Sam sengaja memilih sore itu, ketika langit Bogor berubah kelabu dan hawa lembab masih terasa setelah hujan reda. Ia mengendarai mobilnya agak jauh, hingga akhirnya berhenti di sebuah pantai kecil yang dulu selalu menjadi tempat favorit Cintia. Pasirnya lembut, ombaknya tenang, dan di sanalah kenangan masa lalu pernah ditambatkan. Namun kini, Sam datang bersama Valeri. Gadis yang wajahnya mirip, tubuhnya sama, tapi ingatannya seolah kosong. Seakan hidupnya mulai dari titik baru yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Valeri turun dari mobil dengan langkah pelan. Ia menatap laut yang bergelora pelan, lalu menoleh ke arah Sam dengan dahi berkerut. “Untuk apa kita ke sini?” tanyanya lirih, nada suaranya jujur penuh kebingungan. Sam menatapnya lama. Hatinya seperti teriris. Baginya, tempa

