11 - Debut Anak Kelab

1401 Words
"Jim, lo masih marah soal kemaren? Udah dong marahannya, lama banget sampe sehari." Flora menggoyang-goyangkan tubuh Jimmy yang berbalut seragam SMA dan hoodie putihnya. Mata Jimmy sama sekali tidak melirik ke arah Flora yang duduk di sebelahnya. Suasana hatinya belum sembuh sempurna atas hal kemarin. "Udah sih, Jim! Lo kayak cewek deh kalo ngambek!" Emi memukul gemas punggung Jimmy yang ada di depannya itu. Memang seperti itu urutan bangku di sekopah mereka. Padahal Emi lebih berharap dapat duduk di belakang Flora. "Itu kata Emi loh ya, bukan gue!" Flora mengangkat kedua tangannya sebatas bahu. "Berisik, Em, lo urus aja tuh abang artis lo," oceh Jimmy masih fokus pada game tembak-tembakannya. "Oh iya! Gue ketemu Farel Derama kemaren!" seru Emi begitu antusias sampai seluruh teman sekelasnya melirik kesal padanya. Dirinya meringis sekilas dan kembali fokus pada Flora. "Farel? Seriusan? Duh, gue aja belom pernah ketemu!" Flora histeris sampai memukul-mukul pahanya dengan kepalan tangannya gemas. Dia memang tahu kalau abang sepupunya itu bersahabat dekat dengan Farel. Tetapi untuk bertemu saja sulit sekali. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan. "Ganteng banget buset! Dia anter gue balik juga lagi!" "Hah gila! Hoki banget lo, bambang!" Emi mendongakkan dagunya dengan bangga. Ya memang sebuah kebanggaan dapat bertemu dengan Romy dan Farel dalam satu waktu. Jika orang-orang tahu apa yang terjadi kemarin, mungkin mereka akan menyantet Emi bersamaan karena iri. "Iya dong! Gue gitu loh!" "Gue harus minta abang juga ah entar." "Eh, Sabtu ini lo mau ke kelab gak? Dari awal ulang tahun sampe sekarang lo belom gabung nih sama anak-anak lain!" ajak Emi antusias. Seharusnya Flora senang karena akhirnya kegiatan yang dia impi-impikan sudah di depan mata. Masuk ke kelab, mencari cogan, joget seakan tiada hari lainnya. Flora menginginkan hal itu. Namun kini, ada sesuatu dalam hatinya yang mengganjal. Nama Gera menggema keras dalam kepalanya. Walaupun mereka belum menikah, Flora rasa meminta ijin kepada Gera sudah menjadi hal wajib. "Gue tanya Gera dulu ya?" "Ngapain? Kalo lo mau ke kelab, ya kelab aja. Gera mana peduli lo mau kemana?" ucap Jimmy meliriknya tidak suka. "Ya tapi kan dia calon suami gue, gue harus biasain hal-hal minta ijin kayak gini." "Bagus! Lo udah terlatih jadi calon istri yang baik!" Emi memberikan dua jempolnya lalu bertepuk tangan heboh. "Ck! Ini guru pada kemana sih?! Niat ngajar gak sih mereka?!" Flora dan Emi sama-sama terperanjat kaget mendengar ocehan Jimmy dan gebrakan keras di mejanya. "Jangan sok rajin lo, Jim! Biasa juga bolos!" celetuk teman sekelas lainnya. "Tau lo! Biasa juga nonton mantap-mantap di belakang!" "Woi, Jim! Lo bisa nembak gak sih?! Musuh semua nih di depan!" "Bacot! Tembak ya tembak aja! Gak usah bacot!" seru Jimmy membalas teman-teman lelakinya yang duduk tidak jauh darinya. "Jimmy udah gila kayaknya," bisik Emi yang terdengar jelas oleh Flora dan Jimmy. º~º Flora duduk di pinggir kasur dengan perasaan dilemanya. Ajakan Emi terus terngiang di benaknya tidak nyaman. Flora sangat ingin datang ke kelab, namun sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri dari pria galak macam Gera. Apa pria itu mengijinkannya untuk datang ke tempat-tempat seperti itu? Jika dilihat dari sikap cueknya, mungkin benar kata Jimmy, Gera tidak peduli. Tetapi jika Gera menggunakan statusnya sebagai calon suami, Flora rasa Gera berhak melarangnya. Flora menghela kasar. Kepalanya pening memikirkan masalah kecil yang menjadi besar di situasinya. Jika dia tidak dijodohkan, sudah pasti sekarang Flora mencari-cari baju cantik untuk menarik perhatian cogan. Flora juga akan memikirkan cara minta ijin pada orang tuanya, bukan Gera seperti sekarang. Kalau ijin orang tua sih, Flora yakin diijinkan. Masa muda tidak bisa diulang. Jika bisa diulang, Flora harap dia merindukan masa mudanya, bukan berharap memperbaiki sebuah kesalahan. Sehingga Flora masih hati-hati untuk bertindak yang aneh-aneh. Kecuali dengan Gera, Flora merasa bebas. "Woi! Lo gue panggil daritadi tau!" "Loh, Em? Kok lo bisa ke kamar gue?!" Terlalu masuk ke dalam lamunannya, Flora sampai tidak sadar kalau Emi sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang cemberut. Pasti akan ada omelan lanjutan walau Emi sudah masuk ke kamarnya. "Gue jemput lo ini, kita kan mau ke kelab sebentar lagi! Lo kenapa belom siap sih?" tanya Emi masih menarik urat kesal. "Duh, gue gak tau mau ikut atau nggak," ucap Flora menghela resah. Emi ikut menghela karena tahu apa yang menjadi kendala sahabatnya itu. Dia melangkah maju ikut duduk di sebelah Flora. "Lo udah bilang sama Gera belom?" Flora menggeleng lemah. "Ck! Ya kenapa?" "Ya gue takut! Gue takut dia jadi makin ilfeel sama gue!" "Kenapa harus ilfeel? Dia dari Aussie, Flo, kelab udah jadi rutinitas sehari-harinya kali!" Flora terdiam mendengar ucapan Emi yang memang ada benarnya. Kehidupan luar negeri dan Indonesia pasti berbeda. Apalagi Gera sudah bertahun-tahun ada di sana. Bahkan dengan Bella saja sudah berani berciuman sampai dimasukkan ke story. Jadi tidak menutup kemungkinan kalau setiap minggunya Gera berpesta ria sampai subuh. "Ya udah, gue ikut. Gue gak usah bilang Gera, kan?" "Terserah lo aja gimana." Flora menajamkan tatapannya lurus. "Gak usah! Biar dia tau kalo gue juga bisa bandel!" º~º Bagaikan mimpi menjadi nyata. Langkah Flora melebar saat pintu hitam pekat yang menjadi penghalang antara dirinya dan kelab sudah di depan mata. Inilah yang Flora idam-idamkan sejak dulu. Mengunjungi kelab, bertemu teman banyak, menghabiskan waktu bersama sampai matahari kembali terbit. Suara musik keras kelab yang heboh sudah cukup terdengar. Dengan cepat, Flora merangkul lengan Emi memasuki tempat impian Flora tersebut. Membiarkan Jimmy berjalan di belakang mereka. Begitu pintu terbuka, seluruh mata memandang ketiga pengunjung baru itu. Flora yang tampak dewasa dengan dress hitam lengan buntung bermotif glitter kelab-kelip, Emi yang menggunakan crop top putih lengan panjang dipadu rok hitam ketat di atas lutut, serta Jimmy yang menggunakan kaos putih dibalut denim jacket serta celana jeans hitam panjang. Mungkin tidak ada yang tahu kalau mereka baru saja berusia 17 tahun. Mata Flora melebar penuh minat. Kelab begitu ramai dan padat. Aroma asap rokok sontak memasuki indera penciumannya. Botol-botol alkohol dari yang kecil sampai besar sibuk dibawa oleh para pelayan menuju meja pesanan. Flora tersenyum simpul, tidak si-sia dia menerima tawaran Emi. "Anak-anak lain pada duduk di situ! Kita ke sana ya!" Flora mengangguk saat Emi membisikkannya dengan cukup keras. "Hai guys! Sorry loh lama datengnya!" sapa Emi yang disambut meriah oleh sekumpulan wanita dan pria di meja tersebut. Flora ikut tersenyum dan menyapa ramah beberapa teman sekolahnya yang dia ketahui. Di mejanya sudah tersedia botol-botol minuman dan asbak rokok yang dipenuhi sampahnya. "Akhirnya lo ikut juga, Flo!" Seorang gadis yang Flora tahu sebagai teman sekolahnya itu datang menghampiri. "Iya ya! Udah lama gue tunggu hari ini!" "Pokoknya malem ini lo mesti mabok semabok-maboknya! Kalo lo gak mabok kayak yang lain, entar dianggap curang!" Flora terdiam melongo. Kejam juga aturan yang mereka buat itu. Dia kan baru pertama kali datang ke kelab, haruskah mabuk separah itu? Dari cerita yang biasa Emi dan Jimmy bagikan, banyak sekali orang mabuk yang bertingkah konyol. Flora takut dia menjadi salah satu orang konyol tersebut. "Jangan! Flora masih baru, jangan dibikin mabok!" celetuk Jimmy tidak setuju kepada gadis teman sekolahnya itu. "Ya elah! Justru karena pertama kali, Flora harus nikmatin!" "Nggak! Pokoknya gak boleh!" larang Jimmy yang tidak bisa diganggu gugat. "Lo udah kayak cowoknya aja tau gak! Flora kan udah mau nikah sebentar lagi!" Berita pernikahan Flora memang sudah tersebar luas sampai ke kelas-kelas sebelah. Jadi bukan rahasia lagi. "Udahlah, Jim, gue gak apa-apa kok!" Flora menyadari sesuatu. Di kelab mereka tidak bisa berbicara dengan tenang. Buktinya saja, sejak tadi mereka meninggikan nadanya hanya untuk mengobrol asyik. Jimmy hanya diam memutar matanya malas. Bisa apa dia kalau Flora sudah memutuskan seperti itu? Flora termasuk orang yang keras kepala. Disuruh batal nikah dengan Gera saja tidak mau. Padahal untuk kebaikannya sendiri. Flora dan yang lainnya mengobrol bersama dengan seru. Tidak lupa dengan alkohol mahal yang sudah dipesan oleh ahlinya, cowok dugem yang terkenal dari sekolah mereka. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas, sudah diteguk oleh Flora dengan antusias. Awalnya memang terasa asing dan sulit untuk menelannya. Namun, Flora merasa nyaman dengan sekelilingnya yang sudah pro itu. Serasa ada dorongan yang mendukungnya untuk melakukan hal yang sama. Namun saat gelas keempat akan diminum oleh Flora, sebuah tangan menahannya dan menariknya pergi dari meja Flora. Tentu saja Flora terkejut dan memberontak. Tetapi tenaga orang ini terlalu kuat. "Lo apa-apaan sih?!" seru Flora sembari berusaha melepaskan genggaman orang itu. "Flora! Flora!" Emi dan Jimmy mengejar Flora diantara padatnya orang-orang yang berjoget. "Emi! Jimmy! Tolongin gue!" Flora takut kalau dirinya akan dijahati orang aneh ini. Mungkin saja diculik dan dijual.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD