13 - Diomelin di Kelab

1009 Words
"Gue suaminya." Penuh percaya diri Gera mengatakannya. Padahal belum resmi dan kalau ada Flora, Gera tidak mungkin menyatakan hal tersebut. Bisa-bisa gadis labil itu berjerit dan berjingkrak bahagi-- "Ya ampun calon suami! Jadi udah terima pernikahan kita?!" Raut serius wajah Gera seketika berubah melongo. Flora mendorong preman songong tadi sembari meloncat beberapa kali di hadapannya. Tidak ada ekspresi takut atau seperti yang Gera bayangkan sebelumnya. Melainkan sebaliknya, Flora tersenyum sangat lebar dengan pipi merona padanya. "Lo ngapain sih di sini?!" bentak Gera menahan malu dan juga merasa jengkel. "Lo sendiri ngapain di sini?" Gera menghela panjang sembari memijat keningnya pelan. Sebenarnya apa yang ada di dalam otak gadis itu. Jelas-jelas dua sahabatnya panik karena dia ditarik oleh orang asing. Dan seharusnya Flora berjoget ria di dalam kelab bersama temannya, bukan di dalam sebuah ruangan aneh bersama preman sok seram ini. "Lo mending balik deh, ayo," pinta Gera pelan karena sudah lelah. Dia membalikkan tubuhnya berjalan malas. "Gera, di dalam ada abang Romy." Flora menarik baju Gera menghentikan langkah pria itu. "Dia suruh temennya buat-" "Lo bisa gak sih gak nyusahin gue sekali aja?!" Flora terkejut tidak percaya melihat Gera membentaknya lebih keras dari biasanya. Bukan lagi tatapan jengkel yang biasa Gera berikan. Namun sebuah tatapan yang sulit untuk Flora jelaskan karena hampir tidak pernah Gera memberikan tatapan tersebut. Flora yakin ada sebuah kelelahan dalam sorot mata calon suaminya itu. "Gera...." "Lo gak bilang gue ke kelab sampe orang tua lo panik! Lo ditarik orang asing sampe dua temen lo panik! Sekarang lo di dalam ruangan aneh sama preman bikin gue panik! Mau lo apa sih sebenernya?!" "Gera! Ger, Flora gak salah." Romy berlari dari dalam ruangan menghampiri Gera dan Flora yang berdiri tidak jauh. "Ini urusan gue, Rom, lo masuk aja." "Lo harus dengerin penjelasan gue dulu, gue yang bawa dia ke sini." Gera melirik tajam ke arah Flora dan Romy secara bergantian. Dia juga melihat ada pria lain yang tampilannya seperti preman songong tadi tengah berdiri di pintu. "Buat apa lo bawa dia ke sini?" "Gue denger dari Emi kalo Flora bakal ke kelab ini buat pertama kalinya, dan gue mau kasih dia sedikit kejutan." Romy menunjuk dua pria berpenampilan preman di pintu itu. "Mereka DJ yang suka tampil di kelab ini, kebetulan temen gue juga." "Apa gunanya lo kenalin dia ke preman itu?" Nada suara Gera masih saja sewot seperti semula. "Mereka DJ, bukan preman, Ger," ucap Flora. "Biar kalau Flora ke sini, mereka tahu dan bisalah dikit-dikit jagain adek gue." "Yang harusnya jagain dia kan gue, bukan temen lo!" "Emang lo mau jagain Flora ke kelab? Lo aja gak suka deket dia!" Gera dan Romy mulai memberikan tatapan tajam satu sama lain. Seakan adu kekuatan sampai salah satu diantara mereka harus mengalihkan pandangan. Namun tidak juga beralih sampai Flora menyentuh lengan Romy. "Abang masuk aja ya, bilang ke Emi juga tentang ini," bujuk Flora dan akhirnya membuat Romy menatapnya. "Ya udah, entar pulang sama Abang aja." "Gak, Flora pulang bareng gue. Orang tuanya yang suruh." Gera menarik lengan Flora lalu membawanya pergi meninggalkan Romy. Sampai gadis itu cukup kewalahan