Gera menghela nafasnya sekilas. Melirik tidak yakin ke arah rumah keluarga calon istrinya itu, Flora Prasaja. Jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Yang sebenarnya sudah sangat telat untuk melakukan kencan malam minggu dengan seseorang.
Jika bukan karena ibunya yang memaksa Gera untuk mengantar kue untuk kedua orang tua Flora, Gera tidak akan menghampiri Flora. Membayangkan bagaimana ekspresi Flora nanti, Gera rasa gadis itu akan berjingkrak bahagia melihatnya. Dan sudah pasti Gera malas melihatnya.
Cukup lama berdiam diri di dalam mobil, Gera akhirnya mematikan mesin mobilnya lalu keluar melangkah menuju rumah Flora. Menekan bel rumah dan menunggu seseorang membukakan pintu padanya. Benar saja, tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
"Ya ampun, Gera! Baru aja Floranya pergi sama teman-temannya," ucap Farah membukakan pintu pada Gera.
"Aku mau anter kue dari mama aja kok, Tante," ucap Gera tertawa sekilas sembari melangkah bersama dengan Farah menuju dalam rumah.
"Wah, mama kamu yang bikin kuenya?" Gera mengangguk lalu tersenyum kembali. "Aduh, gak usah repot-repot, Tante jadi gak enak."
"Mama emang suka banget bikin kue." Farah terkekeh sekilas lalu pamit untuk memotong kue itu dan menyimpannya ke dalam kulkas.
"Loh, ada Gera datang?" Paul muncul dari dapur dengan secangkir berisi kopi hitam panas. Duduk di hadapan Gera dengan santainya.
"Malam, Om."
"Kamu mau cari Flora? Dia gak ijin sama kamu ya?" tanya Paul mengernyitkan dahinya. Mulai kesal dengan tingkah gadisnya itu.
"Gak ada obrolan sih, Om, cuma aku dateng buat anter kue dari mama," jawab Gera tersenyum.
"Wah, padahal Flora bilang dia udah ijin sama kamu. Ck! Gimana sih anak itu."
"Memangnya dia kemana, Om?"
"Gara-gara dia udah umur 17 tahun, dia mau ikutan temen-temennya pergi ke kelab."
Gera hanya menganggukkan kepalanya melihat Paul yang menggeleng mengingat tingkah sang putri. Sejujurnya Gera pikir Flora sudah pernah pergi ke tempat yang seperti itu sebelumnya. Terlihat sikapnya yang begitu aktif dan menyukai berbagai kesenangan, Gera merasa Flora cocok menjadi gadis-gadis yang biasa berkumpul ria di kelab. Tetapi mendengar Flora baru pertama kali, sepertinya akan ada banyak hal yang mengejutkan gadis itu.
"Flora kasih tau dia ke kelab mana?" tanya Gera mulai penasaran.
"Tadi apa ya namanya, kelab The- The apa ya, sayang?" Paul mulai bertanya kepada Farah yang baru saja kembali dari dapur membawa air minum untuk Gera.
"The Road kalau gak salah," sahut Farah mengernyit tidak yakin.
"Aku tau tempat itu, kalau begitu nanti aku jemput Flora aja, Om." Paul tersenyum sumringah.
"Ide bagus itu, Gera!"
º~º
Sudah cukup lama semenjak Gera terakhir pergi ke kelab yang ada di Australia. Ini pertama kalinya Gera menginjakkan kakinya di kelab Indonesia yang jelas berbeda dari apa yang ia ketahui dari negara yang ia tinggali selama 13 tahun. Gera melihat sekitar yang cukup ramai dan padat dengan para pengunjung yang bejoget ria.
Tidak sedikit wanita yang mengedipkan sebelah matanya pada Gera. Bahkan ada juga yang terang-terangan mendekatinya sembari berjoget ria. Tergoda? Ya... hanya sedikit. Mengingat kekasihnya yang ada di Australia, Gera memilih untuk menunduk. Menghindari tatapan para wanita sangar itu. Takut kalau hilang kendali.
Di sini tujuannya hanya satu, mencari Flora. Tentu rencana Gera tidak hanya mencari dan menariknya pulang. Akan ada omelan-omelan sengit yang dia lempar untuk calon istrinya itu. Gera berhenti di tengah kelab lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon gadis yang sedang ia cari itu.
