Hidup Kedua Valeri : Peluk agar jiwa ku tak pergr

1004 Words

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai kamar apartemen. Sam terbangun lebih cepat dari biasanya. Matanya langsung tertuju pada sosok Cintia yang masih terlelap di sampingnya. Namun ada yang berbeda—kulitnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis, dan tubuhnya menggigil halus. “Cintia…” Sam memanggil pelan sambil menyentuh keningnya. Panas. Ia panik sejenak, lalu buru-buru meraih selimut dan menutup tubuh gadis itu lebih rapat. “Kamu demam tinggi… harus ke dokter sekarang juga.” Namun begitu mendengar kata dokter, Cintia menggeliat, membuka mata setengah sadar. Tangan mungilnya dengan lemah meraih lengan Sam. “Jangan… aku gak mau ke rumah sakit…” bisiknya parau. “Tapi keadaan kamu—” “Om… aku hanya butuh kamu. Jangan pergi. Tolong peluk aku… aku takut…” Kalimat itu membuat d**a Sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD