Malam di desa itu terasa begitu khidmat. Di dalam kamar sederhana beralaskan kasur kapuk yang empuk, Damar tidak bisa memejamkan mata. Ia berbaring miring, menatap Ziva dan Arka yang sudah terlelap di sampingnya. Tangannya tak berhenti menggenggam jemari Ziva, seolah memastikan bahwa ini bukan sekadar halusinasi. Dua tahun hidup dalam kehampaan membuat Damar posesif. Ia sesekali menciumi kening Daffa yang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka, persis seperti kebiasaan tidurnya sendiri. "Mas... belum tidur?" bisik Ziva yang ternyata terbangun karena merasakan usapan lembut di tangannya. "Mas takut kalau Mas merem, pas bangun kamu hilang lagi, Ziv," jawab Damar jujur dengan suara serak. Ziva tersenyum, menarik tangan Damar dan menempelkannya di pipinya. "Aku nggak akan ke mana-mana

