Sam menatap Valeri lama—mata yang tak lagi sepenuhnya sama dengan Cintia yang ia kenal dulu, namun entah kenapa terasa lebih jujur. Di sela deru mesin dan bunyi angin yang menyisir kaca jendela, ia membalas genggaman tangan itu, kuat namun lembut. “Diam,” bisik Sam, menempelkan telunjuknya di bibirnya sendiri untuk menahan kata-kata Valeri yang hampir meluncur. Ia menunduk, pandangannya lembut penuh keyakinan. “Cintia… gadis kecilku,” ucapnya pelan, suaranya serak oleh perasaan. “Aku tahu kamu bukan Cintia yang dulu. Tapi kalau hidup memberimu wujud baru, kalau jiwamu berubah… percayalah—aku masih di sini.” Valeri mengangkat muka, mata basah. Ada getar yang sulit ia tahu harus disebut apa: lega, takut, dan sepotong rasa bersalah yang terus menempel. “Kau… akan tetap mencintaiku meski aku

