea yang sudah dia download (Alina memang suka drama korea atau kpop, hal itu membuat Alina lepas dari stress nya), tidak terasa berjam-jam sudah berlalu saat Alina sedang asyik menonton drama yang menurutnya menarik. Alina segera melihat jam dan dia sedikit terkaget melihatnya "Ya ampun udah jam segini lagi aja." Kata Alina saat melihat jam di layar handphonenya tertulis 20.37. Alina segera bangkit dan mencari buku keramat miliknya di meja belajar, tiba-tiba saja jantungnya berpacu dengan lebih cepat saat mendapati buku Diary nya tidak berada di sana. Alina mencoba mencarinya lagi untuk memastikan, setelah mencari di setiap bagian dia tidak kunjung juga menemukan buku Diary miliknya. 'Aku ingat kemarin menaruhnya di sini.' Ingat Alina kembali sambil terus mencari di meja belajar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD