BAB. 1 - 2
BAB 1: Tukang Ketoprak yang Bikin Hati Berdebar
Lokasi: Lapangan Cengkareng Barat, Jakarta Barat
Waktu: Siang hari, terik tapi ramai pengunjung
Di sudut lapangan, ada gerobak ketoprak sederhana yang selalu dikerumuni orang. Yang jual bukan sembarang tukang masak. Namanya Yusuf.
Wajahnya persis bintang film Amir Khan waktu muda. Kulitnya putih bersih, senyumnya manis, matanya tajam tapi lembut. Tiap dia aduk bumbu, mata wanita-mana saja pasti melirik.
“Mas Yusuf, tambah bumbunya dong!”
“Ini uangnya, ambil kembaliannya nggak apa-apa!”
“Mas, besok jualan tetap di sini ya?”
Begitu komentar celetukan cewek-cewek, ibu-ibu, sampai yang sudah punya suami sekalipun. Ada yang sengaja lewat berkali-kali cuma buat lihat dia.
Yusuf cuma senyum sopan. Tangannya cekatan meracik ketoprak. Baginya, ketampanan bukan tiket buat main hati.
“Cantik luar biasa kalau hatinya nggak nyambung, percuma juga,” gumamnya pelan.
Siang itu, ada mobil bagus berhenti agak jauh. Seorang wanita turun. Pakaiannya rapi, penampilannya elegan. Wajahnya manis, awet muda banget. Kalau dilihat, persis aktris Manisa Khoirala waktu masih muda. Tubuhnya berisi pas, bikin banyak mata melirik.
Namanya Sari. Dia datang nemenin anaknya, Lina, yang mau beli ketoprak.
Lina berjalan duluan. Matanya langsung berbinar lihat Yusuf.
“Mas, satu ketoprak ya!” kata Lina, suaranya agak gemetar.
Yusuf menoleh. “Siap. Pedasnya sedang ya?”
Lina mengangguk cepat. “Boleh saja. Yang penting buatan Mas.”
Yusuf cuma tersenyum tipis. Sambil meracik, matanya tak sengaja melirik ke belakang. Di sana berdiri Sari.
Waktu mata mereka bertemu, Yusuf diam sesaat. Wanita itu tenang, tatapannya lembut. Bukan tatapan menggoda, tapi terasa dalam.
“Cantik juga… tapi pasti sudah punya suami,” pikir Yusuf dalam hati.
Sari pun mengamati Yusuf. “Masih muda, rajin, sopan. Pantas juga kalau anak saya suka,” batinnya.
Ketoprak sudah jadi. Yusuf serahkan. “Ini. Selamat menikmati.”
Lina terima sambil tersipu. “Terima kasih, Mas. Besok saya datang lagi ya.”
Yusuf mengangguk. “Silakan saja.”
Mereka berjalan pergi. Sepanjang jalan, Lina terus bercerita.
“Bu, Mas Yusuf ganteng banget ya? Sopan lagi. Saya suka sama dia.”
Sari tersenyum mendengar. “Kalau begitu, dekati pelan-pelan. Lihat dulu sifatnya.”
Di gerobak, Yusuf mengelap tangannya. Bayangan wajah Sari sempat terlintas sebentar, lalu hilang. Dia fokus melayani pembeli lain.
“Hati saya cari yang pas jiwanya. Bukan cuma soal rupa,” tekadnya.
BAB 2: Kunjungan yang Berulang
Lokasi: Gerobak ketoprak Yusuf, sore hari
Waktu: Langit mulai jingga, angin berhembus sejuk
Sudah seminggu lebih, Lina selalu datang beli ketoprak. Kadang sendirian, kadang ditemani Sari. Lama-lama, dia berani mengobrol lebih banyak.
“Mas Yusuf, asli orang sini ya?”
“Biasa saja. Kenapa nggak buka tempat makan yang lebih besar?”
“Mas, nanti malam ada acara di lapangan, mau ikut?”
Yusuf menjawab apa adanya. “Iya, asli sini. Modal pas-pasan, jadi cukup gerobak dulu. Kalau acara, kadang saya ikut kalau nggak sibuk.”
Lina tersenyum lebar. “Kalau begitu, saya tunggu ya.”
Tak lama, Sari datang. Kali ini dia beli juga. “Mas, satu ketoprak juga ya. Sedikit pedas.”
Yusuf menyiapkannya. “Baik, Bu.”
Sambil menunggu, Sari bicara pelan. “Mas Yusuf rajin sekali. Dagangan selalu ramai.”
Yusuf tersenyum. “Alhamdulillah. Rezeki nggak ke mana, Bu.”
“Pintar bicara juga,” puji Sari.
Yusuf tertawa kecil. “Biasa saja. Saya lebih suka orangnya apa adanya.”
Sari mengangguk setuju. “Betul juga. Penampilan boleh bagus, tapi hati dan sikap itu nomor satu.”
Yusuf menoleh, merasa ada yang nyambung dari kata-kata itu. “Persis pendapat saya, Bu. Cantik atau tampan kalau hatinya nggak sejalan, lama-lama juga nggak nyaman.”
Sari tertegun sebentar. Dia tak menyangka pemuda sederhana punya pemikiran sedalam itu. “Mas Yusuf beda dari yang lain ya.”
“Mungkin saja,” jawab Yusuf santai.
Ketoprak selesai. Mereka bayar dan berpamitan. Di jalan pulang, Lina terus bicara.
“Bu, saya yakin Mas Yusuf orangnya baik. Saya mau kenalan lebih dekat lagi.”
Sari menatap anaknya. “Kalau niatnya baik, silakan. Tapi ingat, hati itu yang utama.”
Malamnya, Yusuf beristirahat. Bayangan Sari sempat terlintas lagi. Wajahnya, senyumnya, kata-katanya. Tapi dia segera menggeleng.
“Itu ibu calon pacar. Jangan salah langkah. Fokus saja dulu,” katanya pada diri sendiri.
Namun entah kenapa, ada rasa aneh yang tumbuh perlahan. Sesuatu yang bukan sekadar kagum pada kecantikan. Sesuatu yang mulai membuatnya penasaran siapa sebenarnya wanita itu?
(Bersambung)