Siang itu, matahari Jombang bersinar cukup terik. Warung makan Bu Fatimah sedang dalam kondisi yang tenang setelah gelombang pembeli sarapan berlalu. Ziva sibuk merapikan toples kerupuk, sementara Arka—putra kecilnya—duduk di kursi panjang sambil memainkan mobil-mobilan kayu dengan riang. "Bunda, Daffa haus," panggil Arka dengan suara mungilnya. "Iya, Sayang. Bunda ambilkan air dulu ya," jawab Ziva lembut. Ia tidak menyadari sebuah mobil mewah yang kemarin mampir, kini kembali berhenti di depan warung. Pak Adhikara turun dari mobil dengan jantung yang berdebar aneh. Sejak melihat sketsa di dinding kemarin dan mendengar suara anak kecil melalui telepon dengan Damar, ia tidak bisa tidur tenang di hotel. Ia merasa ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang harus ia pastikan. Ziva keluar da

