Tanda Tangan yang Berbeda Pagi itu udara masih basah oleh sisa hujan malam. Sam terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya langsung menoleh pada sosok Cintia—atau yang ia pikir masih Cintia—yang meringkuk di balik selimut tebal. Wajahnya pucat, keringat dingin masih menempel di pelipisnya, dan sesekali tubuhnya menggigil seolah demam itu menolak untuk pergi. “Kenapa setiap kali aku demam… rasanya seperti ada yang menarik jiwaku,” gumam Valeri dalam hati, menahan keresahan. “Apa aku akan tertukar kembali? Tidak… aku tidak mau kembali ke gelap itu. Aku… aku harus tetap di sini.” Matanya berusaha terbuka, namun kantuk dan lelah mengalahkan kehendak. Tak lama kemudian ia pun terlelap kembali. Sam berdiri di sisi ranjang, menatap wajahnya lama. Ada sesuatu yang berbeda. Ada lembut yang tak