"Gera! Gera!" Suara jeritan yang memanggil namanya di tengah keramaian itu masuk ke telinga Gera. Dia segera menoleh ke arah kanan dan melihat dua orang berlari ke arahnya. Entah harus merasa terbantu atau justru ikutan panik seperti yang dilakukan dua sahabat Flora.
"Flora.... Flora...." Gera mengernyitkan dahinya begitu Emi mengucapkan nama Flora. Namun gadis itu sibuk mengatur nafasnya.
"Flora? Dimana dia?"
"Dia ditarik orang gak dikenal dan sekarang hilang!" jelas Jimmy dengan bahu naik-turun dengan nafas cepatnya.
"Hilang?! Kok bisa?!" Ok, Gera sudah ikutan panik. Dia memiliki tugas langsung dari kedua orang tua Flora dan kini gadis itu menghilang.
"Orangnya aneh banget! Tiba-tiba Flora ditarik pas kita semua lagi duduk di table atas," ucap Emi menunjuk meja di pojok lantai atas.
"Kok- kok bisa?! Argh! Lo sama Emi lanjutin cari, gue juga bakal cari Flora."
"Oke!" sahut Jimmy dan Emi yang berlari ke arah kanan, sementara Gera ke arah kiri.
Sudah gelap, berisik, padat pula. Gera semakin cemas akan terjadi hal-hal buruk kepada Flora. Dipikir-pikir Gera kesal juga dengan Flora yang sok-sokan pergi ke kelab untuk pertama kalinya. Apa gunanya pergi ke kelab saat masih berumur 17 tahun. Hanya karena memiliki KTP belum tentu sikap orang itu sudah dewasa. Sekarang lihat yang terjadi. Berlagak ingin menjadi orang dewasa, malah lagi-lagi menyusahkan Gera.
"Ck! Flora... nyusahin aja sih!" gerutu Gera terus-menerus menelepon Flora. Namun selalu tidak terjawab. Perasaan Gera semakin tidak enak.
Sudah mencari-cari di dalam kelab, Gera akhirnya memutuskan untuk keluar kelab. Masih ramai dengan pengunjung yang baru datang. Gera beralih ke sisi tempat kelab yang cukup gelap. Entah kenapa hatinya membawa dia ke sisi kelab. Yang dikenal sebagai ruangan privasi. Jarang sekali orang berlalu-lalang ke arah sana. Gera sendiri tidak tahu untuk apa ruangan itu dibangun.
Melintasi jalan yang cukup untuk dua mobil parkir, Gera menoleh ke sana-sini. Mencari keberadaan Flora walaupun cukup ngeri membayangkan Flora dibawa kemari ke tempat yang seperti ini. Tetapi Flora dibawa oleh orang asing dan ada kemungkinan orang itu adalah orang jahat.
"Harusnya di sini ada penjaga," keluh Gera menggeleng pelan melihat sekitar.
Begitu sampai di depan pintu ruangan kosong itu, tidak sengaja Gera mendengar suara wanita dan pria dari dalam. Jantungnya semakin cepat berdetak. Gera segera mencoba menelepon Flora dan berharap mendengar nada dering dari dalam ruangan tersebut.
Tring! Tring! Tring!
"Siapa tuh? Cowok lo?" tanya seorang pria.
"Hah? Hm...."
Gera menggertakkan giginya kesal. Benar kalau dering teleponnya terdengar dari dalam ruangan tersebut. Dia yakin kalau Flora yang ditanyai oleh suara pria tersebut. Tanpa banyak basa-basi, Gera menggedor pintu ruangan tersebut.
"Buka sekarang! Buka! Sebelum gue dobrak nih pintu!" teriak Gera dari luar membuat kegaduhan.
Ceklek!
"Siapa lo?"
Pintu terbuka dan menunjukkan seorang pria berpakaian kaos hitam dengan balutan jaket kulit. Telinganya terdapat tindikkan serta tato-tato di sekitar leher dan lengan. Seakan menunjukkan bahwa gue-preman-lo-jangan-macem-macem dari penampilannya. Namun seperti itu tidak menjatuhkan nyali Gera.
"Dimana cewek itu?" Pria itu menyunggingkan senyumnya miring.
"Emangnya lo siapa?"
"Gue suaminya."