Sam duduk berhadapan dengan Ronny di sebuah kafe kecil yang sepi. Sinar lampu kuning temaram jatuh di wajah keduanya, membuat percakapan itu terasa semakin berat. Setelah tadi membicarakan foto-foto dan kenangan Valeri, Sam masih menyimpan rasa penasaran yang tak bisa ditahannya. “Jadi, Ron…” Sam membuka suara pelan, mencondongkan tubuh ke depan. “Aku masih penasaran. Sebenarnya… Valeri itu hilang begitu saja, atau… sudah tiada?” Ronny menatap kosong ke arah jendela, lama sekali sebelum menjawab. Napasnya tersendat, seolah ada beban yang menghimpit d**a. Suasana hening mendadak terasa menusuk. “Aku hentikan pencariannya, Sam,” ucapnya lirih. “Bukan karena aku mau menyerah… tapi karena aku nggak punya apa-apa lagi untuk dijadikan pegangan.” Sam mengernyit. “Hentikan? Maksudnya…?” Ronny