dengan langkah Gera yang cepat dan tiba-tiba. Berani ngeluh? Tentu saja tidak. Flora hanya berdoa agar Gera tidak lama-lama marah dengannya. º~º "Sebenernya gue udah mikir buat minta ijin sama lo, tapi takut." Gera tetap fokus menyetir tanpa mengacuhkan penjelasan takut-takut Flora. Tangannya menumpu di jendela dan satunya untuk menyetir. Rasa kesal karena berdebat dengan Romy masih juga berbekas. Memang sih mereka sahabat kecil, namun pertemanan tidaklah erat jika mulus-mulus saja. Mereka pasti pernah berdebat akan hal kecil sampai besar sesuai bertambahnya umur. Namun cara mereka menyelesaikan setiap masalah membuat mereka lebih baik. "Karena gue juga pikir lo gak bakal peduli, makanya gue nekat aja." Situasi seperti ini bagaikan mimpi buruk untuk Flora. Meyakinkan Gera saat sedang good mood saja sulit, apalagi saat pria itu habis berdebat dengan Romy? Flora tahu masih ada sisa-sisa amarah dari Gera. Dia juga merasa bersalah karena membuat Gera dan dua sahabatnya panik. Begitu juga dengan orang tuanya yang sampai menyuruh Gera menghampirinya ke kelab. Flora tidak berpikir kalau Gera akan tahu dirinya di kelab. Rencananya dia akan memberi tahu Gera besok. Malam ini hanya untuk bersenang-senang. Lagipula, kenapa sih abang Romy pakai tarik dirinya segala tiba-tiba! Senang sih bertemu dua DJ yang katanya terkenal, tetapi Flora tidak kenal juga. Tahu karyanya saja tidak. Kan jadi malu saat ditanya hal-hal mengenai Two Tattoo dan Flora tidak tahu jawabannya. "Kok mama papa bisa tau gue gak ijin sama lo?" "Tanya sendiri aja entar." Flora kembali meneguk air liurnya takut. Sinis sekali nada bicara calon suaminya itu. Semakin lama membuat Flora ikutan jengkel. Memangnya salah dia karena ditarik oleh Romy tiba-tiba! "Kok masih marah sih? Gue kan udah jelasin?" rajuk Flora menggerakan dua bahunya manja. Jangankan sahutan, dilirik saja tidak. "Maaf deh, gue janji gak gitu lagi. Gue bakal kasih tau semua kegiatan gue," lanjut Flora. "Eh! Tapi lo kan gak mau kasih gue kontak lo! Berarti lo juga salah di sini!" Flora tiba-tiba teringat akan hal tersebut. Yes! Flora menemukan kunci untuk menyerang kembali Gera. "Apa-apaan?! Lo kan bisa DM gue!" elak Gera mencari alasan. "Halah! Yang waktu itu aja gak dibales." "Ya gak penting." Flora mengerucutkan bibirnya mengingat bahwa Gera tidak membalas DMnya. Saat itu Flora melihat story Gera tentang makanan dan meminta Gera untuk mengantarnya juga ke rumah. Bayangannya, Gera akan romantis membelikan satu untuknya dan diantar ke rumahnya. Bukankah itu memang aksi normal dari para pria di luar sana? Namun Gera hanya membacanya. "Gue kan juga suka nasi uduk," gerutu Flora yang hanya dibalas gelengan lelah Gera. "Beli sendiri." "Gak romantis! Tadi aja ngaku-ngaku jadi suami!" "Terpaksa! Kalo elo diapa-apain, gue juga kena! Lagian bandel banget sih ke kelab kayak gitu, lo kan masih kecil!" "Apanya yang kecil sih?! Gue udah punya KTP!" "Terus kalo tadi bukan Romy yang narik dan lo diapa-apain, KTP lo bisa terbang nabok si preman?!" Flora kalah debat. Apa yang Gera katakan ada benarnya, walaupun sedikit konyol. Dia kembali mengerucutkan bibirnya dan beralih menatap jendela. "Awas ya kalo ke kelab gak bilang-bilang lagi." "Iya, bawel."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD