Di bawah reruntuhan balok kayu yang menghitam, petugas menemukan sisa-sisa pakaian hamil berwarna merah yang sebagian besar telah menjadi abu. Namun, yang membuat suasana mendadak senyap adalah genangan cairan pekat di bawahnya, darah yang telah bercampur dengan air pemadam, meresap ke dalam tanah dan debu. Melihat pemandangan itu, pertahanan Damar runtuh total. Oksigen seolah hilang dari paru-parunya. "Nggak... Ziva... nggak mungkin..." Suara Damar melemah, pandangannya mengabur, dan tubuh kokoh itu pun limbung. Sebelum kepalanya menghantam aspal, Davendra dengan sigap menangkap tubuh sahabatnya. "Bawa ke rumah sakit sekarang! Cepat!" perintah Davendra pada anak buahnya dengan wajah yang mengeras menahan emosi. Rumah sakit yang tadinya disiapkan untuk menyambut tangis bayi, kini beruba

