Alina tersenyum lembut menatap Dhama yang saat ini berada tepat disebelahnya, bibirnya selalu tersenyum tapi air matanya terus mengalir di pipi Alina. Bagaimana dia bisa menyalahkan Dhama atas kejadian buruk ini, sebaliknya justru Alina merasa bersyukur bisa memiliki Dhama yang selalu menolong nya saat dia membutuhkan bantuan. "Tidak Dhama, ini semua sama sekali bukan kesalahan mu. Aku malah bersyukur kamu selalu ada dan selalu menolong ku di saat aku benar-benar merasa perlu pertolongan." Alina berusaha memaksakan senyumnya dengan air mata yang terus berurai di pipinya, dia tidak mengerti kenapa Dhama merasa bersalah padahal Alina merasa tenang jika berada didekat Dhama. "Jangan tersenyum dengan hati yang penuh luka Alina, tidak apa-apa jika kamu ingin menangis, marah, ataupun berteria

