Pagi itu, Damar kembali ke masjid dengan harapan yang tersisa di ujung jemari. Ia bertanya pada setiap orang yang melintas, bahkan pada takmir masjid yang sedang membersihkan halaman. Namun, karena saat kejadian pingsan suasana sedang ramai oleh ibu-ibu pengajian dari desa tetangga, sang takmir tidak tahu pasti ke mana gadis itu dibawa. "Maaf, Mas. Kemarin memang ramai, tapi saya tidak tahu dibawa ke rumah siapa," jawab takmir itu sopan. Damar berdiri mematung di teras masjid, menggenggam kuncir rambut merah muda itu erat-erat. Ia tidak tahu bahwa hanya beberapa ratus meter di balik rimbunnya pohon bambu, Ziva sedang melangkah gontai menuju praktek bidan desa. Dengan berat hati, Damar kembali ke mobil. "Mas, kita coba cari di desa sebelah. Mungkin dia jalan terus ke arah sana," ajak Alv

